Rabu, 09 April 2014

Donyane Wong Culika



Donyane Wong Culika
Oleh: suparto Brata- kode buku 808.83 BRA d C2. Perpus fssr uns
Cetakan pertama. X+537hlm;16,5x21cm


Buku ini memaparkan sebuah realita kehidupan berbagai kalangan status berbeda yang terjadi di jaman PKI. Diceritakan dengan bahasa jawa baru yang khas dan mudah dipahami. Dalam buku setebal ini,menyuguhkan cerita yang dibagi menjadi 3 bab besar yaitu, Kasminta, Tukinem, dan Pratinah. Tiap kali berada di akhir cerita setiap babnya seperti merasakan cerita sudah kelar,tapi sebelumnya masih berlanjut hingga tembar terakhir sebelum biodata pengarang. Ini hanya secara garis besar, untuk kelengkapan silahkan baca novelnya

1.    Kasminta
Hlm 1-115

Diawali dari kepulangan kasmin yang pergi sejak lama meninggalkan tempat tinggalnya mengembara entah kemana. Kasak kusuk yang ada di masyarakat setempat dia pergi ke Surabaya,tapi ada pula yang bilang dia hanya pergi dekat-dekat saja yakni di Semarang tapi setalah dia menyerahkan KTP saat lapor ke kelurahan bertulis asal kasmin dari Blitar.
Menumpang dhokar menuju bangkuning ke rumah Nini Sali. Ketika mengetuk pintu rumah, tidak mendapati Nini Sali tetapi seorang anak kecil yang keadaannya memprihatinkan namanya Painem. Yang juga mengaku anak angkat Nini Sali seperti Kasmin. Dari cerita Nini Sali Painem adalah anak dari seorang PKI yang kedua orang tuanya telah mati dan Painem dipungut sejak dia masih bayi.
Melihat rumah Nini Sali yang hanya gubuk kecil,bahkan sejak 6 tahun/bulan lalu. Kesedihan kasmin tersulut ketika Nini Sali menceritakan perihal hidupnya yang serba kesusahan. Gubuk beserta tanah pekarangan sejak Kaki Sali meninggal bukan milik mereka lagi, semuanya telah dibeli oleh Den Darmin,tapi masih mengijinkan gubuk kecil ditempati oleh Nini Sali sepanjang hidupnya.
Dengan tekad yang kuat, Kasmin mengunungi rumah Den Darmin,yang kini telah ganti pemilik setelah ditinggalnya mati,yaitu Den Mintarti anak perempuannya yang tinggal sendirian di rumah cekli dalam keadaan kurang waras. Kasmin ingin meminta ijin dibolehkan menggarap tanah pekarangan yang dulu miliknya. Namun ditengah perbincangan Den Mintarti-yang tidak waras itu menangis dan teriak-teriak mengingat bapaknya yang mati dikeroyok orang PKI di tengah sawahnya.
Sukardi-Guru kardi,  guru olahraganya dulu yang juga orang kepercayaan Den Darmin tiba-tiba datang dan mengajak Kasmin rembug diluar rumah,tapat dibawah pohon pepaya. Dia mengijinkan keinginan kasmin.
Seperti janji Sukardi yang akan membantu Kasmin dia menyuruh kasmin mencari batu bata untuk pembangunan gedung sedkolah SD. Namun seperti dugaan kasmin ternyata Sukardi tidak lain hanya ingin menjebak kasmin,dua orang yang ada dalam pergolakan batin. Kasmin sangat membenci kardi bekas gurunnya yang dulu telah mengeluarkan Kasmin dari sekolahan dan akhirnya dia ngumbara  entah kemana, sementara Kardi juga sangguh membenci Kasmin bekas muridnya yang paling nakal,suka mempengaruhi teman-teman sekelasnya untuk tidak mau olahraga ke ara-ara,yang menyembunyikan banyak buku-buku komunis di pyan rumahnya saat rumah itu dijebol dibuat lebih kecil ketika sudah terbeli oelh Den Darmin, dan masih banyak lagi kenakalan yang dilakukan Kasmin. Dendam masih membara dalam hati kedua insane manusia.

2.    Tukinem
hlm 116-252

Adalah istri Sukardi yang juga sangat dibenci Kasmin. Tukinem sendiri juga membenci perangai si Kasmin, yang namanya telah ditambah-ta setelah sekembalinya ke bangkuning setelah berkelana lama mungkin nama itu diganti setelah dia mendalami ilmu komunisnya. Tukinem berbadan seperti laki-laki, sejak pernikahannya hingga sekarang dia dan Sukardi belum juga dikaruniai momongan.
Tukinem sangat membenci orang PKI yang dulunya selalu memaksa semua petani untuk membeli pupuk ZA yang diketuai oleh Susmanta. Jika tidak mau membeli pupuk maka sawah akan disita dan kemudian dibagi rata sehingga tidak ada satu orangpun yang tidak memiliki sawah.
Suatu ketika setelah Den Darmin dikeroyok,dibunuh hingga ususnya terburai di sawahnya sendiri, Susmanto juga dikabarkan telah dibunuh BTI tapi hingga sekarng belum juga ditemukan mayatnya. Tidak ada lagi pemimpin baris yang setiap malam keliling kampong dengan misi pembasmian,desa menjadi sepi.
Suatu ketika Tukinem menunggu di tokonya, tiba-tiba kardi pulang dengan tergesa-gesa membiarkan sepeda nya ambruk, dengan pakaian yang awut-awutan seperti akan dilepas atau akan dikenakan. Wajahnya pucat,kebingungan dia bilang baru saja membunuh Den Mintarti. Tetapi Tukinem tidak percaya, tidak mungkin Kardi menghamili kemudian membunuh Den Mintarti,dia malah menuduh Kasmin yang sebelumnya Den Mintarti menyebut-nyebut nama Kasmin sebagai Sus-Susmanta orang yang paling dia kasihi.
Disisi lain, Kasminta yang mengetahui Den Mintarti telah hamil, dia menyebarkan fitnah bahwa orang terdekat-Sukardi lah yang menghamili,lewat para kusir dhokar dan merambah kesemua orang.
Tapi pada akhirnya, Tukinemlah yeng berhasil mengumpulkan masa dan semuanya mau diajak mengusir Kasmin yang dianggap jadi tersangka dalam kasus itu. Dia memanggil Letnan Sanawi untuk meringkus Kasmin,sementara Sukardi masih saja bersembunyi dan mengurung diri di dalam kamar. Ketika kasmin telah ditangkap,Tukinem teriak memanggil Kardi agar segera membukakan pintu kamar,ternyata tidak ada jawaban. Pintu di dobrak,Tukinem melangkah masuk dan hanya bisa mendongak tanpa kata. Sukardi menggantung di atas blandar  menggunakan selembar selendang sampur,ditemukan sebuah kursi yang terguling dibawah kakinya. Kini raga Kardi masih ada, tidak pergi kemana-mana, namun hanya tanpa nyawa,nyawanya telah pergi untuk selama-lamanya.

3.    Pratinah
Hlm 253-535

Suatu ketika Pratinah yang telah pergi merantau ke Kota Jakarta pulang ke kampong halamannya. Dia menceritakan kembali zaman ketika dia masih menjadi murid Sukardi. Pratinah patah hati,ketika mengetahui bahwa guru baru bernama Sukardi yang sangat ia cintai telah melepas masa lajangnya dengan Bu Tukinem yang juga seorang guru.
Melihat bekas gurunya itu, masih belum mempunyai momongan dia mengira bahwa tukinemlah yang gabug tidak dapat memberikan keterunan untuk Guru Kardi. Ternyata kecintaannya kepada guru Kardi masih saja menggelora. Dia ingin segera saresmi. Dia menemukan ide cemerlang, menunggu Kardi yang selalu menengok Den Mintarti di rumahnya. Rumah yang cekli dan hanya dihuni oleh satu orang tidak waras pula.
Hari pertama dia gagal sebab saat naik dokar, ternyata garapsari yang pertama, tapi kesempatan datang berulang. Pratinah tidak putus asa, dia datang sebelum Kardi ada dirumah cekli. Pratinah memberikan minuman yang dicampur obat tidur kepada Den Mintarti lalu dibimbingnya masuk kamar dan tertidur pulas.
Ketika kardi datang, pratinah berlagak seperti biasa dia dikota besar-menjelma laiknya tunasusila professional. Harusnya Kardi tidak takut sebab hal itu tidak hanya pratinah lakukan pada dirinya,tapi Kardi masih saja tidak mau menurut. Lalu dengan paksaan akhirnya dia mau melepas pakaian yang dikenakan. Satu persatu dan dibaringkan tubuh pratinah dikursi panjang. Seketik atertawa terbahak-bahak melihat Kardi yang tidak kuasa. Ternyata sekarang dia tahu penyebab utama satu-satunya Tukinem tidak memiliki anak. Karena aibnya terbongkar, air mukanya merah padam. Orang yang tertawa itu akhirnya didekap,dicekik hingga tawa itu melemah, tubuhnya ikut melemah hingga nyawa dalam tubuhnya melayang dan hilang. tanpa nyawa,tanpa busana,nglegena,mati nistha kesiya-siya.