Kamis, 01 Mei 2014

BEKISAR MERAH : Ahmad Tohari



BEKISAR MERAH
Ahmad Tohari
Cetakan kelima- agustus 2005
312hlm;18cm. kode buku = 808.83 TOH b C1_perpus fssr uns

4/13/2014
Secara umum novel ini menceritakan realita kehidupan yang ada di tengah masayrakat perkampungan yang masih tradisional. Mereka para penduduk yang bermata pencaharian sebagai penyadap nderes,ndewan. Seperti novel sebelumnya yang mengangkat nama sebuah desa bernama paruk, kini membicarakan sebuah desa Karangsoga beserta carut marut kehidupan di dalamnya.
Lasi adalah seorang istri penyadap,yaitu Darsa. Hidupnya yang sederhana,menjadi lebih menderita sebab sudah tiga tahun mengarungi bahtera rumah tangga belum juga dijatuhkan momongan padanya. Setiap hari Darsa naik turun memanjat pohon kelapa yang kemudian mengambil nira dalam pongkor yang telah di gantungkannya di bawah manggar yang disadap niranya. Kemudian dibawa pulang dan diolah oleh Lasi menjadi gula merah,dijualnya ke pengepul Pak Tir lalu oleh pegawainya seminggu sekali dikirim ke Jakarta.
Suatu hari selepas hujan,Darsa melakukan aktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Ketika berada di atas pohon pikirannya terpecah gambaran kehidupan yang serba kekurangan. Lasi sebenarnya adalah istri yang setia tidak pernah mengeluh apapun kepada Darsa, tapi Darsa tetap nelangsa memikirkan hidup Lasi dan dirinya,hingga melayang dan tubuhnya terjatuh dari pohon kelapa. Penyadap lain segera memberikan pertolongan dengan cara aneh yang dipercaya warga sebagai cara pengobatan pertama pada penyadap yaitu mengencingi sekujur tubuh korban, kemudian memanggil para penduduk dan Lasi. Ada kodok lompat katanya,tidak boleh diucap kecuali itu.
Darsa digotong pulang,sekarat dan hampir mati. Walau kebanyakan penyadap yang jatuh mati,ternyata Darsa tetap hidup tapi hingga 6 bulan tidak bisa melakukan apapun kecuali berbaring di tempat tidur dan ngompol,bahkan juga lemah pucuk. Lasi tetap setia, sampai akhirnya dia menerima pendapat dari orang-orang  bahwa pengobatan manjur dari Bunek. Ternyata setelah beberapa kali terapi Darsa sembuh. Tetapi ternyata biaya yang ditanggung lebih dari mahalnya operasi secara medis yaitu Bunek memaksa Darsa untuk mencoba kesehatannya pada Sipah. Darsa menolak, tapi tidak dapat mengelak setelah dia harus menikahi Sipah anak Bunek semata wayang yang kakinya cacat,karena dia berhasil hamil. Pertanda Darsa benar-benar sembuh dari sakitnya.
Dia sangat paham keadaan buruk akan menimpanya dan kehidupannya dengan Lasi. Tapi Darsa tidak ada pilihan lain. Lasi yang mengetahui kenyataan tersebut tidak dapat menahan kecewa dan sakit hatinya, dia memutuskan untuk minggat dari Karangsoga. Menumpang di truk pengangkut gula kelapa ke Jakarta bersama dua karyawan Pak Tir. Diam-diam Lasi menghilang. Tapi ketika berada di tengah perjalanan,Pardi (sopir truk) berhenti dengan alasan member rokok yang kemudian kesempatan itu iya gunakan untuk menitip pesan Lasi ikut mereka pergi.
Perjalanan semakin jauh, truk singgah di sebuah warung langganan,Lasi pun turut makan,ganti pakaian dan istirahat. Sementara mukri ngapel pacarnya yang ditampung di warung itu. Bu koneng pemilik toko, dia menampung istri-istri sopir atau juga pacar-pacar sopir. Pardi menyuruh Lasi bersama Bu Koneng, sementara dia yang sibuk menyelesaikan tugasnya mengantar gula kelapa, janjinya akan kembali setelah semua kelar. Namun tidak lama kemudian, Bu Koneng membujuk Lasi agar dia mau tinggal bersama nya dan wanita-wanita lain disana. Lasi akhirnya tidak ikut pulang walau dipaksa Pardi. Dikampung Darsa menikahi Sipah, hati lasi yang remuk tak ingin kembali ke Karangsoga.
Lasi sebenarnya bukan orang desa biasa. Matanya sipit,kulit putih,rambut yang hitam panjang dan berkilau,persis orang sina, membuat siapaun orang tertarik padanya. Seperti bekisar unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa sering menjadi hiasa rumah orang-orang kaya. Ada darah Jepang mengalir dalam tubuhnya. Ketika kecil dia dipanggil bukan Lasiyah –nama aslinya,melainkan Lasipang,emaknya yang diperkosa orang jepang. Menurut cerita ibdia dipanggil bukan Lasiyah –nama aslinya,melainkan Lasipang,emaknya yang diperkosa orang jepang. Menurut cerita emaknya, emak lasiyah pernah diperkosa oleh orang Jepang lalu dia menghilang tanpa kabar. Setelah 3 tahun berselang orang Jepang itu kembali, meminta maaf dan Lasi malah disuruh menerima lamarannya, lalu tidak lama kemudian emak Lasi mengandung dan melahirkan.
Bu Koneng yang juga dikenal mucikari senang menerima keberadaan Lasi awalnya dia ditempatkan di dapur mengurus piring dan perkakas sisa masakan, tapi pada akhirnya dia dikenalkan dengan para pelanggan yang kaya. Lewat potret Lasi yang cantik mengenakan kimono merah,menjelma setara geisha. Pak han, Handarbeni tertarik memperistri Lasi,walau belum mempunyai surat janda dari Darsa tapi tidak jadi masalah bagi Han. Pak Han sudah menyiapkan rumah mewah,beserta isinya dan para pembantu di rumah itu, lasi boleh menempati kapanpun dia mau. Akhirnya Lasi pindah dari warung Bu Koneng juga.
Kanjat anak Pak Tir yang tengah mengenyam pendidikan insinyur di kota,pulang. Mengetahui Lasi minggat dia bergegas mencari. Hingga bertemu namun Lasi tetap saja tidak mau pulang. bujukan Kanjat tidak mempan,menelan kekecewaan Kanjat pulang sendirian. Sebelum undur diri,Kanjat meminta poto Lasi,diberikan selembar poto berpakaian kimono merah lalu ditukar dengan poto Kanjat yang kemudian disimpannya baik-baik.
Suatu hari,mendengar kabar dari Pardi bahwa Eyang Mus meninggal hati Lasi tergugah, menaiki sedan mewah bersama sopir pribadi Pak Han menuju Karangsoga. Mendapati Eyang Mus yang ternyata masih sehat menghuni gubuk reyot haru menyeruak. Lasi yang kaya raya memberikan uang untuk memperbaiki gubuk Eyang Mus agar tidak bocor, tetapi Eyang Mus menyuruh Lasi memberikan uangnya kepad akanjat yang akan melakukan percobaan ilmiah membuat tunggu dalam ukuran besar digunakan untuk mengolah nira secara serentak sehingga meminimalisir kebutuhan kayu sebagai bahan bakar juga mempermudah penyadap menjual nira bukan langsung hasil olahannya. Kanjat dipanggilnya, ternyata tersimpan rasa yang sejak lama terpendam tentang ketertarikan. Poto Lasi masih disimpan, begitu juga sebaliknya. Kanjat ingin mempersunting Lasi, tapi lasi menolak akan selisih usia yang sangat jauh. Lalu Kanjat memberikan berita bahwa sudah masuk proyek listrik ke Karangsoga tetapi pohon-pohon kelapa yang menghalangi kabel listrik akan segera ditebang besok pagi.
Lasi melihat sepuluh dari duabelas jumlah pohon kelapa Darsa ditebang. Darsa yang tengah jonggok di dekatnya tidak dapat bertindak apapun sama seperti Kanjat,Lasi,dan penduduk lain yang pohon kelapanya ditebang. Miris melihat mata pencaharian utama yang telah hilang,bagaiman menencanakan hidup dengan hanya punya 2 pohon kelapa,padahal harga gula merah tidak stabil. selesai penebangan Lasi dan Kanjat berkunjung ke rumah Darsa melihat Sipah menangis membopong bayinya,Lasi duduk disamping madunya. Dan turut menangis dan memberikan uang yang diterka dapat emmenuhi hidup mereka selam setahun jika digunakan untuk menyewa pohon kelapa. Kemudian Lasi pergi. Ditengah perjalanan Kanjat meminta ijin mengambil jalan menyimpang berpisah dengan Lasi dengan mata nanar,dan kecewa yang tidak bisa terungkap bahwa cita-cita yang tetap hidup dalam jiwanya memperistri Lasi.
_ end
Semiotika
Ada kodok lompat : jatuh dari pohon kelapa
Madunya : istri kedua
Lemah pucuk : tidak bisa memiliki anak
Bekisar merah : poto lasi mengenakan kimono merah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar