Donyane Wong Culika
Oleh: suparto Brata- kode buku
808.83 BRA d C2. Perpus fssr uns
Cetakan pertama.
X+537hlm;16,5x21cm
Buku ini memaparkan sebuah
realita kehidupan berbagai kalangan status berbeda yang terjadi di jaman PKI.
Diceritakan dengan bahasa jawa baru yang khas dan mudah dipahami. Dalam buku
setebal ini,menyuguhkan cerita yang dibagi menjadi 3 bab besar yaitu, Kasminta,
Tukinem, dan Pratinah. Tiap kali berada di akhir cerita setiap babnya seperti
merasakan cerita sudah kelar,tapi sebelumnya masih berlanjut hingga tembar
terakhir sebelum biodata pengarang. Ini hanya secara garis besar, untuk
kelengkapan silahkan baca novelnya
1. Kasminta
Hlm 1-115
Diawali dari kepulangan kasmin
yang pergi sejak lama meninggalkan tempat tinggalnya mengembara entah kemana.
Kasak kusuk yang ada di masyarakat setempat dia pergi ke Surabaya,tapi ada pula
yang bilang dia hanya pergi dekat-dekat saja yakni di Semarang tapi setalah dia
menyerahkan KTP saat lapor ke kelurahan bertulis asal kasmin dari Blitar.
Menumpang dhokar menuju
bangkuning ke rumah Nini Sali. Ketika mengetuk pintu rumah, tidak mendapati
Nini Sali tetapi seorang anak kecil yang keadaannya memprihatinkan namanya
Painem. Yang juga mengaku anak angkat Nini Sali seperti Kasmin. Dari cerita
Nini Sali Painem adalah anak dari seorang PKI yang kedua orang tuanya telah
mati dan Painem dipungut sejak dia masih bayi.
Melihat rumah Nini Sali yang
hanya gubuk kecil,bahkan sejak 6 tahun/bulan lalu. Kesedihan kasmin tersulut
ketika Nini Sali menceritakan perihal hidupnya yang serba kesusahan. Gubuk
beserta tanah pekarangan sejak Kaki Sali meninggal bukan milik mereka lagi,
semuanya telah dibeli oleh Den Darmin,tapi masih mengijinkan gubuk kecil
ditempati oleh Nini Sali sepanjang hidupnya.
Dengan tekad yang kuat, Kasmin
mengunungi rumah Den Darmin,yang kini telah ganti pemilik setelah ditinggalnya
mati,yaitu Den Mintarti anak perempuannya yang tinggal sendirian di rumah cekli
dalam keadaan kurang waras. Kasmin ingin meminta ijin dibolehkan menggarap
tanah pekarangan yang dulu miliknya. Namun ditengah perbincangan Den
Mintarti-yang tidak waras itu menangis dan teriak-teriak mengingat bapaknya
yang mati dikeroyok orang PKI di tengah sawahnya.
Sukardi-Guru kardi, guru olahraganya dulu yang juga orang
kepercayaan Den Darmin tiba-tiba datang dan mengajak Kasmin rembug diluar
rumah,tapat dibawah pohon pepaya. Dia mengijinkan keinginan kasmin.
Seperti janji Sukardi yang akan
membantu Kasmin dia menyuruh kasmin mencari batu bata untuk pembangunan gedung
sedkolah SD. Namun seperti dugaan kasmin ternyata Sukardi tidak lain hanya
ingin menjebak kasmin,dua orang yang ada dalam pergolakan batin. Kasmin sangat
membenci kardi bekas gurunnya yang dulu telah mengeluarkan Kasmin dari
sekolahan dan akhirnya dia ngumbara entah kemana, sementara Kardi juga sangguh
membenci Kasmin bekas muridnya yang paling nakal,suka mempengaruhi teman-teman
sekelasnya untuk tidak mau olahraga ke ara-ara,yang
menyembunyikan banyak buku-buku komunis di pyan
rumahnya saat rumah itu dijebol dibuat lebih kecil ketika sudah terbeli oelh
Den Darmin, dan masih banyak lagi kenakalan yang dilakukan Kasmin. Dendam masih
membara dalam hati kedua insane manusia.
2. Tukinem
hlm 116-252
Adalah istri Sukardi yang juga
sangat dibenci Kasmin. Tukinem sendiri juga membenci perangai si Kasmin, yang
namanya telah ditambah-ta setelah sekembalinya ke bangkuning setelah berkelana
lama mungkin nama itu diganti setelah dia mendalami ilmu komunisnya. Tukinem
berbadan seperti laki-laki, sejak pernikahannya hingga sekarang dia dan Sukardi
belum juga dikaruniai momongan.
Tukinem sangat membenci orang
PKI yang dulunya selalu memaksa semua petani untuk membeli pupuk ZA yang
diketuai oleh Susmanta. Jika tidak mau membeli pupuk maka sawah akan disita dan
kemudian dibagi rata sehingga tidak ada satu orangpun yang tidak memiliki
sawah.
Suatu ketika setelah Den Darmin dikeroyok,dibunuh
hingga ususnya terburai di sawahnya sendiri, Susmanto juga dikabarkan telah
dibunuh BTI tapi hingga sekarng belum juga ditemukan mayatnya. Tidak ada lagi
pemimpin baris yang setiap malam keliling kampong dengan misi pembasmian,desa
menjadi sepi.
Suatu ketika Tukinem menunggu di
tokonya, tiba-tiba kardi pulang dengan tergesa-gesa membiarkan sepeda nya
ambruk, dengan pakaian yang awut-awutan seperti akan dilepas atau akan
dikenakan. Wajahnya pucat,kebingungan dia bilang baru saja membunuh Den
Mintarti. Tetapi Tukinem tidak percaya, tidak mungkin Kardi menghamili kemudian
membunuh Den Mintarti,dia malah menuduh Kasmin yang sebelumnya Den Mintarti
menyebut-nyebut nama Kasmin sebagai Sus-Susmanta orang yang paling dia kasihi.
Disisi lain, Kasminta yang
mengetahui Den Mintarti telah hamil, dia menyebarkan fitnah bahwa orang
terdekat-Sukardi lah yang menghamili,lewat para kusir dhokar dan merambah
kesemua orang.
Tapi pada akhirnya, Tukinemlah
yeng berhasil mengumpulkan masa dan semuanya mau diajak mengusir Kasmin yang
dianggap jadi tersangka dalam kasus itu. Dia memanggil Letnan Sanawi untuk
meringkus Kasmin,sementara Sukardi masih saja bersembunyi dan mengurung diri di
dalam kamar. Ketika kasmin telah ditangkap,Tukinem teriak memanggil Kardi agar segera
membukakan pintu kamar,ternyata tidak ada jawaban. Pintu di dobrak,Tukinem
melangkah masuk dan hanya bisa mendongak tanpa kata. Sukardi menggantung di
atas blandar menggunakan selembar selendang
sampur,ditemukan sebuah kursi yang terguling dibawah kakinya. Kini raga Kardi
masih ada, tidak pergi kemana-mana, namun hanya tanpa nyawa,nyawanya telah
pergi untuk selama-lamanya.
3. Pratinah
Hlm 253-535
Suatu ketika Pratinah yang telah
pergi merantau ke Kota Jakarta pulang ke kampong halamannya. Dia menceritakan
kembali zaman ketika dia masih menjadi murid Sukardi. Pratinah patah
hati,ketika mengetahui bahwa guru baru bernama Sukardi yang sangat ia cintai
telah melepas masa lajangnya dengan Bu Tukinem yang juga seorang guru.
Melihat bekas gurunya itu, masih
belum mempunyai momongan dia mengira bahwa tukinemlah yang gabug tidak dapat memberikan keterunan untuk Guru Kardi. Ternyata kecintaannya
kepada guru Kardi masih saja menggelora. Dia ingin segera saresmi. Dia menemukan ide cemerlang, menunggu Kardi yang selalu
menengok Den Mintarti di rumahnya. Rumah yang cekli dan hanya dihuni oleh satu
orang tidak waras pula.
Hari pertama dia gagal sebab
saat naik dokar, ternyata garapsari yang pertama, tapi kesempatan datang
berulang. Pratinah tidak putus asa, dia datang sebelum Kardi ada dirumah cekli.
Pratinah memberikan minuman yang dicampur obat tidur kepada Den Mintarti lalu
dibimbingnya masuk kamar dan tertidur pulas.
Ketika kardi datang, pratinah
berlagak seperti biasa dia dikota besar-menjelma laiknya tunasusila professional.
Harusnya Kardi tidak takut sebab hal itu tidak hanya pratinah lakukan pada
dirinya,tapi Kardi masih saja tidak mau menurut. Lalu dengan paksaan akhirnya
dia mau melepas pakaian yang dikenakan. Satu persatu dan dibaringkan tubuh
pratinah dikursi panjang. Seketik atertawa terbahak-bahak melihat Kardi yang
tidak kuasa. Ternyata sekarang dia tahu penyebab utama satu-satunya Tukinem
tidak memiliki anak. Karena aibnya terbongkar, air mukanya merah padam. Orang yang
tertawa itu akhirnya didekap,dicekik hingga tawa itu melemah, tubuhnya ikut
melemah hingga nyawa dalam tubuhnya melayang dan hilang. tanpa nyawa,tanpa
busana,nglegena,mati nistha kesiya-siya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar