Kamis, 20 Juni 2013

PERBEDAAN F. KEDOKTERAN & F. SASTRA

sebuah subjudul dari :
Supriyono, Imam 2008. Guru Goblok ketemu Murid Goblok.Surabaya : SNF Consulting.

untuk bapak ibu guru di sekolah

buku ini perlu juga dibaca oleh anda para bapak dan ibu guru. bagi anda,buku ini bisa menjadi perenungan ulang terhadap proses pendidikan. proses pendidikan dimana anda terlibat secara aktif dalam pekerjaan keseharian.
sebagai pembuka renungan coba bayangkan situasi berikut ini. dalam sebuah kesempatan, terkumpullah 100 wisudawan fakultas sastra yang diambil dari berbagai fakultas sastra dari berbagai perguruan tinggi di tanah air secara acak. kepada mereka yang telah menjalani proses pendidikan hingga jenjang sarjana ini diminta untuk menjawab pertanyaan sederhana : siapakah yang telah menghasilkan karya sastra yang diterima pasar ?
pada kesempatan lain terkumpullah 100 wisudawan dokter yang juga diambil secara acak dari seluruh tanah air. kepada meraka juga diminta untuk menjawab pertanyaan sederhana : siapakah yang sudah bisa mengobati pasien dan sembuh?
coba anda pikirkan. berapa orang wisudawan fakultas sastra yang angkat tangan? di berbagai kesempatan situasi ini saya gambarkan dan tanyakan, jawaban hampir seragam. tidak sampai 10% wisudawan fakultas sastra yang mampu membuat karya sastra yang diterima pasar.
selanjutnya , coba anda pikirkan. berapa orang dari 100 wisudawan dokter yang mampu mengobati pasien dan sembuh? pada berbagai kesempatan situasi ini saya gambarkan dan tanyakan , jawaban menggembirakan : 100% wisudawan dokter mampu mengobati pasien dan sembuh.
pertanyaan selanjutnya, apa perbedaan proses pendidikan di fakultas sastra dan fakultas kedokteran? tidak lain adalah masalah praktek. setiap mahasiswa fakultas kedokteran tidakmungkin lulus kecuali telah mempraktekan ilmu kedokterannya kepada ratusan bahkan ribuan orang. sebaliknya , tidak banyak mahasiswa fakultas sstra yang mempraktekan ilmu kesastraannya.


maka janagan heran kalau kemudian hasilnya pun berbeda. sedikit sekali alumni fakultas satra yang mampu menghasilkan karya sastra.
kalau contoh diatas adalah fakultas sastra, bukan berarti menjelekkan  fakultas sastra . ini semata – mata contoh saja. fakultas- fakultas yang model pembelajarannya tidak seperti fakultas kedokteran juga kuran lebih begitu. coba renungkan , berapa % alumni fakultas ekonomi jurusan menejemen yang ketika diwisuda sudah mampu menjadi menejer?
ini menjadi renungan bagi bapak ibu guru. renungan bagaimana memberikan proses pedidikan dan pembelajaran yang tepat bagi para siswa. renungan bahwa proses pembelajaran untuk menjadi seorang yang ahli jauh lebih panjang dan rumit dari pada pembelajaran untuk hanya sekedar tahu secara teori.
mengapa bisa dikatakan 100% wisudawan dokter bisa mengobati orang sakit? tentu saja adalah karena model pembelajarannya yang selalu menekankan. bahkan prakteknya pun bukan sekali dua kali. prakteknya ribuan kali dengan bimbingan para dokter senior dengan rentang waktu yang panjang. rata – rata masa tempuh seorang mahasaiswa kedokteran sampai wisuda menjadi dokter lebih panjang dari pada fakultas lain.
belajar untuk mahir secara praktek akan lebih menjadikan seorang merasa bodoh. lebih menjadikan murid – murid anda merasa goblok dari pada belajar hanya sekedar teori. pembelajaran untuk keahlian dan kemahiran menuntut suatu yang lebih sempurna. tentu saja dengan jangka waktu yang amat sangat panjang. the long live education.