Rabu, 29 Oktober 2014



“Peraturan itu dibuat bukan untuk mempersulit, tapi untuk mempermudah”
(kata calon ibu kos yang baru)


Kuanggukan kepala pelan, tersenyum dan menunduk. Kupandang wajah ubin dalam-dalam. Kelabu terselimuti oleh debu seperti pikiranku saat itu. Tidak semua yang diucap sehati denganku, tapi untuk berontak aku tak mampu. Setelah semua kuanggap selesai aku berpamitan. Derit pagar besi tanpa celah membuat bangunan dibaliknya nampak megah,menyuguhkan keamanan,ketentraman dan kedamaian,atau malah laiknya sangkar yang memenjarakan sayap elang untuk berkembang. Entahlah.

Mengayun kaki menyibak debu jalanan di waktu senja kala itu. Setiap jengkal langkah carut marut kerja otak semakin cepat. Berburu jawaban akan kata terakhir yang didengar sebelum berpamitan. Ya itu adalah satu-satunya alasan terbesar kenapa teman yang diperjuangkan akhirnya mundur dan justru menceraikan,menjauh untuk terpisah pelan-pelan. Hidup terkekang itu alasan yang logis memang. Tapi apakah benar begitu? Lantas apa yang disebutkan oleh calon ibu kos ku yang baru? Dari raut muka beliau bukanlah tipe orang yang asal bicara. Dua putranya yang masih kecil-kecil aku yakin beliau penyabar dan penuh kasih sayang. 

“kalau memang keluar malem untuk urusan kuliah,saya rasa tidak ada masalah, toh semua juga akan memaklumi. Tapi kalau masalah yang lain ya pasti tahun depan tidak lagi disini”,, tuturnya.
Terus saja kuputar rekaman,merangkai setiap pesan-pesan yang telah disampaikan. Walhasil kutemukan jawaban yang memuaskan,untukku sendiri. Dan akan tetap kusimpan hingga nanti.

Peraturan itu dibuat tidak untuk mempersulit,tapi untuk mempermudah..Mengingat niat awal dan harapan masa depan, sebagai sirine bukan pembatas,hanya saja meluruskan jalan-jalan yang akan dilewati nanti agar tidak terjebak dalam jalur yang sudah dilalui.

Dan percayalah ini baik untukmu.

Kutulis dibalik kertas warna-warni,kemudian kutempel di dinding dekat cermin atau tempat manapun yang kuanggap nyaman. Jika orang lain masuk kamarku,pastilah menganggap aku sinting menempel-nempel kertas kosong terserak disana-sini. Tapi untuk menyamarkan agar aku tidak terlihat sangat sinting maka ku sisipkan kertas bertulis kalimat yang kusuka dengan aksara yang tidak semua bisa membaca. Maka orang yang melihat akan berkomentar dinding kamar kumuh yang abstrak.

Sasangka semakin meninggi,cahaya temaram yang tidak menyilaukan. Jadi terpikir protes-protes yang berjejal dalam pikiran,yang telah sekian lama tertimbun dan akhirnya berlalu begitu saja kini sedikit demi sedikit kuperdebatkan kembali. Pertanyaan kenapa? Kenapa? Kenapa? Adalah sihir paling ampuh untuk jadi pembangkang. Tapi berdampak positif memaksa nurani untuk berpikir.
4 juli 2014-06-04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar