Jumat, 04 Januari 2013

Refleksi jalan semu



*jangan pernah berusaha membaca tulisan ini dengan lisanmu, karena kau tak akan mampu
Namun bacalah dengan hatimu!

Saat ini kami kembali, saling berpadu dalam satu
Hubungan itu terbangun kembali
yang telah sekian lama tak ada komunikasi
Entah bosan, hilang lenyap keraguan tersingkirkan
Nyawaku nyawamu , dan begitu juga sebaliknya

Pemilik hati kembali dirundung bimbang, saat dilema terus menghadang
Perasaan itu kembali muncul tanpa ampun. Dosa yang begitu dalam
Tentang kehidupan dan pengkhianatan
Kau khianati hatimu atasnya, orang tuamu
Namun disisi lain bayang itu masih menarik jiwamu
Meminta pertanggungan jawab an kepadamu, katanya
Kau telah tikam dan hancurkan- nya dari belakang.

Sungguh, begitu berat dilema kali ini
Seakan tiada akhir,walau maut sebagai penegak keadilan sekalipun
Hatinya dan hatiku diambang kehancuran !
Teriakan itu meronta
Masing – masing menunjukan keunggulannya
Pilih lah aku!
Namun lisanku masih tak mampu bersua
Entah datang dari mana, kini dia ada di tanganku. Buah simalakama
Jika dimakan ibuku yang mati
Jika dibuang bapakku yang mati
Padahal ibu dan bapakku dalam satu
Dan sekarang kau harus tentukan pilihanmu!

Kini kami terseok – seok di jalan berbatu
Kami? Diriku dan dirinya
Menuju ke area makadam yang penuh terjal
Dibalut dengan serpihan debu jalanan, yang tak henti meraup wajah – wajah memelas
Tak ada enaknya jalan itu.
Bahkan sang surya saja tak mampu menyibakkan kabut tebal di sekitar awan
Hanya gurun pasir dan tebing terjal yang ada di depan mata
Sesekali kupandang sebuah bunga. Ya benar
Namun hanya kaktus berduri

Miris. Walau tak ada setitik embun yang membawa kedamaian abadi, namun
Diriku enggan berpaling, tetap kuekueh akan jalan yang telah kulalui
Begitu juga dirinya, seakan yakinkan segala hati yang dirubung
Kata “ akankah ini tantangan, atau larangan?
Demi hari yang kujalani, hati ini tetap tegap berdiri
Sayang. Bumi tetaplah berputar
Dan aku harus lanjutkan jalan itu,
memaksa kaki kecil terseret ombak yang maha dahsyat
kini diriku. Bukan dirinya
telah berada di pangkal jalan bercabang dua
harus kujatuhkan satu pilihan
susah.
Rumit
Jalan itu mirip. Nyaris tak ada perbedaan sedikitpun
Seakan refleksi dari sebuah  jalan saja, yang berpendar dengan sempurna akibat ulah sang surya
Aku hanya duduk termangu, melamunpun tak mampu
Pandangan kosong, tak dapat pertimbangkan keduanya
Seakan butuh belas kasih waktu agar dapat tentukan salah satu,
Namun dibalik punggungku terus menjerit, meronta, dan memaksa
Agar aku cepat tentukan langkah kaki berikutnya
Tanpa petunjuk, tanpa aba – aba
Jerit itu semakin keras, hingga berdenging berusaha memecah gendang telingaku
Dipadu berdesirnya nafas akan darah dingin yang terus mengalir
Sungguh mengerikan
Berusaha melobi mendayu
Dalam kegarangan dia bijaksana, hingga dalam jerit itu kutangkap ucapan
” Nak, kau harus secepatnya ambil jalan terbaik
Karena diujungnya telah tersedia masa keabadian. untukmu !
dan satu lagi kau akan temukan kami di ujung jalan itu………..
jalan itu semu.
Abaikan ucapan itu, masih terduduk lesu

Berharap secercah cahaya kan membawa wahyu tuk menolong aku meninggalkan tempat mengerikan ini !







kecewa


Bila tiada mendalam cinta dan kerinduan
Takkan terllalu dalam luka yang kurasakan….

Kecewa.