Kamis, 06 Maret 2014

KRITIK SASTRA (CERPEN)



PESAN MORAL DALAM CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI
Oleh:  Pramudita Parahita Pawestri

           
Sebuah karya sastra tidak lahir begitu saja. Ada yang melatar belakangi mengapa seorang sastrawan menghasilkan sebuah karya. Seorang pengarang pasti juga memiliki maksud dan tujuan serta alasan tersendiri. Hal ini juga pasti terjadi pada pengarang A.A Navis dalam cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami. Cerpen ”Robohnya Surau Kami” terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Dalam cerpen ini, mengisahkan seorang kakek penjaga surau yang meninggal akibat bunuh diri. Alasan mengapa kakek bunuh diri karena termakan omongan Ajo Sidi yang terkenal sebagai pembual.
            Cerita Robohnya Surau Kami  ini, memiliki cerita yang sederhana, unik dan menarik. Dibalik kesederhanaannya itu tersimpan makna dan kritik yang mendalam atas kehidupan di jaman yang modern ini. Cerpen ini membuat kita berpikir bagaimana seorang yang alim bisa masuk neraka. Judul cerpen ini hanyalah simbolik, sebenarnya bukan bangunan fisik dari suraulah yang roboh tetapi nilai-nilai agama yang oleh beberapa orang disalah gunakan. Ada sebagian manusia yang beribadah bukan karena tulus menyembah-Nya tetapi mengharapkan imbalan masuk surga semata sehingga mengabaikan urusan duniawi. Hal tersebut digambarkan dalam diri H. Saleh.
           
Pengarang Haji Ali Akbar Navis lahir di Padang, Sumatera Barat, 17 November 1924. A.A. Navis di kalangan sastrawan digelari sebagai ”Kepala Pencemooh”, karena beliau adalah salah seorang tokoh yang ceplas ceplos, apa adanya. Kritik sosial yang ditujukan untuk membangun pribadi-pribadi untuk menjadi yang lebih baik lagi. Tidak heran jika cerpen Robohnya Surau Kami ini berisi kritik tentang ketidak seimbangan antara duniawi dan dunia akhirat.

            A.A. Navis menyampaikan kriktiknya ini dengan sederhana tetapi penuh makna. Hal tersebut terbukti dengan adanya penggambaran tokoh H. Saleh yang lahir dari bualan seorang Ajo Sidi.  H. Saleh seorang tokoh yang rajin beribadah tetapi pada akhirnya masuk neraka memiliki watak sombong terbukti dari
Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surge. Kedua tangannya ditopangkan ke pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang msuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan.
            Dalam cerpen ini A.A. Navis menggambarkan perilaku manusia yang hanya beribadat saja, tanpa mengurus kehidupannya. Tidak sedikit manusia yang melakukan seperti apa yang digambarkan melalui tokoh kakek dan tokoh H. Saleh. Kejadian seperti ini biasanya terjadi dilingkungan yang religius seperti pesantren. A.A. Navis yang seorang haji ingin mengingatkan bahwa dalam hidup kita harus menyeimbangkan antara urusan duniawi dan urusan akhirat. Tidak heran jika ada ungkapan beribadatlah seolah-olah engkau akan mati besok, dan bekerjalah seolah-olah engkau hidup seribu tahun. Sepertinya hal inilah yang ingin diingatkan oleh A.A Navis melalui cepennya.
            A.A. Navis menggambarkan dengan mudahnya suasana di akhirat dan bagaimana seorang manusia yang bisa berdilaog dengan Tuhannya. Cerita yang seperti ini jarang dijumpai dalam cerita-cerita lain.
‘O, o, ooo anu tuhanku. Aku selalu membaca KitabMu.’
‘Lain?’
‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalu ada yang aku lupa katakana, aku pun bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu.’
‘Sungguh tidak ada lagi yang kau kerjakan di dunia selain yang kau ceritakan tadi?’
Tidak hanya masalah beribadat di dunia saja yang digambarkan tetapi juga bagaimana manusia melakukan protes kepada Tuhannya. Terkadang manusia memang tidak mau menerima apa yang telah ditakdirkan pada dirinya. Hal ini yang coba ingin digambarkkan bahwa sanya manusia memiliki sifat yang kurang ikhlas dalam menerima. H. Saleh memimpin beberapa orang untuk melakukan protes kepada Tuhan.
Haji Saleh yang menjadi Pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggelegar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu.
Melalui dialog Tuhan, A.A. Navis menjelaskan mengapa seseorang bisa masuk ke neraka tanpa pandang bulu, bahkan seseorang yang telah bertitel haji dan syekh juga bisa masuk neraka.
Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, sehingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.
         Membaca Robohnya Surau Kami ini bisa menjadi refleksi bagaiman perilaku manusia yang seharunya. Cerpen yang sederhana tetapi sarat akan makna. Melalui cerpen ini kita bisa mengambil hikmah bahwa Tuhan tidak hanya menginginkan hambaNya hanya menyembahNya tetapi juga menginginkan hambaNya untuk bisa menyeimbangkan antara urusan duniawi dan urusan akhirat. Sangat sederhana pesan moral yang ingin disampaikan oleh A.A. Navis. Secara keseluruhan cerpen yang berbau religi ini bagus untuk untuk meningkatkan ketakwaan pembaca kepada Tuhannya, selain itu sangat jarang cerpen yang menggunakan tokoh Tuhan. Selain dalam cerpen Robohnya Surau Kami hal tersebut juga terdapat dalam cerpen “Langit Semakin Mendung ” karya Kipanjikorsim.                                                  
         Selain pesan moral utama yang mengharukan kita menyeimbangkan antara urusan duniawi dan urusan dunia akhirat, terselip makna-makna lain. A.A Navis menyelipkan pesan moral dalam setiap tokoh-tokohnya. Pesan moral yang bisa kita ambil dari tokoh kakek adalah jangan mudah temakan oleh omongan orang lain dan jangan mudah putus asa. Pesan moral yang bisa kita ambil dari tokoh Ajo Sidi adalah janganlah menjadi seorang pembual yang bisa merugikan orang lain. 
               
Disadur dari_PESAN MORAL DALAM CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI   Kumpulan Esai Off. AA.htm

Nilai Moralitas dalam cerpen Rubuhnya Surau Kami karya AA Navis
Oleh Doni Choiril Mahfud

Proses kreatif seorang sastrawan bisa muncul dalam berbagai bentuk dan aspek baik itu aspek hukum, sosial, politik, agama, budaya, dll. Dari proses yang berlangsung itu, seorang sastrawan tidak hanya melihat suatu masalah dari satu sudut pandang melainkan juga diperhatikan dari berbagai sudut pandang dan kajian-kajian tertentu. Begitu pula yang dikerjakan oleh seorang AA Navis, nama lengkapnya Haji Ali Akbar Navis  lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924  dan  meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun, dalam memandang suatu permasalahan selalu melihat kedepan, perspektif pemikirannya membuat semua orang sadar dan memandang hidup lebih bermakna. Seperti salah satu karya beliau yaitu Rubuhnya Surau Kami, merupakan sebuah kritik sosial yang bisa merubah cara pandang tentang hidup. A.A Navis sendiri  mempunyai pandangan bahwa karya sastra itu harus awet dan berguna sepanjang masa, jangan seperti kereta api yang hanya lewat saja. Dan ide-ide yang dikatakan begitulahyang mempengaruhi banyak terhadap karya-karya sastra yang dibuat oleh A.A Navis. Salah satunya adalah cerpen Rubuhnya Surau Kami ini.
Diceritakan ada seorang kakek yang tinggal di surau tua, yah memang dia bertugas menjaga surau itu dengan baik. Kakek tersebut sangatlah rajin beribadah, taat pada perintah allah, bersembahyang setiap waktunya. Selain itu dia senantiasa berbuat baik ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, bahkan ketika diberi upah tidak jarang dia menolaknya dengan baik.Sang kakek suatu hari didatangi oleh seorang pemuda yang bernama Adjo Sidi. Adjo sidi diceritakan sebagai seorang pembual yang ulung, yang kerjaannya hanya ingin mengejek orang tua termasuk kakek yang tinggal disurau tersebut.
Singkat cerita kakek tersebut meninggal dunia, akibat ulah Adjo sidi yang telah mendatanginya, mungkin untuk sedikit mengobrol. Namun siapa yang menyangka bahwa akhir dari obrolan tersebut akan memicu kematian sang kakek yang mati bunuh diri. Sebab kematian sang kakek yah tidak lain adalah obrolan singkat yang dilakukan diantara Adjo Sidi tempo hari sebelum sang kakek menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur.
Berikut beberapa kutipan cerpen
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”
Dialog tersebut merupakan awal mula sebuah konflik. Terlihat seorang AA Navis mengambil seorang tokoh yang berlatar belakang agama kuat. Mengangkat tema yang mencakup unsur agama merupakan masalah sensitif di Negara ini. Mengingat Indonesia adalah Negara plural meskipun mayoritas penduduknya muslim. Namun cerita ini bisa dikemas begitu rapi dan menimbulkan kesan yang amat mendalam pada akhirnya. Seperti kutipan ketika Adjo Sidi bercerita, yang membuat seorang  kakek taat ibadah sampai merenung,
‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”
Di atas adalah ceria seorang haji saleh dan Tuhan. Haji saleh tidak menerima keputusan Tuhan yang memasukkannya ke neraka, karena haji saleh sudah merasa beribadah dengan giat. Namun haji saleh sepanjang hidupnya hanya dibuat untuk menyembah Allah tanpa melakukan apapun lagi. Setelah itu diteruskan pembicaraan dengan malaikat.
‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun
Inilah kehebatan seorang Navis dalam menggambarkan sebuah kritik sosial. Sebuah kritik yang mengandung nilai moral yang sangat kental bahwa sesama manusia harus saling membantu yang saat ini rasa kepedulian mulai luntur di kalangan masyarakat kita. Seperti istilah dari Horace yang menyebutkan sastra adalah dulce et utile, menyenangkan dan berguna karena dari istilah tersebut tersirat makna bahwa sastra bisa berfungsi sebagai sarana rekreatif dan untuk pengajaran moral kepada manusia. Mungkin hal yang seperti diatas bisa kita temui didalam karya-karyanya A.A Navis.
Sambung Sapa :
Dari dua artikel diatas yang dijadikan sampel tentang bagaimana sebuah karya sastra itu dimaknai pembaca, akhirnya saya menemukan variasi berbeda dari topik,tema,pengarang bahkan judul yang sama. Tidak dapat terelakkan bahwa memang ilmu sastra berbeda dengan ilmu eksak yang memiliki nilai paten dalam menghukumi sebuah karya atau pendapat itu ‘benar’ atau ‘salah’ adanya. Disini siapapun boleh mengeluarkan uneg-uneg,gagasan,pendapat secara merdeka.
Menurut saya artikel pertama dan kedua adalah mengagas nilai moralnya namun dengan metode yang berbeda. Pertama penggambaran watak seorang tokoh yang jadi center dengan bukti monolog batin tokoh,sedang artikel kedua lebih membahas bagaimana tokoh utama berinteraksi dengan tokoh lainnya dibuktikan dengan dialog antar tokoh, sehingga lebih tergambar bagaiman hubungan sosial yang terjadi dalam cerita.
Ini hanya sebatas gagasan saya, dan dua orang sebelumnya. Saya yakin teman-teman memiliki pendapat yang sama namun dengan metode,sudut pandang, penyampaian berbeda.

Daftar Rujukan
Andromeda. 2012. Analisis Cerpen "Robohnya Surau Kami", (online) (http://galaxyairit.blogspot.com/2012/05/analisis-cerpen-robohnya-surau-kami.html, diakses14 April 2013)         
Sundiawan, A. 2008. Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami, (online) (http://awan965.wordpress.com/2008/12/20/analisis-cerpen-robohnya-surau-kami/, diakses 14 April 2013)