minggu,
12 mei ‘13
TENTANG
SEGELAS AIR
Hatiku mengecil, nyaliku
menciut. semakin kecil,semakin imut. ya begitulah perasaan hatiku diantara
kalian semua wahai kawanku. bersenjatakan pucuk pena, kau mampu mengajak imaji
menari diatas kertas yang bersih tanpa coretan tinta, yang kemudian kau ukir
laiknya sebuah batik kawung tak begitu rumit namun begitu menarik. sementara
aku? heh bagaimana ini. ngomongpun tak satu kata mampu meluncur bebas keluar
dari lisanku. ada bahasa yang terpasung dalam seuntai jiwa. itulah jiwa yang
bersemayam dalam raga. aku terdiam kaku memandang. bukan dipojok ruangan ,
melainkan center pandangan, tepat di tengah – tengah kawanku. membisu dan masih
tegang disitu.
Tak sesulit yang aku pikir
sebelumnya, atau tidak semudah yang mengendap dipundakku . entahlah. yang aku
tahu sekarang aku mampu.
Hanya bermodal imajinasi
bertipe spontanitas , memandang sebuah gelas kemasan mineral bertutup warna
biru tua. melahirkan 3 sampai 4 kalimat bermotif standar. sejenak dan akhirnya
tugas keluar dari kotak. inilah hasilku .. heheh
dari yang
standar saja..
Kering
sedari tadi melanda kerongkonganku. aku terduduk lesu dipojok ruangan yang
penat akan udara dan suasana. namun ketika seorang hadirdan membawa sebuah
cawan berisi bening mineral, hatiku melunjak gembira. berharap air itu
dihadirkan untukku, walau itu belum tentu.
kemudian
keluar dari kotak yang rada jauh..
Seorang
lelaki paruh baya terduduk lemah disampingku, tangannya memegang sebuah gelas
kemasan berisi bening cairan mineral. andaikan gelas itu dimasuki seekor ikan
mas koki ,jadilah sebuah aquarium mini yang cantik. namun sontak kejadian aneh
mengejutkan batinku. suster mengahampiri lelaki itu, mengambil kemasan yang
kemudian benda itu ditancapakan jarum di ujung sisinya. dihubungkan dengan
infuse pasien yang tergeletak sekarat di depanku. ternyata gelas itu berisi
darah segar baru 5 menit didonorkan lelaki disampingku.
perlu
mengucap syukur alhamdullilah aku mampu melewatinya. walau tak kurasa hal ini
yang terindah, hanya berani mencuatkan keraguan pun kuhargai. aku senang aku
menang. melawan gundah yang terkekang dan tenang.
katanya “ kau ini , apa yang
mempersulit dirimu menuang mineral ke dalam cawan? lha itu bisa… kau menipu ya?
berusa mendekatkan janggut ke leher. mendekat dan semakin erat.
berusa mendekatkan janggut ke leher. mendekat dan semakin erat.
hahaha ( tawa kemenangan
terpancar dari sinar wajahnya) goresan lekuk wajah yang begitu sempurna. “
kembangkan duniamu wahai nona manis, kau ini mampu namun memang harus banyak
berlatih . kau memiliki danau yang jernih, juga kemakmuran. tapi kau harus
hubungkannya sebagai sungai, yang dapat mengalir dari hulu ke hilir dan pada akhirnya
bermuara ke samudera jua. bagai alam imaji manusia.
matur nuwun.>
matur nuwun.>

Tidak ada komentar:
Posting Komentar