sebuah subjudul dari :
Supriyono, Imam 2008. Guru Goblok ketemu Murid Goblok.Surabaya
: SNF Consulting.
untuk
bapak ibu guru di sekolah
buku
ini perlu juga dibaca oleh anda para bapak dan ibu guru. bagi anda,buku ini
bisa menjadi perenungan ulang terhadap proses pendidikan. proses pendidikan
dimana anda terlibat secara aktif dalam pekerjaan keseharian.
sebagai
pembuka renungan coba bayangkan situasi berikut ini. dalam sebuah kesempatan,
terkumpullah 100 wisudawan fakultas sastra yang diambil dari berbagai fakultas
sastra dari berbagai perguruan tinggi di tanah air secara acak. kepada mereka
yang telah menjalani proses pendidikan hingga jenjang sarjana ini diminta untuk
menjawab pertanyaan sederhana : siapakah yang telah menghasilkan karya sastra yang
diterima pasar ?
pada
kesempatan lain terkumpullah 100 wisudawan dokter yang juga diambil secara acak
dari seluruh tanah air. kepada meraka juga diminta untuk menjawab pertanyaan
sederhana : siapakah yang sudah bisa mengobati pasien dan sembuh?
coba
anda pikirkan. berapa orang wisudawan fakultas sastra yang angkat tangan? di
berbagai kesempatan situasi ini saya gambarkan dan tanyakan, jawaban hampir
seragam. tidak sampai 10% wisudawan fakultas sastra yang mampu membuat karya
sastra yang diterima pasar.
selanjutnya
, coba anda pikirkan. berapa orang dari 100 wisudawan dokter yang mampu
mengobati pasien dan sembuh? pada berbagai kesempatan situasi ini saya
gambarkan dan tanyakan , jawaban menggembirakan : 100% wisudawan dokter mampu
mengobati pasien dan sembuh.
pertanyaan
selanjutnya, apa perbedaan proses pendidikan di fakultas sastra dan fakultas
kedokteran? tidak lain adalah masalah praktek. setiap mahasiswa fakultas
kedokteran tidakmungkin lulus kecuali telah mempraktekan ilmu kedokterannya
kepada ratusan bahkan ribuan orang. sebaliknya , tidak banyak mahasiswa
fakultas sstra yang mempraktekan ilmu kesastraannya.
maka
janagan heran kalau kemudian hasilnya pun berbeda. sedikit sekali alumni
fakultas satra yang mampu menghasilkan karya sastra.
kalau
contoh diatas adalah fakultas sastra, bukan berarti menjelekkan fakultas sastra . ini semata – mata contoh
saja. fakultas- fakultas yang model pembelajarannya tidak seperti fakultas
kedokteran juga kuran lebih begitu. coba renungkan , berapa % alumni fakultas
ekonomi jurusan menejemen yang ketika diwisuda sudah mampu menjadi menejer?
ini
menjadi renungan bagi bapak ibu guru. renungan bagaimana memberikan proses
pedidikan dan pembelajaran yang tepat bagi para siswa. renungan bahwa proses
pembelajaran untuk menjadi seorang yang ahli jauh lebih panjang dan rumit dari
pada pembelajaran untuk hanya sekedar tahu secara teori.
mengapa
bisa dikatakan 100% wisudawan dokter bisa mengobati orang sakit? tentu saja
adalah karena model pembelajarannya yang selalu menekankan. bahkan prakteknya
pun bukan sekali dua kali. prakteknya ribuan kali dengan bimbingan para dokter
senior dengan rentang waktu yang panjang. rata – rata masa tempuh seorang
mahasaiswa kedokteran sampai wisuda menjadi dokter lebih panjang dari pada fakultas
lain.
belajar
untuk mahir secara praktek akan lebih menjadikan seorang merasa bodoh. lebih
menjadikan murid – murid anda merasa goblok dari pada belajar hanya sekedar
teori. pembelajaran untuk keahlian dan kemahiran menuntut suatu yang lebih
sempurna. tentu saja dengan jangka waktu yang amat sangat panjang. the long live education.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar