Rabu, 22 Mei 2013

segelas air dalam cerpen


minggu, 12 mei ‘13
TENTANG SEGELAS AIR
Hatiku mengecil, nyaliku menciut. semakin kecil,semakin imut. ya begitulah perasaan hatiku diantara kalian semua wahai kawanku. bersenjatakan pucuk pena, kau mampu mengajak imaji menari diatas kertas yang bersih tanpa coretan tinta, yang kemudian kau ukir laiknya sebuah batik kawung tak begitu rumit namun begitu menarik. sementara aku? heh bagaimana ini. ngomongpun tak satu kata mampu meluncur bebas keluar dari lisanku. ada bahasa yang terpasung dalam seuntai jiwa. itulah jiwa yang bersemayam dalam raga. aku terdiam kaku memandang. bukan dipojok ruangan , melainkan center pandangan, tepat di tengah – tengah kawanku. membisu dan masih tegang disitu.
Tak sesulit yang aku pikir sebelumnya, atau tidak semudah yang mengendap dipundakku . entahlah. yang aku tahu sekarang aku mampu.
Hanya bermodal imajinasi bertipe spontanitas , memandang sebuah gelas kemasan mineral bertutup warna biru tua. melahirkan 3 sampai 4 kalimat bermotif standar. sejenak dan akhirnya tugas keluar dari kotak. inilah hasilku .. heheh
dari yang standar saja..
Kering sedari tadi melanda kerongkonganku. aku terduduk lesu dipojok ruangan yang penat akan udara dan suasana. namun ketika seorang hadirdan membawa sebuah cawan berisi bening mineral, hatiku melunjak gembira. berharap air itu dihadirkan untukku, walau itu belum tentu.
kemudian keluar dari kotak yang rada jauh..
Seorang lelaki paruh baya terduduk lemah disampingku, tangannya memegang sebuah gelas kemasan berisi bening cairan mineral. andaikan gelas itu dimasuki seekor ikan mas koki ,jadilah sebuah aquarium mini yang cantik. namun sontak kejadian aneh mengejutkan batinku. suster mengahampiri lelaki itu, mengambil kemasan yang kemudian benda itu ditancapakan jarum di ujung sisinya. dihubungkan dengan infuse pasien yang tergeletak sekarat di depanku. ternyata gelas itu berisi darah segar baru 5 menit didonorkan lelaki disampingku.
perlu mengucap syukur alhamdullilah aku mampu melewatinya. walau tak kurasa hal ini yang terindah, hanya berani mencuatkan keraguan pun kuhargai. aku senang aku menang. melawan gundah yang terkekang dan tenang.
katanya “ kau ini , apa yang mempersulit dirimu menuang mineral ke dalam cawan? lha itu bisa… kau menipu ya?
berusa mendekatkan janggut ke leher. mendekat dan semakin erat.
hahaha ( tawa kemenangan terpancar dari sinar wajahnya) goresan lekuk wajah yang begitu sempurna. “ kembangkan duniamu wahai nona manis, kau ini mampu namun memang harus banyak berlatih . kau memiliki danau yang jernih, juga kemakmuran. tapi kau harus hubungkannya sebagai sungai, yang dapat mengalir dari hulu ke hilir dan pada akhirnya bermuara ke samudera jua. bagai alam imaji manusia.

matur nuwun.> 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar