Selasa, 26 November 2013

gamelan jawa


Sejarah Gamelan Jawa dan Asal Usulnya – Salah satu kekayaan budaya Indonesia yang terkenal dalam bidang musik adalah seni gamelan. Gamelan banyak ditemui di berbagai daerah Indonesia. Musik gamelan terdapat di Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Tentu saja, varian alat musik yang digunakan berbeda. Baik nama maupun bentuk. Di Jawa, gamelan disebut dengan istilah gong. Terutama, sejak abad ke-18. Gamelan jawa berasal dari bahasa Jawa, gamel, yang artinya adalah alat musik yang dipukul dan ditabuh. Terbuat dari kayu dan gangsa, sejenis logam yang dicampur tembaga atau timah dan rejasa. Alat musik pengiring instrumen gamelan terdiri dari kendang, bonang, panerus, gender, gambang, suling, siter, clempung, slenthem, demung, saron, kenong, kethuk, japan, kempyang, kempul, peking, dan gong.

Asal Mula Gamelan Jawa

Awalnya, alat musik instrumen gamelan dibuat berdasarkan relief yang ada dalam Candi Borobudur pada abad ke-8. Dalam relief di candi tersebut, terdapat beberapa alat musik yang terdiri dari kendang, suling bambu, kecapi, dawai yang digesek dan dipetik, serta lonceng.

Sejak itu, alat musik tersebut dijadikan sebagai alat musik dalam alunan musik gamelan jawa. Alat musik yang terdapat di relief Candi Borobudur tersebut digunakan untuk memainkan gamelan. Pada masa pengaruh budaya Hindu-Budha berkembang di Kerajaan Majapahit, gamelan diperkenalkan pada masyarakat Jawa di Kerajaan Majapahit.


Konon, menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan itu sendiri diciptakan oleh Sang Hyang Guru Era Saka, sebagai dewa yang dulu menguasai seluruh tanah Jawa. Sang dewa inilah yang menciptakan alat musik gong, yang digunakan untuk memanggil para dewa.
Alunan musik gamelan jawa di daerah Jawa sendiri disebut karawitan. Karawitan adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan alunan musik gamelan yang halus. Seni karawitan yang menggunakan instrumen gamelan terdapat pada seni tari dan seni suara khas Jawa, yaitu sebagai berikut.

1. Seni suara terdiri dari sinden, bawa, gerong, sendon, dan celuk.
2. Seni pedalangan terdiri dari wayang kulit, wayang golek, wayang gedog, wayang klithik, wayang beber, wayang suluh, dan wayang wahyu.
3. Seni tari terdiri dari tari srimpi, bedayan, golek, wireng, dan tari pethilan.

Seni gamelan Jawa tidak hanya dimainkan untuk mengiringi seni suara, seni tari, dan atraksi wayang. Saat diadakan acara resmi kerajaan di keraton, digunakan alunan musik gamelan sebagai pengiring. Terutama, jika ada anggota keraton yang melangsungkan pernikahan tradisi Jawa. Masyarakat Jawa pun menggunakan alunan musik gamelan ketika mengadakan resepsi pernikahan.

pelengkap :
http://indodaya.blogspot.com/2013/02/sejarah-gamelan-jawa-dan-asal-usulnya.html
http://indodaya.blogspot.com/2013/02/sejarah-gamelan-jawa-dan-asal-usulnya.html
http://goblokku.wordpress.com/2011/09/14/gamelan-jawa-tengah-dan-yogyakarta/



Kajian novel panglipur wuyng

Sinopsis Novel Berjudul “Wurung Dadi Ir”
Karya: Lien Skd

“Wiwiting tresno jalaran soko kulino”sebuah pepatah jawa yang telah tenar dikalangan khalayak muda. Pepatah ini kurang lebih memiliki arti bahwa sebuah cinta dan kasih saying mampu tercipta ketika adanya suatu kebersamaan yang terjadi secara terus-menerus. Hal ini juga dialami oleh kusno dan Wulan yang menjadi tokoh focus dalam novel panglipur wuyung ini.
Pertemanan yang dijalani oleh dua insan ini telah terjalin sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga SMA. kini mereka baru saja merampungkan ujian akhir sekolah dan menunggu pengumuman kelulusan. Ditengah kebingungan yang menyeruak di dalam pikiran Kusno tentang masa depan yang akan dia jalani, dia disibukkan dengan acara perpisahan dan kusno sebagai panitianya. Sebelum berangkat ke acara perpisahan itu, Wulan mampir kerumah Kusno untuk memberikan titipan dri ibunya untuk Kusno tapi dia tidak berhasil menemui Kusno sebab dia telah mempersiapankan acara perpisahan sejak pagi tadi. Tidak berapa lama setelah wulan dating, acara perpisahan dimulai. Serangkaian acara berjalan lancer, di dalam acara inti nama kusno dipanggil. Dia tampil diatas panggung guna mendapat penghargaan sebagai lulusan dengan nilai terbaik di sekolahnya. Sementara itu, Wulan justru dinyatakan tidak lulus. Wulan pun menerima dengan lapang dada sebab masih 3 hari melaksanakan ujian akhir ia sudah jatuh sakit.
Dalam meraih masa depannya Kusno memiliki keinginan untuk kuliah di ITB, tanpa pamit Wulan dia berniat berangkat ke Bandung. Ketika akan melangkah keluar rumah ternyata Wulan datamg konflik pun terjadi. Wulan marah-marah, namun setelahsemua tenang Kusno memberikan cincin (warisan dari neneknya) yang baru saja diberi oleh ibunya guna bekal bepergian. Katanya cincin turun-temurun itu boleh diberikan kepada oran yang dia sayang. setelah kusno menyematkan cincin itu kepda wulan, dengan berat hati akhirnya wulan mengiklaskan Kusno pergi ke Bndung bersama Saptana.
Ketika sampai di Bandung ternyata begitu ramai pendaftar. Setelah beberapa hari, ujian SNMPTN berlangsung. Menunggu pengumuman dua minggu kedepan, merupakan waktu cukup lama. Setelah mengikuti Saptana daftar ke beberpa universitas disana, akhirnya Kusno memutuskan untuk pulang ke kampungnya.

Ketika kusno pulang ke rumah, Wulan yang sedari kecil sudh terbiasa berkunjung ke rumah kusno kini dating lagi. Dia kembali merengek kepada Kusno, bahkan kali ini dia ingin ikut Kusno ke Bandung. Dengan sikap Wuln yang seperti itu,dan saking sungkannya ibu Kusno juga meminta agar Kusno mau mengikutsertakan Wulan dalam perginya. Dengan pertimbangan yang matang, setelah Wulan pulang Kusno pamit untuk segera berangkat saat itu juga. Walaupun sebenrnya dia mampir ke rumah Rijan guna meminta bantuan dana. Rijan puny aide cemerlang yakni menjual buku-buku dan lukisan Kusno.
Setelah sampai di Bandung, Di pengumuman peneriman mahasiswa baru nama Kusno tiada terpajang. Dari ketiga universitas yang telah ia daftari,UNDIP, ITB,dan GAMA (sekarang UGM) Kusno tidak diterima. Kusno sempat menangis meratapi nasib malangnya ini. Tetapi akhirnya dia sadar, andai saja dia diterima menjadi mahasiswa pastilah akan kesulitan memenuhi biaya registrasi dan SPP tiap semesternya,apalagi dnegan keluarga Kusno yang tergolong tidak mampu serta anak yatim. Dengan itu, Kusno tidak puang lagi ke kampong halamannya namun dia hanya memberi kabar pada ibunya lewat surat yang mengabarkan Kusno akan merantau dulu.
Sementara Wulan yang telah ditinggal pergi oleh Kusno, hanya bias mengenang dengan cincin yang telah melingkar di jari manisnya. walaupun ada yang dating melamarnya, Wulan menolak dan tetap menanti Kusno hingga kembali. katanya : “ aku kasep tresna karo Mas Kusno. Aku ora bias nuruti pandjalukmu. Ija sanadjan saiki ora genah nengndi papan parane. Mung bae aku duwe kajakinan jen deweke bakal timbul”.
Unsur intrinsik

1. Tema
Tema merupakan persoalan pokok yang dibawakan pengarang dalam sebuah cerita atau novel. Sehingga darinya dapat ditarik sebuah alur pandangan dan cita-cita pengarang dalam karya sastranya. Tema novel sangat lazim menjadi permasalahan utama dan seringkali persoalan yang muncul berkaitan dengannya. Dalam Novel ini, mengangkat tema panglipur wuyung, yaitu cerita yang mempunyai sifat menghibur hati yang sedang dirundung lara. Dalam menggambarkan peristiwa-peristiwa kehidupan pelakunya penulis menggunakan bahasa yang menyentuh perasaan pembaca, sehingga lebih terbuka kepada siapa saja untuk mengungkapkan isi ceritanya

2. Alur/plot
Alur merupakan urutan kejadian dalam sebuah cerita yang disampaikan pada novel. Berbagai kejadian itu terhubung dengan adanya sebab akibat, peristiwa atau permasalahan yang memunculkan masalah baru. Peristiwa itu digambarkan melalui tingkah laku, perbuatan, atau perilaku tokoh-tokoh dalam cerita. Novel ini memiliki Alur maju.

3. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang dibawakan oleh para pengarang novel berbeda satu dengan lainnya. Penyebabnya bisa beragam, semisal kesukaan dari pembuat novel, target pembaca, seting latar, tokoh-tokoh yang dimainkan dan lain sebagainya.


4. Sudut Pandang/ point of view
Sudut pandang sangat menentukan karakteristik dari novel, umumnya sudut pandang terkait erat dengan para tokoh yang dihadirkan. Kadang kala untuk menilai sebuah sudut pandang sebuah cerita bisa dinilai dari beberapa tulisan awal. Karena dari situlah cerita akan dibangun dan kemudian dikembangkan. Novel ini bersudut pandang pengarang sebagai orang ketiga sebagai peninjau, yaitu seolah – olah ia seperti melihat dan mendengar keadaan yang sebenarnya.
5. Latar / setting
Latar disebut juga setting adalah tempat ditampilkammya peristiwa itu terjadi.
Macam-macam Latar
a)   Latar Tempat
Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Penggambaran latar tempat ini hendaklah tidak bertentangan dengan realita tempat yang bersangkutan, hingga pembaca (terutama yang mengenal tempat tersebut) menjadi tidak yakin dengan apa yang kita sampaikan.
b)   Latar Waktu
Latar Waktu menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu terjadi. Dalam sebuah cerita sejarah, hal ini penting diperhatikan. Sebab waktu yang tidak konsisten akan menyebabkan rancunya sejarah itu sendiri. Latar waktu juga meliputi lamanya proses penceritaan
1)    Latar dalam novel ini sebagai berikut                      :
2)    Dapur rumah Wulan – saat wulan dating dari sekolah         :       
3)    Di ruang tengah/ruang makan                                 :
4)    Acara perpisahan sekolah                                       :
5)    Di kampus ITB                                                                  :
6. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sifat para tokoh itu. Penokohan dapat digambarkan melalui dialog antartokoh, tanggapan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau pikiran-pikiran tokoh. Melalui penokohan, dapat diketahui bahwa karakter tokoh adalah seorang yang baik, jahat, atau bertanggung jawab.
1)        Tokoh dan penokohan dalam novel ini adalah :
2)        Wulan
3)        Kusno Aditya
4)        Bu Soma
5)        Bapaknya Wulan
6)        Ibu Kusno
7)        Herma
8)        Saptana
9)        Rijan
10)     Tridjata
11)     Asti
7. Amanat
Amanat atau tujuan pengarang yang disampaikan kepada pembaca melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan oleh pengarang baik secara langsung maupun tidak langsung. Artinya amanat yang disampaikan langsung apabila amanat tersebut tersurat dalam karya sastra. Sedangkan amanat yang disampaikan secara tidak langsung, apabila amanat tersebut tersirat dalam karya sastra.
Amanat yang terkandung dalam novel ini antara lain :