Kamis, 20 Juni 2013

PERBEDAAN F. KEDOKTERAN & F. SASTRA

sebuah subjudul dari :
Supriyono, Imam 2008. Guru Goblok ketemu Murid Goblok.Surabaya : SNF Consulting.

untuk bapak ibu guru di sekolah

buku ini perlu juga dibaca oleh anda para bapak dan ibu guru. bagi anda,buku ini bisa menjadi perenungan ulang terhadap proses pendidikan. proses pendidikan dimana anda terlibat secara aktif dalam pekerjaan keseharian.
sebagai pembuka renungan coba bayangkan situasi berikut ini. dalam sebuah kesempatan, terkumpullah 100 wisudawan fakultas sastra yang diambil dari berbagai fakultas sastra dari berbagai perguruan tinggi di tanah air secara acak. kepada mereka yang telah menjalani proses pendidikan hingga jenjang sarjana ini diminta untuk menjawab pertanyaan sederhana : siapakah yang telah menghasilkan karya sastra yang diterima pasar ?
pada kesempatan lain terkumpullah 100 wisudawan dokter yang juga diambil secara acak dari seluruh tanah air. kepada meraka juga diminta untuk menjawab pertanyaan sederhana : siapakah yang sudah bisa mengobati pasien dan sembuh?
coba anda pikirkan. berapa orang wisudawan fakultas sastra yang angkat tangan? di berbagai kesempatan situasi ini saya gambarkan dan tanyakan, jawaban hampir seragam. tidak sampai 10% wisudawan fakultas sastra yang mampu membuat karya sastra yang diterima pasar.
selanjutnya , coba anda pikirkan. berapa orang dari 100 wisudawan dokter yang mampu mengobati pasien dan sembuh? pada berbagai kesempatan situasi ini saya gambarkan dan tanyakan , jawaban menggembirakan : 100% wisudawan dokter mampu mengobati pasien dan sembuh.
pertanyaan selanjutnya, apa perbedaan proses pendidikan di fakultas sastra dan fakultas kedokteran? tidak lain adalah masalah praktek. setiap mahasiswa fakultas kedokteran tidakmungkin lulus kecuali telah mempraktekan ilmu kedokterannya kepada ratusan bahkan ribuan orang. sebaliknya , tidak banyak mahasiswa fakultas sstra yang mempraktekan ilmu kesastraannya.


maka janagan heran kalau kemudian hasilnya pun berbeda. sedikit sekali alumni fakultas satra yang mampu menghasilkan karya sastra.
kalau contoh diatas adalah fakultas sastra, bukan berarti menjelekkan  fakultas sastra . ini semata – mata contoh saja. fakultas- fakultas yang model pembelajarannya tidak seperti fakultas kedokteran juga kuran lebih begitu. coba renungkan , berapa % alumni fakultas ekonomi jurusan menejemen yang ketika diwisuda sudah mampu menjadi menejer?
ini menjadi renungan bagi bapak ibu guru. renungan bagaimana memberikan proses pedidikan dan pembelajaran yang tepat bagi para siswa. renungan bahwa proses pembelajaran untuk menjadi seorang yang ahli jauh lebih panjang dan rumit dari pada pembelajaran untuk hanya sekedar tahu secara teori.
mengapa bisa dikatakan 100% wisudawan dokter bisa mengobati orang sakit? tentu saja adalah karena model pembelajarannya yang selalu menekankan. bahkan prakteknya pun bukan sekali dua kali. prakteknya ribuan kali dengan bimbingan para dokter senior dengan rentang waktu yang panjang. rata – rata masa tempuh seorang mahasaiswa kedokteran sampai wisuda menjadi dokter lebih panjang dari pada fakultas lain.
belajar untuk mahir secara praktek akan lebih menjadikan seorang merasa bodoh. lebih menjadikan murid – murid anda merasa goblok dari pada belajar hanya sekedar teori. pembelajaran untuk keahlian dan kemahiran menuntut suatu yang lebih sempurna. tentu saja dengan jangka waktu yang amat sangat panjang. the long live education.              


Rabu, 05 Juni 2013

Terimakasih Allah


Rezeki dan Keyakinan


Aku yakin, tuhan akan memberi jalan pada hambahanya yang membutuhkan, yang pikirnanya udah mentok( pastinya pikiran yang susah adalah pikiran yang sudah mentok nggak meneMukan jalan keluarnya). 

Aku yakin, tuhan akan berikan ilham tanpa adah yang disangka – sangka, begitu pula dengan rezeki tanpa kita tahu rezeki dibagikan AllaH dan disampaikan kita lewat seorang malaikat. Tak ada takaran dan ukuran berapa rezeki yang akan kita dapatkan,karena itu emang kuasa Tuhan. Kalaupun toh kamu belum mendapat rezeki, mungkin Allah masih ingin melihat usaha dan doa mu. Allah senang bukan untuk di sembah namun sayang kepada semua mahluk ciptaannya tak terkecuali manusia. 

Yang aku ingikan saat ini adalah memiliki uang banyak. Namun harus kuralat memiliki uang yang dapat mencukupi hidupku, meringankan beban orang tua, dan setidaknya dapat kugunakan untuk berseedekah. Namun aku tau mungkin adalah saat terbaik untuk aku dapat memperolehnya, Tuhan masih menentukan hari dan kapan aku diberi, entah lewat apa aku tak tahu. Mungkin bapak, mungkin ibu, mungkin juga aku mampu sendiri lewat tulisan yang aku buat aku bisa memperoleh rizeki dari jalan yang kau ridhoi dan mbarokah i. Amin…

“terkutip dari nasihat ustad di gazebo fssr dalam karsen mengatakan bahwa kalau memiliki masalah sampai kamu mentok jalan keluarnya maka serahkan semua nya pada Allah semata, niscaya kau akan dapatkan penerangan.
^salam menghibur diri dalam keyakinan penuh sehabis solat subuh dan tadarus 1 juz
dan jika kamu merasa cukup, maka Allah akan mencukupkan kebutuhanmu, (HR.BUKHORI)
Jumat 050413

Aywa dan Kacamata





Kegagalan kiranya tak akan meluruhkan segala semangat yang telah merasuk dalam jiwa seseorang, melekat erat dengan dinding – dinding asa, yang telah dibalut dengan sejuta doa dan usaha. Namun semua itu telah antah berantah, tak seorangpun yang mengetahui bagaimana gerangan hati Aywa saat itu. Dia melangkah malas meninggalkan area kelas, berjalan menyusuri koridor yang hanya mampu menatapnya legang , pepohonan pun tak berani menyapa saat aywa berjalan di samping nya. Keadaan tak baik sedang menimpa gadis itu.Dia merasa Tuhan tak adil, kalaupun semalam dia tak belajar atau tak buat catatan sih itu memang wajib disalahkan, namun hal itu beda. Catatan rumus yang keliru.Matanya menatap nanar, dari ujung  pelupuk matanya terlihat segumpal air yang tertahan untuk menetes, sesekali dia menengadahkan wajahnya keangkasa lepas, menahan butiran peluh yang siap menghujam mukanya.  Kakinya terus terayunkan, semakin cepat seperti bukan berjalan namun berlari kecil – kecil. Ia tak pedulikan seruan dari sahabat – sahabat yang memanggilnya sedari keluar dari ruangan melihat perubahan ekspesi Aywa .namun kali ini mereka tak mengejar, entah sibuk atau memberi kesempatan  Aywa berperang dengan dirinya sendiri sampai kemudian tenang dan kembali seperti semula. 
Ia melupakan semua agenda setelah selesai kuliah siang itu, yang sudah tertata rapi sebelum dia mengawali hari ini dan nanti. Seakan tak ada yang mempu menahan Away tetap berada disitu dan area sekitarnya. Tepat di bawah gerbang pintu keluar belakang kampus, dia mulai kebingungan melangkah kemana. Pulang ke kontrakan bukanlah hal yang dapat membuatnya lebih baik dari saat itu, bertemu dengan banyak orang juga akan menyulut kesedihan yang mendalam. Dia berbalik arah menuju ke tepian danau di dekat fakultah MIPA. Memang ramai jika duduk di area hotspotnya lebih – lebih jika jam akhir kuliah seperti ini, namun baginya tak masalah, hijau rerumputan serta beningnya air danau baginya obat penawar lara, walau hanya sedikit dosisnya. Duduk di tepian danau emang tak dapat selesaikan masalah , namun setidaknya dapat mengundur atau melepaskan hal – hal yang membuatnya jengah.
Dia duduk diantara hamparan rumput yang luas, di tepinya tumbuh tanaman rumput berbunga orang bilang bunga Sembilan pagi, indah saat mekar namun tak seindah saat itu karena waktu telah menunjukan jam 1 siang, dan bekas bunga yang bermekaran Nampak begitu layu. Dia terdiam , menatap danau dalam – dalam, tanpa seuntai katapun terucap dari bibir manisnya yang terlihat selalu basah meski tak menggunakan liptic, lipglos, bahkan make up lainnya. Duduk terdiam cukup lama, bukan tak melakukan apa – apa namun dia berusaha menenangkan diri yang masih bergejolak amarah dalam jiwanya, yang masih tersumbat dan akan meledak. Entah gejolak amarah nya ini untuk siapa dia juga tak mengerti.Sesekali dia memejamkan matanya. Menghirup menikmati udara yang masih terbilang segar, maklum area danau dan taman di dalam kampus memang dibiarkan bebas dari asap kendaraan bermotor, dan hanya diberlakukan jalan satu arah, sehingga jika sepeda pun lewat, tak lebih dari 10 tiap jam nya. Lumayan tempat terbaik untuk belajar, mengerjakan tugas, berdiskusi, atau hanya menenangkan diri dan mengusir penat seperti dirinya.
Jiwanya mulai tenang, kondisi yang normal hingga dia merasakan suatu getaran dari dalam tasnya.Ponselnya bergetar 1 panggilan masuk.
“ assalamualaikum bunda…
“ waalaikum salam nduk, gimana keadaanmu? Udah pulang kuliah?
“ alhamdullialh sehat bun, ini baru saja rampung kuliah. Bunda sendiri gimana sehat?
“ alhamdullilah, masih seperti biasa, kadang harus berteriak untuk adik – adikmu nduk.
“ emm, oh iya gimana keadaan isa, dan naura bun? Masih jengkelin nggak..hihihi
Cerita bunda tentang adik – adik away membuat dirinya ssedikit terhibur dan riang, sejenak raganya melayang bersama bunda di rumah.Ketenangan jiwa dan kelembutan sosok terkasih terbanyang sungguh dekat melekat dan nyata, pandangan mata itu, milik bunda seorang.
“ ya begitulah nduk, selisih umur mereka yang tidak banyak membuat mereka tak mau mengalah satu sama lain. Syukurnya ibu selalu punya alasan untuk membujuk adik – adikmu.Jika sedang rewel.Namun yang bunda tak bisa jika mereka menanyakan kepulanganmu nduk, hampir setiap malam minggu mereka selalu menanyakan kapan kamu pulang.
Lanjutan cerita bunda membuat dirinya yang tadi sempat sumringah kinimeredam dan hampir sirna, tenggoroknya tercekat, suara tertahan, lisan terkunci, dan wajah seketika memanas seakan mendung menyelimuti.Air mata bergerak cepat memproduksi.akankah sangat dirindu orang- orang terkasih? Apakah aku memang telah lama meninggalkan mereka?Berusaha mengorek dan menengok relung hati yang terdalam. Memang benar adanya sudah 4 bulan ini tak pulang , telpon pun jarang mungkin hanya sepekan jika itu masih sempat, atau masih ingat mungkin.
“ Jika bunda bilang kamu sibuk kuliah, mereka mencari kalender dan menunjukakan angka – angka merah yang mendekati hari minggu, mereka mengira – ngira sendiri menebak – nebak kamu akan pulang saat tanggal itu….”,lanjut bunda.
Air matanya meleleh, perlahan. Terasa hangat .mulutnya masih saja terkunci, tertahankan tak mampu menjawab satu sua saja. syukurlah tak begitu lama nada sambung terputus, mungkin bunda kehabisan baterai soalnya tak ada telepon terulang kembali.
@@@
Mentari mulai menari, Aywa telah mengawali harinya lebih baik dari kemarin.Lebih bersemangat.Semenjak adzan subuh berkumandang dia telah siap di tempat beraduan, bercengkrama dengan mereka malaikat Tuhan. Memberi sujud ampunan atas semua kelalaian, akan kehidupan dan kekhusukan, kesadaran dan kemunafikan.
Fajar mulai malu – malu mengintip jendela Aywa, terlihat ia sibuk mengeluarkan barang – barang dalam kardus yang telah tertata rapi di bawah kolong tempat tidurnya. Berusaha menemukan sesuatu yang mungkin sangat berharga baginya.Yang telah tersimpanlama ketika dia berseteru dan perang dingin berpadu. Mulai satu persatu berantakan, tak peduli sekacau apapun pasti dia akan temukan. Sekotak kecil berukuran sepanjang polpoin , tabung biru. Berusaha walau hanya menghibur dirinya sendiri, lama tersimpan dan terlupakan.Namun yakin tak akan hilang. Tabung biru terlihat usang dengan debu menempel bagai pelindung sejatinya.
Dibukanya perlahhan, dan  mengeluarkanbenda di dalamnya dengan hati – hati. Mengusap kedua sisinya, sehingga sedikit lebih bersih dari sebelumnya, namun kini keadaan tak bersahabat freme nya putus sebelah, masih mungkin dipakai jika ada tali pengaitnya.Diambilnya jarum pentul dan diikatkan melingkar pada lubang bekas murnya. Sempurna walau dia tak yakin akan dapat bertahan berapa hari atau hanya berapa jam saja, tak masalah yang penting dapat melihat jelas kearah screen yang di pancarkan proyektornya.
@@@
“ Aywa,, sudah baikkan nih?” Ledek Masya saat mereka bertemu di koridor depan fakultas hukum.
“ merasa konyol jika aku tak peduli dengan diriku sendiri Sya, tentang apa yang sebenarnya sangat aku butuhkan”. Jawaban datar cukup tenang dan serius
“ tetap aku dukung kok Ay, dan menurutku itu keputusan terbaikmu”.
Keduanya terjebak dalam keasyikan ngorol di sepanjang jalan menuju ruang di gedung 5.Ketika mendekat ke bibir pintu, kehadiran Aywa dan Masya sontak buat mereka terpana.Entah kaget entah kecewa, namun mereka berdua tak begitu peduli, selagi tak berpuat kesalahan apapun.Mendekat dan bergabung dengan mitra sejwad.Merry, Lusi.
Marry ,Lusi terlihat kaget dan tersenyum saat Aywa duduk di sampingnya. Mereka tak menyangka penampilan Aywa berubah saat itu juga. Yang lebih pas berubah seperti sediakala sebelum mereka kenal lebih dkat , sebelum mereka membuat jadwal belajar kelompok bersama.Pakai kacamata lagi.
“ Ay, gerangan apakah yang membuatmu kembali, insaf atau kesetanan? Celetuk Marry yang sedari tadi memandang ay penuh penasaran. Namun ay tak menggubris .
Merasa ada kenyamanan dan rasa tenang berada ditengah mereka bersama benda itu lagi, walau tak sepenuhnya, karena tiap kali meneganakan tak bisa bebas menggerakkan kepalanya, was – was jika sewaktu – waktu roboh dan terinjak kakinya atau orang disekitarnya. Namun setidaknya memperjelas pandangan kearah screen yang hanya berjarak 2 meter. Tiap detik pun terasa begitu bernilai, mencatat semua yang ada dipandangannya dengan cermat dan teliti dalam kondisi berkonsentrasi.Hingga tak terasa waktu duduk begitu cepat berakhir.Makan siang menjadi agenda favorit yang rutin dilakukan.
“Ay, kamu mau pesen apa? Tanya Merry setelah Lusi dan Masya mengatakan makanan yang iya pesan.
“ aku sama aja deh.
“ okay…
Namun kebiasaan yang membosankan ketika menunggu giliran waitres menghampiri meja mereka dan meninggalkan berbagai pesanan sesuai menu yang dipesan untuk kemudian membiarkan para anaconda dalam perut berebut menyantap apapun yang ada .
“ Ay, kamu uda yakin bakal gunain itu lagi?
“ hmm, , . jawaban dengan anggukan yang mantap. Aku yakin aku akan lebih baik jika aku gunain ini dari pada tidak. Tambahnya.
“ kalau kau mulai bosan akut, mending kau cepat – cepat menjauhkan benda itu dari hadapanmu, jangan sampai gagang freme yang masih utuh juga ikut patah kau lembar ke lantai seperti tempo hari.. “ timpal Masya.
Suasana menjadi sunyi.Mereka tergelak dalam tawa yang begitu riang.
“ atau jika kamu mulai bosan, kau bisa ganti dengan freme yang baru,seperti Nilam yang tiap hari gonta - ganti freme mungkin bokap nya punya kios kali ya , bisa juga malah pake soft lense kaya si Farah, warnanya variasi natural, coklat, hitam, biru bahkan seperti mata kucing juga ada. Kamu juga bisa ganti – ganti kok “. Bujuk Lusi.
“ hey, akankah kau lupa? aku tak seperti mereka yang hidup dengan beasiswa dari pemerintah. Aku harus mikirin Ortu bayar uang semester dan hidupku disini.
“ iya juga sih Ay, tapi kamu nggak usah sedih toh kamu selalu cum laude, banyak lowongan biasiswa yang dapat kamu ajukan, oh,, bukannya kemarin juga udah kau masukkan berkas tawaran bea di fakultas? Udah pengumuman ? , Lusi begitu antusias. Dia yang banyak ngomong diantara ketiga temannya yang sedang tak sabar menahan kelaparan.
“ udah kok Lus, Cuma belum ada pengumuman yang lebih lanjut. Lagipula jika aku dapat rejeki itu, akan kubuat bayar biaya semester dan bayar buku – buku penunjang. Menurutku lebih penting dari pada freme baru”.Jawabnya begitu tenang dan tertata seperti orang yang telah membuat naskah pidato sejak lama.

“ betul banget tuh Ay, lebih betul lagi jika kita sekarang makan dulu”. Sambung Masya yang telah sumringah melihat maswaitres bersiap mengantar berbagai macam pesanan yang tadi uda dicatatnya.  
“ ah, setuju Lus. Memang beginilah kehidupan anak kos. Huzztt tapi jangan keras – keras jaim dikit. Hahahaha….mereka kembali tertawa .menerima piring dengan penuh semangat.
@@@
Keadaan freme yang agaknya memang sudah tak layak digunakan, membuat keadaan suntuk semakin terpuruk, terjerat dengan hati meraung tak sabar. Terlihat dari raut ay yang begitu kucel, lima hari kedepan terhitung dari yang pertama kalinya dia gunakan lensa itu kini dia udah lepas lagi. Merry, Lusi dan masya hanya bias geleng – geleng melihat kelakuan Away sahabatnya.
“ sebel deh rasanya, tau nggak kemarin waktu aku jalan ke perpus pusat bareng sama kakak tingkat e tiba – tiba frame itu roboh. Sumpah deh memalukan, ceriwis Ay saat berkumpul dengan parakawannya itu.
Namun berbeda dengan keadaan hati Ay yang sebenarnya.Dia bosan menerima kehadiran benda itu lagi.Udah hampir 7 tahun dia harus hadir dalam hidupnya.Bosan.Kadang dia berpikir kenapa Tuhan tak adil memberikan cobaan yang begitu berat. Katanya bias disembuhkan kalau pakai kacamata terus, buktinya juga sudah 7 tahun tapi minus malahtambah terus dan semakin parah, berdamai dengan buah sayur yang dibenci nomor satu. Wortel .katanya juga bias buat mata sehat , buktinya tiap hari ketika dirumah bunda selalu membuatkan jus wortel toh minus tetap tak berkurang, nyobain pengobatan alternative yang katanya dapat sembuhkan segala penyakit, malah hanya menciptakan  candu baru, keadaan semakin buruk ketika berhenti menggunakan produk. apa mungkin hanya ada satu jalan yang dapat ditempuh , operasi lasik. Gila,, biaya sama dengan sebuah motor baru tau. Huh kenapa Tuhan begitu tak adil.
Frustasi mulai tercipta, dalam keheningan atau kesuntukan.Mengutuk kehidupannya sendiri, menyalahkan Tuhan yang dianggapnya tak adil membagi kebahagiaan.Tak ada habisnya walau kemudian diganti dengan freme baru yang lebih elegant.
@@@
Mungkin saran temen – teman tentang freme baru cukup menarik dan mungkin juga akan merubah keadaanku ini jadi sedikit lebih baik. Terlihat juga uang bulan ini masih, bias digunakan untuk DP freme baru mungkin, atau sekedar nonton aja kalau emang harganya semahal gunung mas.
“ Lus, besok pulang kuliah ada acara nggak?
“ besok, ehmm kayak e nggak ddeh Ay, ada apa?
“ anterin aku ke optic yuk”, pintanya sedikit memohon.
  mau beli freme baru yaa? Atau mungkin softlens natural atau suka yang warna?“ , jawabnya dengan penuh semangat.
“ Cuma mau priksa ja, kalo lensa uda berubah ya nggak jadi beli”.jawabnya dengan nada enteng.
“ hmm, gimana kalo di optic baru dekat Manahan , masih promo loh siapa tahu disana bisa dapet yang lebih miring.”saran yang begitu mantap
“ boleh juga. Thanks Lus
Jam kuliah serasa cepat berakhir. Aywa dan Lusi lansung meluncur ke sebuah optic yang telah di bahasnya kemarin. Benar saja, optic yang masih baru ramai akan pengunjung yang ingin mencari produk dengan style terbaru atau mungkin cuma menonton aja.
Mengambil posisi dietalase sebelah yang kiranya masih longgar dan mencukupi untuk sekedar menonton style freme terbaru.Para  pramuniaga  juga masih terbilang muda – muda mungkin lulusan SmA atau sederajatnya. Ramah,salah satu dari mereka mendekati keberadaan tamu yang baru saja menimbrung. Aywa
“ bias dibantu mbak? Tanya nya begitu ramah. Senyumnya disela make up yang begitu tebal namun terlihat manis .
“ mbak kalo mau periksa dulu bisa?
“ oh boleh mbak, sebelah sini. Mari…” ajaknya sambil menunjuk kea rah sebuah ruangan periksa.
Ternyata tak seperti yang ada sebelumnya. Peralatan yang begitu rumit dan banyak kini Cuma beralih ke yang lebih canggih, seperti mikroskop yang digunakan untuk melihat sel –sel kulit bawang merah waktu di SMP,dengan alat itu sedetik saja sudah diketahui berapa minus yang di derita seorang pasien. Lebih akurat dari pada memilih lensa secara manual, lebih repot dan membutuhkan waktu yang lama, mungkin sepuluh, dua puluh, atau satu jam. Tergantung.
Tak pernah disangka kali ini harus menerima kabar yang semakin memburuk, minus bertambah parah.Pantes kaca lensa yang dipakai tak lagi cocok untuk Aywa.Terpaksa harus diganti mbak. Soalnya juga percuma kan menggunakan kacamata kalau penglihtan tak mendingan. Pramuniaga yang memeriksananya tadi juga menunjukkan harga – harga freme yang stndar, lebih miring dari harga biasanya kaerna memang inilah hari ke dua dari pertama kali optic ini diresmikan.Merogok kocek yang tidak begitu dalam, seharga puasa selama sebulan tak masalah.Demi diri dan kebutuhan yang lebih mendesak pikirnya.
Freme separo dengan motif polos warna netral hitam steenlis menurut Aywa patut untuk diambil.Kepulangannya membuahkan hasil. Besok jam 4 sore disuruh datang lagi dengan membawa kwitansi pemesanan. Okelah.
@@@
Perjalan panjang telah berakhir di sebuah ranjang empuk.Dirinya elah menyatu dengan kasur kesayangan yang kini telah dihuni oleh adik – adiknya, Isa dan Naura.Kedatangan yang begitu larut malam membuat dirinya lelah dan membiarkan tubuhnya terlentang diantara adik – adiknya.Berdesak sudah jadi kebiasaan sebelum Ay meninggalkan rumah untuk merantau.
“Nduk, Aywa…, suara bunda memanggil keberadaan nya di kamar.
“Dalem bun.Seraya melangkah mendekati sumber suara itu.
Bunda berada di ruang tamu yang disana ada Pak Umar beserta putranya Nizam habibi.Pak Umar menjelaskan panjang lebar dengan kedatangannya ke rumah Aywa.Putranya ingin masuk ke sekolah SMK, sekolah away dulu. Jurusan elektronika, sama juga dengan away dulu. Namun kini pak umar mendapat rintangan, secara akademis pengumuman resmi dari pemerintah putranya lulus dan dinyatakan di terima di smk away, namun sampai saat ini dia belum dinyatakan sebagai siswa disana, ada hal yang menahannya. Cek kesehatan sebagai berkas terpenting belum juga kelar.
“ kenapa begitu pak?”, Tanya Aywa penasaran.
“ dari pihak dokter, putra saya dinyatakan buta warna partial nduk”, jawabnya lirih dan hampir hilang ditelan hembusan nafasnya yang berdesir kencang.
Sontak membuat away tersedak. Mana mungkin Nizam Habibi buta partial, padahal Pak Umar sendiri yang aku tahu sudah bergelut dengan benda elektronik, menekuni profesi sebagai mekanik barang elektronik komersil. Mana mungkin putranya partial?Away terdiam cukup lama, dia berusaha menutupi keterkejutannya, dan berusaha membuat keadaan seakan baij saja.Setelah dia benar – benar tengan, saatnya buka mulut.Dihias senyum untuk menutup kegugupannya.
“ memang benar pak , cek kesehatan memang begitu penting dalam pertimbangan elektronika, karena berhubungan dengan kabel dan komponen yang begitu kecil rumit dan berbagai warna. Namun, apakah sudah dicek benar form kesehatan itu?
Pak Umar terlihat mengangguk pelan, wajahnya terlihat begitu memelas.Seakan belum percaya akan putanya,” sudah nduk”.
“ nduk, coba kamu yang nganter nak Nizam ke dokter yang berbeda siapa tau lebih akurat hasilnya. Kamu juga bias tanyakan pada bagian panitia penerimaan siswa baru, toh mungkin mereka juga guru – guru mu,” pinta bunda.
Hanya butuh 5 menit untuk mencapai lokasi sekolah smk ay, sekolah yang jadi favorit Nizam juga anak kota karena memang hanya itulah satu – satunya smk negeri yang ada jurusan elektro di kota. Tak ayal jika lebih banyak anak yang di tolak daripada diterima.Seperti orang penting yang sok tau, super hero mungkin ya, perfek benget.Melangkah dengan positif tinking menuju ke bagian panitia penerimaan siswa baru.Benar saja, semua adalah guru –guru ay.Dengan sedikit penjelasan yang telah diutarakan ay kepada panitia, ay menerima selembar form kesehatan.Menyuruh Nizam untuk cek kesehatan di dokter yang berbeda siapa tahu lebih akurat lagi.Baiklah.Meluncur ke dokter yang lebih terjamin fikirnya.
Antrean begitu panjang, menbuat hati semakin berdebar kencang.Tepat Nizam masuk ruang pemeriksaan. Ay memandang dengan cemas di balik jendela tempat dokter menanyai warna dan gambar. Tes mata yang begitu lama, membuat ay semakin cemas. Terlihat begitu susah Nizam menjawab pertanyaan dokter, lebih tepatnya membaca huruf atau angka yang ada di dalam gambar abstrak, titik – titik yang terdiri dari berbagai macam warna.
Nizam keluar dari pintu, form itu ditarik ay yang sudah tidak sabaran. Ay terbelalak tanpa sepatah katapun. Ay masuk ruangan.
“ permisi bu, mendatangi dokter yang baru saja memeriksa Nizam
“ iya, ada yang bias saya bantu? Senyum itu begitu ramah , tak mungkin perempuan ini bohong batin ay membujuk.
“ apakah benar data yang ada di form ini?, menunjukan form nizam.
“ iya mbak. Buta partial , itu tidak vatal kok mbak. Hanya saja penderita tidak dapat membedakan warna jika sudah dicampur menjadi satu.Namun kalau masih terpisah atau minimal ada jarak itu masih bias kok.
“ trus apa solusinya dok? Akankah bias dibantu kacamata? Wajah ay mulai berkeringat, dan serius menyimak penjelasan dokter kepadanya.
Senyum itu sepertinya bermaksud menenagkan ay, namun dirinya merasa tersindir.“ mbak buta partial ini bukan disebabkan karena kesalahan, namun karena dari gen turunan. Hal ini tidak dapat disembuhkan, dan tak bias menggunakan alat bantu apapun.
Seketika mendung menggulung pemikiran away yang begitu cerah, seakan dia berteriak karena ketidak adilan menaungi jiwanya yang kedua kalinya.Wajahnya pucat pasi, hanya dapat bergeming tak jelas.Saat melangkah keluar dari pintu, hanya satu kata yang keluar dari uneg – uneg aya yang sejatinya masih meragukan kebenaran form itu.
“ zam, apa bener kamu susah membedakan warna tadi?
Senyum yang begitu lugu terukir dari bibir Nizam yang begitu tipis. Tak memerlukan jawaban dari kata – kata yang terucap lisan Nizam, lewat bahas nin verbal itu Ay sudah paham akan semua yang terjadi. Melangkah meninggalkan dirinya berpijak, urungkan niat untuk kembali ke SMK demi mengumpulakan form yang ternyata tak lain isinya sama dari yang semula.  Ketika dia membuka tas untuk mengambil kunci, pandangannya menemukan tabung warna biru yang begitu terlihat menarik. Kacamata itu menunggu Ay memakainya, semenjak kehadirannya seminggu yang lalu belum pernah dia pakai sama sekali, hanya sekali saat mencoba di optic.Aywa membuka dan memakainya dengan senang hati.Subhanalloh Mahasuci Allah yang telah menciptakan keindahan untuk dinikmati dirinya begitu juga Nizam.Pastilah ada suatu hal yang direncanakan Allah untuknya.

_end









Data
Nama : Syafi Rilla Sari
NIM : c0112054
Status : Mahasiswa angkatan 2012 Jurusan Sastra Daerah UNS
Alamat : jl. Surya RT 2 / Rw 23 panggung rejo – Jebres – Surkarta
( belakang kampus)
No hp : 085735720698
Jenis karya : cerpen
Untuk syarat seleksi workshop menulis untuk remaja oleh Balai Soedjatmoko & Buletin Sastra Pawon.
Pertanggal 27 maret 2013