
Kegagalan
kiranya tak akan meluruhkan segala semangat yang telah merasuk dalam jiwa
seseorang, melekat erat dengan dinding – dinding asa, yang telah dibalut dengan
sejuta doa dan usaha. Namun semua itu telah antah berantah, tak seorangpun yang
mengetahui bagaimana gerangan hati Aywa saat itu. Dia melangkah malas
meninggalkan area kelas, berjalan menyusuri koridor yang hanya mampu menatapnya
legang , pepohonan pun tak berani menyapa saat aywa berjalan di samping nya.
Keadaan tak baik sedang menimpa gadis itu.Dia merasa Tuhan tak adil, kalaupun
semalam dia tak belajar atau tak buat catatan sih itu memang wajib disalahkan,
namun hal itu beda. Catatan rumus yang keliru.Matanya menatap nanar, dari
ujung pelupuk matanya terlihat segumpal
air yang tertahan untuk menetes, sesekali dia menengadahkan wajahnya keangkasa
lepas, menahan butiran peluh yang siap menghujam mukanya. Kakinya terus terayunkan, semakin cepat
seperti bukan berjalan namun berlari kecil – kecil. Ia tak pedulikan seruan
dari sahabat – sahabat yang memanggilnya sedari keluar dari ruangan melihat
perubahan ekspesi Aywa .namun kali ini mereka tak mengejar, entah sibuk atau
memberi kesempatan Aywa berperang dengan
dirinya sendiri sampai kemudian tenang dan kembali seperti semula.
Ia
melupakan semua agenda setelah selesai kuliah siang itu, yang sudah tertata
rapi sebelum dia mengawali hari ini dan nanti. Seakan tak ada yang mempu
menahan Away tetap berada disitu dan area sekitarnya. Tepat di bawah gerbang
pintu keluar belakang kampus, dia mulai kebingungan melangkah kemana. Pulang ke
kontrakan bukanlah hal yang dapat membuatnya lebih baik dari saat itu, bertemu
dengan banyak orang juga akan menyulut kesedihan yang mendalam. Dia berbalik
arah menuju ke tepian danau di dekat fakultah MIPA. Memang ramai jika duduk di
area hotspotnya lebih – lebih jika jam akhir kuliah seperti ini, namun baginya
tak masalah, hijau rerumputan serta beningnya air danau baginya obat penawar
lara, walau hanya sedikit dosisnya. Duduk di tepian danau emang tak dapat
selesaikan masalah , namun setidaknya dapat mengundur atau melepaskan hal – hal
yang membuatnya jengah.
Dia
duduk diantara hamparan rumput yang luas, di tepinya tumbuh tanaman rumput
berbunga orang bilang bunga Sembilan pagi, indah saat mekar namun tak seindah
saat itu karena waktu telah menunjukan jam 1 siang, dan bekas bunga yang
bermekaran Nampak begitu layu. Dia terdiam , menatap danau dalam – dalam, tanpa
seuntai katapun terucap dari bibir manisnya yang terlihat selalu basah meski tak
menggunakan liptic, lipglos, bahkan make up lainnya. Duduk terdiam cukup lama,
bukan tak melakukan apa – apa namun dia berusaha menenangkan diri yang masih
bergejolak amarah dalam jiwanya, yang masih tersumbat dan akan meledak. Entah
gejolak amarah nya ini untuk siapa dia juga tak mengerti.Sesekali dia
memejamkan matanya. Menghirup menikmati udara yang masih terbilang segar,
maklum area danau dan taman di dalam kampus memang dibiarkan bebas dari asap
kendaraan bermotor, dan hanya diberlakukan jalan satu arah, sehingga jika
sepeda pun lewat, tak lebih dari 10 tiap jam nya. Lumayan tempat terbaik untuk
belajar, mengerjakan tugas, berdiskusi, atau hanya menenangkan diri dan
mengusir penat seperti dirinya.
Jiwanya
mulai tenang, kondisi yang normal hingga dia merasakan suatu getaran dari dalam
tasnya.Ponselnya bergetar 1 panggilan masuk.
“
assalamualaikum bunda…
“
waalaikum salam nduk, gimana keadaanmu? Udah pulang kuliah?
“
alhamdullialh sehat bun, ini baru saja rampung kuliah. Bunda sendiri gimana
sehat?
“
alhamdullilah, masih seperti biasa, kadang harus berteriak untuk adik – adikmu
nduk.
“
emm, oh iya gimana keadaan isa, dan naura bun? Masih jengkelin nggak..hihihi
Cerita
bunda tentang adik – adik away membuat dirinya ssedikit terhibur dan riang,
sejenak raganya melayang bersama bunda di rumah.Ketenangan jiwa dan kelembutan
sosok terkasih terbanyang sungguh dekat melekat dan nyata, pandangan mata itu,
milik bunda seorang.
“
ya begitulah nduk, selisih umur mereka yang tidak banyak membuat mereka tak mau
mengalah satu sama lain. Syukurnya ibu selalu punya alasan untuk membujuk adik
– adikmu.Jika sedang rewel.Namun yang bunda tak bisa jika mereka menanyakan
kepulanganmu nduk, hampir setiap malam minggu mereka selalu menanyakan kapan
kamu pulang.
Lanjutan
cerita bunda membuat dirinya yang tadi sempat sumringah kinimeredam dan hampir
sirna, tenggoroknya tercekat, suara tertahan, lisan terkunci, dan wajah
seketika memanas seakan mendung menyelimuti.Air mata bergerak cepat
memproduksi.akankah sangat dirindu orang- orang terkasih? Apakah aku memang
telah lama meninggalkan mereka?Berusaha mengorek dan menengok relung hati yang
terdalam. Memang benar adanya sudah 4 bulan ini tak pulang , telpon pun jarang
mungkin hanya sepekan jika itu masih sempat, atau masih ingat mungkin.
“
Jika bunda bilang kamu sibuk kuliah, mereka mencari kalender dan menunjukakan
angka – angka merah yang mendekati hari minggu, mereka mengira – ngira sendiri
menebak – nebak kamu akan pulang saat tanggal itu….”,lanjut bunda.
Air
matanya meleleh, perlahan. Terasa hangat .mulutnya masih saja terkunci,
tertahankan tak mampu menjawab satu sua saja. syukurlah tak begitu lama nada
sambung terputus, mungkin bunda kehabisan baterai soalnya tak ada telepon
terulang kembali.
@@@
Mentari
mulai menari, Aywa telah mengawali harinya lebih baik dari kemarin.Lebih
bersemangat.Semenjak adzan subuh berkumandang dia telah siap di tempat
beraduan, bercengkrama dengan mereka malaikat Tuhan. Memberi sujud ampunan atas
semua kelalaian, akan kehidupan dan kekhusukan, kesadaran dan kemunafikan.
Fajar
mulai malu – malu mengintip jendela Aywa, terlihat ia sibuk mengeluarkan barang
– barang dalam kardus yang telah tertata rapi di bawah kolong tempat tidurnya.
Berusaha menemukan sesuatu yang mungkin sangat berharga baginya.Yang telah
tersimpanlama ketika dia berseteru dan perang dingin berpadu. Mulai satu
persatu berantakan, tak peduli sekacau apapun pasti dia akan temukan. Sekotak
kecil berukuran sepanjang polpoin , tabung biru. Berusaha walau hanya menghibur
dirinya sendiri, lama tersimpan dan terlupakan.Namun yakin tak akan hilang.
Tabung biru terlihat usang dengan debu menempel bagai pelindung sejatinya.
Dibukanya
perlahhan, dan mengeluarkanbenda di
dalamnya dengan hati – hati. Mengusap kedua sisinya, sehingga sedikit lebih
bersih dari sebelumnya, namun kini keadaan tak bersahabat freme nya putus
sebelah, masih mungkin dipakai jika ada tali pengaitnya.Diambilnya jarum pentul
dan diikatkan melingkar pada lubang bekas murnya. Sempurna walau dia tak yakin
akan dapat bertahan berapa hari atau hanya berapa jam saja, tak masalah yang
penting dapat melihat jelas kearah screen yang di pancarkan proyektornya.
@@@
“
Aywa,, sudah baikkan nih?” Ledek Masya saat mereka bertemu di koridor depan fakultas
hukum.
“
merasa konyol jika aku tak peduli dengan diriku sendiri Sya, tentang apa yang
sebenarnya sangat aku butuhkan”. Jawaban datar cukup tenang dan serius
“
tetap aku dukung kok Ay, dan menurutku itu keputusan terbaikmu”.
Keduanya
terjebak dalam keasyikan ngorol di sepanjang jalan menuju ruang di gedung
5.Ketika mendekat ke bibir pintu, kehadiran Aywa dan Masya sontak buat mereka
terpana.Entah kaget entah kecewa, namun mereka berdua tak begitu peduli, selagi
tak berpuat kesalahan apapun.Mendekat dan bergabung dengan mitra sejwad.Merry, Lusi.
Marry
,Lusi terlihat kaget dan tersenyum saat Aywa duduk di sampingnya. Mereka tak
menyangka penampilan Aywa berubah saat itu juga. Yang lebih pas berubah seperti
sediakala sebelum mereka kenal lebih dkat , sebelum mereka membuat jadwal
belajar kelompok bersama.Pakai kacamata lagi.
“
Ay, gerangan apakah yang membuatmu kembali, insaf atau kesetanan? Celetuk Marry
yang sedari tadi memandang ay penuh penasaran. Namun ay tak menggubris .
Merasa
ada kenyamanan dan rasa tenang berada ditengah mereka bersama benda itu lagi,
walau tak sepenuhnya, karena tiap kali meneganakan tak bisa bebas menggerakkan
kepalanya, was – was jika sewaktu – waktu roboh dan terinjak kakinya atau orang
disekitarnya. Namun setidaknya memperjelas pandangan kearah screen yang hanya
berjarak 2 meter. Tiap detik pun terasa begitu bernilai, mencatat semua yang
ada dipandangannya dengan cermat dan teliti dalam kondisi berkonsentrasi.Hingga
tak terasa waktu duduk begitu cepat berakhir.Makan siang menjadi agenda favorit
yang rutin dilakukan.
“Ay,
kamu mau pesen apa? Tanya Merry setelah Lusi dan Masya mengatakan makanan yang
iya pesan.
“
aku sama aja deh.
“
okay…
Namun
kebiasaan yang membosankan ketika menunggu giliran waitres menghampiri meja
mereka dan meninggalkan berbagai pesanan sesuai menu yang dipesan untuk
kemudian membiarkan para anaconda dalam perut berebut menyantap apapun yang ada
.
“
Ay, kamu uda yakin bakal gunain itu lagi?
“
hmm, , . jawaban dengan anggukan yang mantap. Aku yakin aku akan lebih baik
jika aku gunain ini dari pada tidak. Tambahnya.
“
kalau kau mulai bosan akut, mending kau cepat – cepat menjauhkan benda itu dari
hadapanmu, jangan sampai gagang freme yang masih utuh juga ikut patah kau
lembar ke lantai seperti tempo hari.. “ timpal Masya.
Suasana
menjadi sunyi.Mereka tergelak dalam tawa yang begitu riang.
“
atau jika kamu mulai bosan, kau bisa ganti dengan freme yang baru,seperti Nilam
yang tiap hari gonta - ganti freme mungkin bokap nya punya kios kali ya , bisa
juga malah pake soft lense kaya si Farah, warnanya variasi natural, coklat,
hitam, biru bahkan seperti mata kucing juga ada. Kamu juga bisa ganti – ganti
kok “. Bujuk Lusi.
