Kamis, 18 Oktober 2012

resah menghujam nafas


Rasa dihati masih kemarin kita jalan bersama, hujan – hujan kau malah jemput aku. Kau diam akupun jual mahal. Hingga salah satu sahabatku siti membuka mulut dan menyuruh aku cepat naik agar tak biarkan kamu menunggu lebih lama, kau pun juga cepat naik bis. Kau hanya tersenyum dalam basah kuyup jaket putih lurik hitam ‘ aku suka jaketmu’
Segera kau tancap gas saat ku benarkan dudukku, pakaian seragam biru. Indah
Seindah kenangan waktu bersamamu
Saat kini ku jalan sendirian tanpa siti dan kamu, tapi kenapa rasanya ada harapan yang terbesit dalam pikiranku. Kamu kembali menjemputku menerjang gerimis tak hiraukan mengguyur jaket putih lurik hitammu
Dengan bebek merah melindung kepala yang berhasil buatku ingat kamu, karena itulah khas mu saat mataku kabur tak jelas liat keberadaanmu.. namun dari jauh hadirmu telah terdeteksi secara jelas hatiku berdegup kencang disertai jantung memompo darah serasa lebih cepat dua kali lipat.
Indahnya saat kau merayu agar aku cepat naik agak kau bisa teduhkan aku di halte itu, dan saat itu pula aku mati – matian ngentol
Hingga kau menangis saat bersama dengan kawanku. Aku yang jahat kata mereka
Aku tak pernah mengerti akan perasaanmu toh aku juga tak tahu dengan perasaanku sendiri.
Aku tetap bersikukuh pada prinsipku. No! dan aku g mau di atur oleh kamu dan siapa pun
Tanpa sadar kata mereka benar, ora usah ngentol ndang budal ! kalian tak bisa butakan mata kami, kemanapun kaliyan pergi pasti kami tahu. Kemana?
Cengar – cengir… aku tetap ngentol di depan bahkan dibelakang kawan – kawan. Tetap saja itulah sebenar – benarnya isi hatiku saat itu
Sampai akhirnya mereka cegeh, kamu harusnya g ngentol dan bersyukur karena dia tetap bersamamu walau bagaimanapun (kelakuan aku yang seperti tu, sangat acuh) pada akhirnya suatu saat dia pasti akal capek berhenti dan pergi
Aku tak pernah sadari gejolak air yang mengalir dari hulu ke hilir
Begitu pelan namun pasti sampai ke dasar lautan… seperti jago merah melahap gedung bertingkat
Sepele hanya dari sepuntung rokok yang di lempar ke lantai dan diinjak sepatu namun masih membara pucuknya
Bisa membakar habis segala yang ada tanpa ampun.
Aku pun seperti punting rokok yang terbuang itu, awalnya aku biasa, kata nya membakar dan akhirnya membumi hanguskan smua yang ada. Busyet.
Aku tlah ikuti alur elegy yang ada, dan pada dasarnya aku senang bahkan sangat terkesan.
Semua tak berjalan mulus, malah setiap kali bertemu jadi puyeng entah ada prahara yang jadi bahan perkara.
Semakin memanas, dan membara… meledak. Berhamburan entah kemana kepingan itu
Enyyah utuh ataupun bercecer dengan tanpa ampun.
Sekejap semua sirna, diatas lisanku yang sembilu katanya, bagai katana menghujam leher angsa hingga  tak berkutik
Dia pergi hilang
Konyolnya kini aku sepi, menyesal dan tanyakan apa yang telah terjadi dengan lisannya dirinya dan dia, yang telah hilang
Tak ada jawaban yang buatku pahami dan sanggupi , dan kekonyolan it uterus berlanjut hingga akhirnya
Tak urung jua ku tanyakan lewat massage handphone dengan card yang baru. Dulu sempat dia kasih tahu ke aku kalau punya number baru, katanya hanya sementara buat sambut maba di fak nya, karena yang aku tahu sifat dia tak ingin nomornya di publikasikan oleh siapapun, entah apa maunya.
Aku pun sewajarnya menerima, dan pada akhirnya aku tahu bahwa nomor itu lah yang sekarang malah dia unggulkan. Dengan alasan yang dulu mahal.
Aku tak habis pikir kenapa yang ada padanya jadi masalah buat ku
Sebaliknya kesukaaku adalah problem baginya.. pers
Dia bls pesanku, dengan getir tapi tetap aku tak paham
Berulang
Sekarang aku paham, dan tak akan kuulang
Sebisa mungkin aku tak kan campuri urusan dalam kehidupannya lagi
Sakit hati, memang tak enak rasanya. Aku telah berada diposisinya
Sebisa mungkin kulupakan bukan dia namun kenangna indah bersama
Namun sulit,apakah  bisa. Karena sakit hatiku bukan atas dirinya dan yang ada dalam kenanggan itu, namun yang lain yang masihku keanl barusan dia pun juga seorang perempuan
Apalagi dia pasti lebih sakit karena tak cukup sebentar keanl, dan aku adalah yang sangat dia cinta (katanya sih)
Aku hanya bisa membayangkan lebih getir dan tajam rasa menusuk jantunf dan organ vital dalam tubuhnya
Hingga buatnya hancur melihat muka ku bagai debu. Tak berguna blas
Aku ingin marah pada diriku sendiri,
Kata dia jalani aja semua yang ada di depan mata, seperti yang ada sebelumnya dan yang telah berjalan kemarin
Namun hanya satu kesimpulan yang dapat aku ambil
Ternyata aku telah jatuhcinta
Dan cintaku tak akaan berkurang karena perceraian dan tak akan bertambah karena kebaikan
Sampai nanti sampai mati, kebaikanmu kan ku jadikan bingkisan doko
Sepuluh tahun, aku juga… masa depan yang cerah. Sama
Siapapun yang datang saat itu, pasti yang terbaik buatku
Dan aku berharap itu kamu




Tidak ada komentar:

Posting Komentar