Selasa, 11 Maret 2014

Puisi Belajar Tatatbahasa dan Mengerang



Kutipan puisi “belajar tatabahasa dan mengarang”dari Taufiq ismail.

“murid-murid pada hari senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus melatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enam puluh Sembilan

Ini ada kalimat menarik hati,berbunyi
mengeritik itu boleh,asal membangun
Nah renungkan,kemudian buat kalimat dengan kata-katamu sendiri

Demikian kelas itu dimasuki sunyi
Akhirnya seorang disuruh maju kedepan
Dan menjawab

Mengkritik itu boleh,asal membangun
Membangun itu boleh asal mengkritik
Mengkritik itu tidak boleh,asal tidak membangun
Membangun itu tidak asal,mengeritik itu tidak boleh
Membangun mengeritik itu boleh asal
Mengeritik membangun itu asal boleh
Mengeritik itu membangun
Membangun itu mengkeritik
Asal boleh mengkritik,boleh itu asal
Asal boleh membangun,asal itu boleh
Asal boleh itu mengkritik boleh asal
Itu boleh asal membangun asal boleh
Boleh itu asal
Asal itu boleh
Boleh boleh
Asal asal
Itu itu
Itu

“anak- anak bapak bilang tadi
Mengarang itu harus dengan kata-kata sendiri
Tapi tadi tidak ada kosakata lain sama sekali
Kalian Cuma mengulang bolak-balik yang itu-itu saja
Itu kelemahan kalian yang pertama
Dan kelemahan kalian yang kedua
Kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan
Itu karena malas membaca buku apalagi karya sastra”

“wahai pak guru,jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosakata
Selama ini kami kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumen dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak guru sudah tahu lama sekali

Mata kami rabun novel,rabun cerpen,rabun drama,dan rabun puisi
Tapi mata kami kan nyalang bila menonton televisi

http://www.belbuk.com/images/products/buku/bahasa--kamus/bahasa-indonesia/membaca%20sasrtam.jpg
Tanggapan :
Maaf beribu maaf, puisi ini hanya secuplik-cuplik bagiannya,saya ingin pembaca mampu membaca dan meresapi kandungan makananya lebih mendalam. Saya peroleh puisi ini dari buku “MEMBACA SASTRA DENGAN ANCANGAN LITERASI KRITIS”penulis Endah Tri Priyatni. dengan ilustrasi seorang bapak guru yang berada di depan kelas sedang menerangkan pelajaran kepada murid-muridnya, semakin memahamkan saya tentang dunia pendidikan di lingkungan tercinta.
Dengan keluguan murid-murid menjawab pertanyaan pak guru,dan uneg-uneg setara curahan hati nurani mereka jadi membuka mata . Betapa gagasan begitu dikekang dengan garis-garis teori yang telah tercipta. Sungguh miris, tapi inilah kenyataannya. Apa ini kesalahan?kesalahan siapa? Bagaimana yang benar? Dan siapa yang punya kewajiban membenarkan jika memang salah?mungkin adalah generasi penerus. Pemuda bangsa.
810 Pri m3_UPT SSR UNS..11032014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar