PESAN MORAL DALAM CERPEN ROBOHNYA
SURAU KAMI
Oleh: Pramudita Parahita Pawestri
Sebuah karya sastra tidak lahir begitu saja. Ada yang melatar belakangi mengapa seorang sastrawan menghasilkan sebuah karya. Seorang pengarang pasti juga memiliki maksud dan tujuan serta alasan tersendiri. Hal ini juga pasti terjadi pada pengarang A.A Navis dalam cerpennya yang berjudul Robohnya Surau Kami. Cerpen ”Robohnya Surau Kami” terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Dalam cerpen ini, mengisahkan seorang kakek penjaga surau yang meninggal akibat bunuh diri. Alasan mengapa kakek bunuh diri karena termakan omongan Ajo Sidi yang terkenal sebagai pembual.
Cerita
Robohnya Surau Kami ini, memiliki cerita
yang sederhana, unik dan menarik. Dibalik kesederhanaannya itu tersimpan makna
dan kritik yang mendalam atas kehidupan di jaman yang modern ini. Cerpen ini
membuat kita berpikir bagaimana seorang yang alim bisa masuk neraka. Judul
cerpen ini hanyalah simbolik, sebenarnya bukan bangunan fisik dari suraulah
yang roboh tetapi nilai-nilai agama yang oleh beberapa orang disalah gunakan.
Ada sebagian manusia yang beribadah bukan karena tulus menyembah-Nya tetapi
mengharapkan imbalan masuk surga semata sehingga mengabaikan urusan duniawi.
Hal tersebut digambarkan dalam diri H. Saleh.
Pengarang Haji Ali Akbar Navis lahir di Padang, Sumatera Barat, 17 November
1924. A.A. Navis di kalangan sastrawan digelari sebagai ”Kepala Pencemooh”,
karena beliau adalah salah seorang tokoh yang ceplas ceplos, apa adanya. Kritik
sosial yang ditujukan untuk membangun pribadi-pribadi untuk menjadi yang lebih
baik lagi. Tidak heran jika cerpen Robohnya Surau Kami ini berisi kritik
tentang ketidak seimbangan antara duniawi dan dunia akhirat.
A.A. Navis menyampaikan kriktiknya
ini dengan sederhana tetapi penuh makna. Hal tersebut terbukti dengan adanya
penggambaran tokoh H. Saleh yang lahir dari bualan seorang Ajo Sidi. H. Saleh seorang tokoh yang rajin beribadah
tetapi pada akhirnya masuk neraka memiliki watak sombong terbukti dari
Haji Saleh itu tersenyum-senyum
saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surge. Kedua tangannya
ditopangkan ke pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke
kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang msuk neraka, bibirnya menyunggingkan
senyum ejekan.
Dalam
cerpen ini A.A. Navis menggambarkan perilaku manusia yang hanya beribadat saja,
tanpa mengurus kehidupannya. Tidak sedikit manusia yang melakukan seperti apa
yang digambarkan melalui tokoh kakek dan tokoh H. Saleh. Kejadian seperti ini
biasanya terjadi dilingkungan yang religius seperti pesantren. A.A. Navis yang
seorang haji ingin mengingatkan bahwa dalam hidup kita harus menyeimbangkan
antara urusan duniawi dan urusan akhirat. Tidak heran jika ada ungkapan
beribadatlah seolah-olah engkau akan mati besok, dan bekerjalah seolah-olah
engkau hidup seribu tahun. Sepertinya hal inilah yang ingin diingatkan oleh A.A
Navis melalui cepennya.
A.A. Navis
menggambarkan dengan mudahnya suasana di akhirat dan bagaimana seorang manusia
yang bisa berdilaog dengan Tuhannya. Cerita yang seperti ini jarang dijumpai
dalam cerita-cerita lain.
‘O, o, ooo anu tuhanku. Aku selalu
membaca KitabMu.’
‘Lain?’
‘Sudah kuceritakan semuanya, o,
Tuhanku. Tapi kalu ada yang aku lupa katakana, aku pun bersyukur karena
Engkaulah yang Mahatahu.’
‘Sungguh tidak ada lagi yang kau
kerjakan di dunia selain yang kau ceritakan tadi?’
Tidak hanya masalah beribadat di dunia saja yang digambarkan
tetapi juga bagaimana manusia melakukan protes kepada Tuhannya. Terkadang
manusia memang tidak mau menerima apa yang telah ditakdirkan pada dirinya. Hal
ini yang coba ingin digambarkkan bahwa sanya manusia memiliki sifat yang kurang
ikhlas dalam menerima. H. Saleh memimpin beberapa orang untuk melakukan protes
kepada Tuhan.
Haji Saleh yang menjadi Pemimpin dan
juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggelegar dan berirama
indah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang
menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat
menyembahmu.
Melalui dialog Tuhan, A.A. Navis menjelaskan mengapa
seseorang bisa masuk ke neraka tanpa pandang bulu, bahkan seseorang yang telah
bertitel haji dan syekh juga bisa masuk neraka.
Kau lebih suka beribadat saja,
karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku
menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka
pujian, mabuk disembah saja, sehingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan
menyembahku saja.
Membaca Robohnya
Surau Kami ini bisa menjadi refleksi bagaiman perilaku manusia yang seharunya.
Cerpen yang sederhana tetapi sarat akan makna. Melalui cerpen ini kita bisa
mengambil hikmah bahwa Tuhan tidak hanya menginginkan hambaNya hanya
menyembahNya tetapi juga menginginkan hambaNya untuk bisa menyeimbangkan antara
urusan duniawi dan urusan akhirat. Sangat sederhana pesan moral yang ingin
disampaikan oleh A.A. Navis. Secara keseluruhan cerpen yang berbau religi ini
bagus untuk untuk meningkatkan ketakwaan pembaca kepada Tuhannya, selain itu
sangat jarang cerpen yang menggunakan tokoh Tuhan. Selain dalam cerpen Robohnya
Surau Kami hal tersebut juga terdapat dalam cerpen “Langit Semakin Mendung ”
karya Kipanjikorsim.
Selain pesan
moral utama yang mengharukan kita menyeimbangkan antara urusan duniawi dan
urusan dunia akhirat, terselip makna-makna lain. A.A Navis menyelipkan pesan
moral dalam setiap tokoh-tokohnya. Pesan moral yang bisa kita ambil dari tokoh
kakek adalah jangan mudah temakan oleh omongan orang lain dan jangan mudah
putus asa. Pesan moral yang bisa kita ambil dari tokoh Ajo Sidi adalah
janganlah menjadi seorang pembual yang bisa merugikan orang lain.
Disadur
dari_PESAN MORAL DALAM CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI Kumpulan Esai Off. AA.htm
Nilai
Moralitas dalam cerpen Rubuhnya Surau Kami karya AA Navis
Oleh Doni
Choiril Mahfud
Proses
kreatif seorang sastrawan bisa muncul dalam berbagai bentuk dan aspek baik itu
aspek hukum, sosial, politik, agama, budaya, dll. Dari proses yang berlangsung
itu, seorang sastrawan tidak hanya melihat suatu masalah dari satu sudut
pandang melainkan juga diperhatikan dari berbagai sudut pandang dan
kajian-kajian tertentu. Begitu pula yang dikerjakan oleh seorang AA Navis, nama
lengkapnya Haji Ali Akbar Navis lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra
Barat, 17 November 1924 dan meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78
tahun, dalam memandang suatu permasalahan selalu melihat kedepan, perspektif
pemikirannya membuat semua orang sadar dan memandang hidup lebih bermakna.
Seperti salah satu karya beliau yaitu Rubuhnya Surau Kami, merupakan sebuah
kritik sosial yang bisa merubah cara pandang tentang hidup. A.A Navis
sendiri mempunyai pandangan bahwa karya sastra itu harus awet dan berguna
sepanjang masa, jangan seperti kereta api yang hanya lewat saja. Dan ide-ide
yang dikatakan begitulahyang mempengaruhi banyak terhadap karya-karya sastra
yang dibuat oleh A.A Navis. Salah satunya adalah cerpen Rubuhnya Surau Kami
ini.
Diceritakan ada
seorang kakek yang tinggal di surau tua, yah memang dia bertugas menjaga surau
itu dengan baik. Kakek tersebut sangatlah rajin beribadah, taat pada perintah
allah, bersembahyang setiap waktunya. Selain itu dia senantiasa berbuat baik
ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, bahkan ketika diberi upah tidak
jarang dia menolaknya dengan baik.Sang kakek suatu hari didatangi oleh seorang
pemuda yang bernama Adjo Sidi. Adjo sidi diceritakan sebagai seorang pembual
yang ulung, yang kerjaannya hanya ingin mengejek orang tua termasuk kakek yang
tinggal disurau tersebut.
Singkat cerita kakek
tersebut meninggal dunia, akibat ulah Adjo sidi yang telah mendatanginya,
mungkin untuk sedikit mengobrol. Namun siapa yang menyangka bahwa akhir dari
obrolan tersebut akan memicu kematian sang kakek yang mati bunuh diri. Sebab
kematian sang kakek yah tidak lain adalah obrolan singkat yang dilakukan
diantara Adjo Sidi tempo hari sebelum sang kakek menggorok lehernya sendiri
dengan pisau cukur.
Berikut beberapa kutipan cerpen
Berikut beberapa kutipan cerpen
“Marah? Ya, kalau aku
masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak
marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak
karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada
Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan
mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”
Tapi Kakek diam saja.
Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya,
lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku
sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan?
Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”
Dialog tersebut
merupakan awal mula sebuah konflik. Terlihat seorang AA Navis mengambil seorang
tokoh yang berlatar belakang agama kuat. Mengangkat tema yang mencakup unsur
agama merupakan masalah sensitif di Negara ini. Mengingat Indonesia adalah
Negara plural meskipun mayoritas penduduknya muslim. Namun cerita ini bisa
dikemas begitu rapi dan menimbulkan kesan yang amat mendalam pada akhirnya.
Seperti kutipan ketika Adjo Sidi bercerita, yang membuat seorang kakek
taat ibadah sampai merenung,
‘Kalau ada, kenapa
engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta
bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau
lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku
beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja,
karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku
menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka
pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai,
Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”
Di atas adalah ceria
seorang haji saleh dan Tuhan. Haji saleh tidak menerima keputusan Tuhan yang
memasukkannya ke neraka, karena haji saleh sudah merasa beribadah dengan giat.
Namun haji saleh sepanjang hidupnya hanya dibuat untuk menyembah Allah tanpa
melakukan apapun lagi. Setelah itu diteruskan pembicaraan dengan malaikat.
‘Tidak. Kesalahan
engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk
neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu
sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu
kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis.
Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak
mempedulikan mereka sedikit pun
Inilah kehebatan
seorang Navis dalam menggambarkan sebuah kritik sosial. Sebuah kritik yang
mengandung nilai moral yang sangat kental bahwa sesama manusia harus saling
membantu yang saat ini rasa kepedulian mulai luntur di kalangan masyarakat
kita. Seperti istilah dari Horace yang menyebutkan sastra adalah dulce et
utile, menyenangkan dan berguna karena dari istilah tersebut tersirat makna
bahwa sastra bisa berfungsi sebagai sarana rekreatif dan untuk pengajaran moral
kepada manusia. Mungkin hal yang seperti diatas bisa kita temui didalam
karya-karyanya A.A Navis.
Sambung Sapa :
Dari dua artikel diatas yang dijadikan sampel tentang
bagaimana sebuah karya sastra itu dimaknai pembaca, akhirnya saya menemukan
variasi berbeda dari topik,tema,pengarang bahkan judul yang sama. Tidak dapat
terelakkan bahwa memang ilmu sastra berbeda dengan ilmu eksak yang memiliki
nilai paten dalam menghukumi sebuah karya atau pendapat itu ‘benar’ atau
‘salah’ adanya. Disini siapapun boleh mengeluarkan uneg-uneg,gagasan,pendapat
secara merdeka.
Menurut saya artikel pertama dan kedua adalah mengagas
nilai moralnya namun dengan metode yang berbeda. Pertama penggambaran watak
seorang tokoh yang jadi center dengan bukti monolog batin tokoh,sedang artikel
kedua lebih membahas bagaimana tokoh utama berinteraksi dengan tokoh lainnya
dibuktikan dengan dialog antar tokoh, sehingga lebih tergambar bagaiman
hubungan sosial yang terjadi dalam cerita.
Ini hanya sebatas gagasan saya, dan dua orang sebelumnya.
Saya yakin teman-teman memiliki pendapat yang sama namun dengan metode,sudut
pandang, penyampaian berbeda.
Daftar Rujukan
Andromeda. 2012. Analisis Cerpen "Robohnya Surau
Kami", (online) (http://galaxyairit.blogspot.com/2012/05/analisis-cerpen-robohnya-surau-kami.html,
diakses14 April 2013)
Sundiawan,
A. 2008. Analisis Cerpen Robohnya Surau
Kami, (online) (http://awan965.wordpress.com/2008/12/20/analisis-cerpen-robohnya-surau-kami/,
diakses 14 April 2013)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar