Kutipan puisi “belajar tatabahasa dan mengarang”dari Taufiq ismail.
“murid-murid pada hari senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus melatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enam puluh Sembilan
Ini ada kalimat menarik hati,berbunyi
“mengeritik
itu boleh,asal membangun
Nah renungkan,kemudian buat kalimat
dengan kata-katamu sendiri
Demikian kelas itu dimasuki sunyi
Akhirnya seorang disuruh maju kedepan
Dan menjawab
Mengkritik itu boleh,asal membangun
Membangun itu boleh asal mengkritik
Mengkritik itu tidak boleh,asal tidak
membangun
Membangun itu tidak asal,mengeritik itu
tidak boleh
Membangun mengeritik itu boleh asal
Mengeritik membangun itu asal boleh
Mengeritik itu membangun
Membangun itu mengkeritik
Asal boleh mengkritik,boleh itu asal
Asal boleh membangun,asal itu boleh
Asal boleh itu mengkritik boleh asal
Itu boleh asal membangun asal boleh
Boleh itu asal
Asal itu boleh
Boleh boleh
Asal asal
Itu itu
Itu
“anak- anak bapak bilang tadi
Mengarang itu harus dengan kata-kata
sendiri
Tapi tadi tidak ada kosakata lain sama
sekali
Kalian Cuma mengulang bolak-balik yang
itu-itu saja
Itu kelemahan kalian yang pertama
Dan kelemahan kalian yang kedua
Kalian anemi referensi dan melarat
bahan perbandingan
Itu karena malas membaca buku apalagi
karya sastra”
“wahai pak guru,jangan kami disalahkan
apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan
kosakata
Selama ini kami kan diajar menghafal
dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumen dengan
pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan
karya sastra
Pak guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel,rabun
cerpen,rabun drama,dan rabun puisi
Tapi mata kami kan nyalang bila
menonton televisi
Tanggapan :
Maaf beribu maaf, puisi ini hanya secuplik-cuplik bagiannya,saya ingin
pembaca mampu membaca dan meresapi kandungan makananya lebih mendalam. Saya
peroleh puisi ini dari buku “MEMBACA SASTRA DENGAN ANCANGAN LITERASI KRITIS”penulis
Endah Tri Priyatni. dengan ilustrasi seorang bapak guru yang berada di depan
kelas sedang menerangkan pelajaran kepada murid-muridnya, semakin memahamkan
saya tentang dunia pendidikan di lingkungan tercinta.
Dengan keluguan murid-murid menjawab pertanyaan pak
guru,dan uneg-uneg setara curahan hati nurani mereka jadi membuka mata . Betapa
gagasan begitu dikekang dengan garis-garis teori yang telah tercipta. Sungguh
miris, tapi inilah kenyataannya. Apa ini kesalahan?kesalahan siapa? Bagaimana
yang benar? Dan siapa yang punya kewajiban membenarkan jika memang
salah?mungkin adalah generasi penerus. Pemuda bangsa.
810 Pri m3_UPT SSR UNS..11032014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar