“Peraturan
itu dibuat bukan untuk mempersulit, tapi untuk mempermudah”
(kata
calon ibu kos yang baru)
Kuanggukan kepala pelan, tersenyum dan menunduk. Kupandang
wajah ubin dalam-dalam. Kelabu terselimuti oleh debu seperti pikiranku saat
itu. Tidak semua yang diucap sehati denganku, tapi untuk berontak aku tak
mampu. Setelah semua kuanggap selesai aku berpamitan. Derit pagar besi tanpa
celah membuat bangunan dibaliknya nampak megah,menyuguhkan keamanan,ketentraman
dan kedamaian,atau malah laiknya sangkar yang memenjarakan sayap elang untuk
berkembang. Entahlah.
Mengayun kaki menyibak debu jalanan di waktu senja kala itu. Setiap
jengkal langkah carut marut kerja otak semakin cepat. Berburu jawaban akan kata
terakhir yang didengar sebelum berpamitan. Ya itu adalah satu-satunya alasan
terbesar kenapa teman yang diperjuangkan akhirnya mundur dan justru menceraikan,menjauh
untuk terpisah pelan-pelan. Hidup terkekang itu alasan yang logis memang. Tapi
apakah benar begitu? Lantas apa yang disebutkan oleh calon ibu kos ku yang
baru? Dari raut muka beliau bukanlah tipe orang yang asal bicara. Dua putranya
yang masih kecil-kecil aku yakin beliau penyabar dan penuh kasih sayang.
“kalau memang keluar malem untuk urusan kuliah,saya rasa tidak
ada masalah, toh semua juga akan memaklumi. Tapi kalau masalah yang lain ya
pasti tahun depan tidak lagi disini”,, tuturnya.
Terus saja kuputar rekaman,merangkai setiap pesan-pesan yang telah
disampaikan. Walhasil kutemukan jawaban yang memuaskan,untukku sendiri. Dan
akan tetap kusimpan hingga nanti.
Peraturan itu dibuat tidak untuk
mempersulit,tapi untuk mempermudah..Mengingat niat awal dan harapan masa depan,
sebagai sirine bukan pembatas,hanya saja meluruskan jalan-jalan yang akan
dilewati nanti agar tidak terjebak dalam jalur yang sudah dilalui.
Dan percayalah ini baik untukmu.
Kutulis dibalik kertas warna-warni,kemudian kutempel di dinding
dekat cermin atau tempat manapun yang kuanggap nyaman. Jika orang lain masuk
kamarku,pastilah menganggap aku sinting menempel-nempel kertas kosong terserak
disana-sini. Tapi untuk menyamarkan agar aku tidak terlihat sangat sinting maka
ku sisipkan kertas bertulis kalimat yang kusuka dengan aksara yang tidak semua
bisa membaca. Maka orang yang melihat akan berkomentar dinding kamar kumuh yang
abstrak.
Sasangka semakin meninggi,cahaya temaram
yang tidak menyilaukan. Jadi terpikir protes-protes yang berjejal dalam
pikiran,yang telah sekian lama tertimbun dan akhirnya berlalu begitu saja kini
sedikit demi sedikit kuperdebatkan kembali. Pertanyaan kenapa? Kenapa? Kenapa?
Adalah sihir paling ampuh untuk jadi pembangkang. Tapi berdampak positif
memaksa nurani untuk berpikir.
4 juli 2014-06-04

Tidak ada komentar:
Posting Komentar