Lontarkan satu
soal tentang hati setiap insan
Siapa kamu dan
apa yang kamu mau?
Terbersit
pikiran melayang satu minggu yang lalu saat jadi ats, atau tiga minggu yang
lalu saat aku duduk manis jadi peserta ESQ.
Soal
yang sama dan telah terjawab saat ESQ.
Yang
diinginkan manusia adalah SURGA. Benar sekali
Itulah
hal pokok yang mendasari kita dalam beribadah kepad Sang pencipta. Tanpa
disadari dengan pemikiran yang lebih lanjut, dengan apa kita bisa mencapai
surge? Apakah kita sudah mulai mengumpulkan investasi buat modal beli Tiket
pesawat ke Surga? Emang harga tiket SURga semurah dan semudah yang kamu
bayangkan? Apakah kamu sudah siapkan modal lain (mental) yang matang?
NO
!
Tak
segampang udelmu. Bahkan andai kita mau mudik, lihat rel keretanya saja belum
apalagi keretanya?. Sangat naïf jika kita menganggap sudah lebih dahulu satu
langkah ke depan dari start umur yang disediakan.
Ditambah,
parahnya lagi kita belum menemukan jati diri. Siapa kah aku sesungguhnya? Dan
apa mau ku? Kali ini mohon jangan jawab SURGA. Lebih ke hal yang realistis.
Kembalilah ke dalam dirimu, dan tanyakan ke dalam relung hatimu yang paling
dalam siapa dirimu yang sebenarnya?
Sudah
pantaskah dianggap sebagai mahasiswa?
Di
sebuah forum atau seminar, diajukan satu pertanyaan kepada para audiens,disini
siapa yang mau beasiswa ke luar negeri ? seluruhnya mengacungkan jari dengan
lantang dan PD “saya”.
Sebelumnya
apa kamu sudah puma rancangan masa depan,mau diaapakan kalo kamu dapat beasiswa
itu dan siapa kamu itu (kembali ke pokok).
Kembali
tengok ke dalam hatimu. Siapa kamu sebenarnya. Yang dimaksudkan pertanyaan ini
adalah kamu itu punya bakat apa? Setiap manusia punya bakat sendiri – sendiri,
dan jika dia dapat mengetahuuinya dan mengembangkannya menjadi suatu power
“keahlian atau kompetensi” yang tidak bisa dicontoh dan di miliki oleh siapapun
selain kamu. So apakah bakatmu? Jangan pernah bohongi dirimu sendiri. Suka
nulis tapi tak pernah ada satupun yang mengetahui, karyamu pun tak pernah
nongol di media. Bagaimana orang bisa menilai seberapa kamu berbakat, apa benar
kamu bakat itu atau tidak. Beranikan dirimu tuk bebas expresikan dirimu kepada
khalayak. Hingga kau dapat penilaian yang sangat penting buat kehidupanmu di
masa depan. Jika para penilai mengatakan bahwa kamu tak bakat dalam bidang
menulis mungkin ada bakat lain yang lebih kamu sembunyikan yang pada faktanya
malah harus kamu angkat dan kembangkan menyeluruh. Bakat adalah yang :
enjoy,excellent, easy saat kamu melakukannya. Dalam artian “menulis” kau merasa
senang menulis, dan mudah menuang pikiran dalam otak ketimbang teman – temanmu
yang lain.
Karya:
boleh dikritik BAGUS, namun tidak boleh JELEK. Ibarat mengandung ide dalam otak
dan melahirkannya sendiri. Orang lain tak berhak komentar jelek. Toh itulah
ilikmu, tak ada urusan dengan mereka.
Apa
kemauanmu? Orientasi pada pandangan masa depan. Setelah bakatmu terdeteksi
dengan jelas,kau pun paham akan peran dan jati dirimu, giliran kau arahkan ke
jalur yang sesuai. Media massa berhubungan dengan tulis – menulis. Hal ini
dapat mengaitkan antara bakat dan usahamu. Jangan sampai tersesat dan salah
jalur. Karena kau tak akan sampai kedalam kepuasaan batin yang sesungguhnya.
Bergabunglah
dengan wadah yang lebih cekung dan luas. Hingga aspirasi mu tersalurkan. Diluar
sana (kampusmu) banyak kumpulan orang yang berbakat dan ber”mau “ yang sama sepertimu.
Jangan menutup diri karena bukumu tak selamanya mengulas tentang attitude dan
praktek tingkah laku. Organisasi itu penting dilain dituntun untuk pintar
berpengetahuan luas, juga harus pintas menempatkan dirinya dimasyarakat.
Mulailah
merenung, lakukan dengan posisi yoga jika perlu.
Semoga
kau temukan jati dirimu.
Dan
doakan aku bersama mu . amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar