Meja Bersila
Pada
dasarnya sebuah meja berfungsi sebagai tempat meletakkan barang – barang
terhormat . Namun bagaimana jadinya jika digunakan untuk penopang pantat? Melipat
kaki menyilang, duduk bersila di atas bidang datar tanpa menyadari ada benda
yang lebih lazim diletakkan daripada sekedar pantat. Begitu pula dengan budaya informasi
dan komunikasi di negeri tercinta ini, melalui media massa bernama TV,
masyarakat dari segala lapisan dapat menyaksikan tayangan yang diangkat, yang
semakin hari semakin riuh menampilkan eksistensi , membaurkan fungsi TV yang sesungguhnya. tayangan – tayangan yang
semakin memprihatinkan.
tidak
dapat dipungkiri bahwa perkembangan media elektronik, secara kuantitas stasiun
TV di tanah air kini sudah lebih dari cukup. Belum lagi kalau kita mengikuti
berkembangan tv lokal, tv kabel, tv satelit maka akan dapatkan stasiun TV lebih
banyak lagi. Namun dengan banyaknya stasiun TV swasta yang telah terpenuhi
secara kuantitas seharusnya tumbuh kualitas, tapi pada kenyataannya tidak
begitu. tayangan TV swasta masih terjebak dengan logika keseragaman (
homogenitas) mata acara. berlomba – lomba menayangkan hiburan diantaranya
bernuansa kriminalitas, telenovela, sinetron picisan,serial romantika India,
dan adu jotos tiap malam atau minggu pagi. Vulgarisasi pengemasan acara
bernuansa seks yang sering diberi embel – embel “ 17 tahun keatas” ini bahkan
ada kesan ingin menunjukkan secara gampangan bahwa “seks itu bukan sesuatu yang
tabu”. Padahal , yang terjadi acara – acara seperti itu malah bisa memerosotkan
moral generasai muda.
Dunia
hiburan yang berkiprah di media massa khususnya TV, para kawula dari berbagai
kalangan disuguhi bahkan dicekoki tontonan yang habis – habisan meniru gaya
hidup orang barat. Menjamurnya girlband dan boyband luar negeri, bahkan tidak
jarang dijadikan kiblat dan panutan para kawula muda kita. Benarkah ajang
kreativitas? Coba di renungkan kembali! Akankah hadir tontonan eksotis atau malah
erotis? Kita ganti canal sejenak, menonton acara kriminalitas. Seorang bapak
tega menghamili anak kandungnya sebanyak 3x, lalu dibunuh, tidak berhenti
disitu saja anak – anak belum cukup usia bahkan berani tanpa malu – malu
menggauli teman perempuannya ramai – ramai di dalam kelas, ada lagi seorang
kepala sekolah melakukan tindak pelecehan seks kepada siswanya padahal itu
sekolah MAN. Apakah ini yang disebut hiburan? Sungguh harus ada penanganan
sikap bijak dalam setiap info yang di dapatkan. nuwun >
... *Eia Isasasmi Ta


