*jangan pernah berusaha
membaca tulisan ini dengan lisanmu, karena kau tak akan mampu
Namun bacalah dengan
hatimu!
Saat ini kami kembali, saling
berpadu dalam satu
Hubungan itu terbangun kembali
yang telah sekian lama tak ada
komunikasi
Entah bosan, hilang lenyap
keraguan tersingkirkan
Nyawaku nyawamu , dan begitu juga
sebaliknya
Pemilik hati kembali dirundung
bimbang, saat dilema terus menghadang
Perasaan itu kembali muncul tanpa
ampun. Dosa yang begitu dalam
Tentang kehidupan dan
pengkhianatan
Kau khianati hatimu atasnya, orang
tuamu
Namun disisi lain bayang itu masih
menarik jiwamu
Meminta pertanggungan jawab an
kepadamu, katanya
Kau telah tikam dan hancurkan- nya
dari belakang.
Sungguh, begitu berat dilema kali
ini
Seakan tiada akhir,walau maut
sebagai penegak keadilan sekalipun
Hatinya dan hatiku diambang
kehancuran !
Teriakan itu meronta
Masing – masing menunjukan
keunggulannya
Pilih lah aku!
Namun lisanku masih tak mampu
bersua
Entah datang dari mana, kini dia
ada di tanganku. Buah simalakama
Jika dimakan ibuku yang mati
Jika dibuang bapakku yang mati
Padahal ibu dan bapakku dalam satu
Dan sekarang kau harus tentukan
pilihanmu!
Kini kami terseok – seok di jalan
berbatu
Kami? Diriku dan dirinya
Menuju ke area makadam yang penuh
terjal
Dibalut dengan serpihan debu
jalanan, yang tak henti meraup wajah – wajah memelas
Tak ada enaknya jalan itu.
Bahkan sang surya saja tak mampu
menyibakkan kabut tebal di sekitar awan
Hanya gurun pasir dan tebing
terjal yang ada di depan mata
Sesekali kupandang sebuah bunga.
Ya benar
Namun hanya kaktus berduri
Miris. Walau tak ada setitik embun
yang membawa kedamaian abadi, namun
Diriku enggan berpaling, tetap
kuekueh akan jalan yang telah kulalui
Begitu juga dirinya, seakan
yakinkan segala hati yang dirubung
Kata “ akankah ini tantangan, atau
larangan?
Demi hari yang kujalani, hati ini
tetap tegap berdiri
Sayang. Bumi tetaplah berputar
Dan aku harus lanjutkan jalan itu,
memaksa kaki kecil terseret ombak
yang maha dahsyat
kini diriku. Bukan dirinya
telah berada di pangkal jalan
bercabang dua
harus kujatuhkan satu pilihan
susah.
Rumit
Jalan itu mirip. Nyaris tak ada
perbedaan sedikitpun
Seakan refleksi dari sebuah jalan saja, yang berpendar dengan sempurna
akibat ulah sang surya
Aku hanya duduk termangu,
melamunpun tak mampu
Pandangan kosong, tak dapat
pertimbangkan keduanya
Seakan butuh belas kasih waktu
agar dapat tentukan salah satu,
Namun dibalik punggungku terus
menjerit, meronta, dan memaksa
Agar aku cepat tentukan langkah
kaki berikutnya
Tanpa petunjuk, tanpa aba – aba
Jerit itu semakin keras, hingga
berdenging berusaha memecah gendang telingaku
Dipadu berdesirnya nafas akan
darah dingin yang terus mengalir
Sungguh mengerikan
Berusaha melobi mendayu
Dalam kegarangan dia bijaksana,
hingga dalam jerit itu kutangkap ucapan
” Nak, kau harus secepatnya ambil
jalan terbaik
Karena diujungnya telah tersedia
masa keabadian. untukmu !
dan satu lagi kau akan temukan kami di ujung jalan itu………..
dan satu lagi kau akan temukan kami di ujung jalan itu………..
jalan itu semu.
Abaikan ucapan itu, masih terduduk
lesu
Berharap secercah cahaya kan
membawa wahyu tuk menolong aku meninggalkan tempat mengerikan ini !