“
hey, akankah kau lupa? aku tak seperti mereka yang hidup dengan beasiswa dari
pemerintah. Aku harus mikirin Ortu bayar uang semester dan hidupku disini.
“
iya juga sih Ay, tapi kamu nggak usah sedih toh kamu selalu cum laude, banyak
lowongan biasiswa yang dapat kamu ajukan, oh,, bukannya kemarin juga udah kau
masukkan berkas tawaran bea di fakultas? Udah pengumuman ? , Lusi begitu
antusias. Dia yang banyak ngomong diantara ketiga temannya yang sedang tak
sabar menahan kelaparan.
“
udah kok Lus, Cuma belum ada pengumuman yang lebih lanjut. Lagipula jika aku
dapat rejeki itu, akan kubuat bayar biaya semester dan bayar buku – buku
penunjang. Menurutku lebih penting dari pada freme baru”.Jawabnya begitu tenang
dan tertata seperti orang yang telah membuat naskah pidato sejak lama.
“
betul banget tuh Ay, lebih betul lagi jika kita sekarang makan dulu”. Sambung
Masya yang telah sumringah melihat maswaitres bersiap mengantar berbagai macam
pesanan yang tadi uda dicatatnya.
“
ah, setuju Lus. Memang beginilah kehidupan anak kos. Huzztt tapi jangan keras –
keras jaim dikit. Hahahaha….mereka kembali tertawa .menerima piring dengan
penuh semangat.
@@@
Keadaan
freme yang agaknya memang sudah tak layak digunakan, membuat keadaan suntuk
semakin terpuruk, terjerat dengan hati meraung tak sabar. Terlihat dari raut ay
yang begitu kucel, lima hari kedepan terhitung dari yang pertama kalinya dia
gunakan lensa itu kini dia udah lepas lagi. Merry, Lusi dan masya hanya bias
geleng – geleng melihat kelakuan Away sahabatnya.
“
sebel deh rasanya, tau nggak kemarin waktu aku jalan ke perpus pusat bareng
sama kakak tingkat e tiba – tiba frame itu roboh. Sumpah deh memalukan, ceriwis
Ay saat berkumpul dengan parakawannya itu.
Namun
berbeda dengan keadaan hati Ay yang sebenarnya.Dia bosan menerima kehadiran
benda itu lagi.Udah hampir 7 tahun dia harus hadir dalam hidupnya.Bosan.Kadang
dia berpikir kenapa Tuhan tak adil memberikan cobaan yang begitu berat. Katanya
bias disembuhkan kalau pakai kacamata terus, buktinya juga sudah 7 tahun tapi
minus malahtambah terus dan semakin parah, berdamai dengan buah sayur yang
dibenci nomor satu. Wortel .katanya juga bias buat mata sehat , buktinya tiap
hari ketika dirumah bunda selalu membuatkan jus wortel toh minus tetap tak
berkurang, nyobain pengobatan alternative yang katanya dapat sembuhkan segala
penyakit, malah hanya menciptakan candu
baru, keadaan semakin buruk ketika berhenti menggunakan produk. apa mungkin
hanya ada satu jalan yang dapat ditempuh , operasi lasik. Gila,, biaya sama
dengan sebuah motor baru tau. Huh kenapa Tuhan begitu tak adil.
Frustasi
mulai tercipta, dalam keheningan atau kesuntukan.Mengutuk kehidupannya sendiri,
menyalahkan Tuhan yang dianggapnya tak adil membagi kebahagiaan.Tak ada
habisnya walau kemudian diganti dengan freme baru yang lebih elegant.
@@@
Mungkin
saran temen – teman tentang freme baru cukup menarik dan mungkin juga akan
merubah keadaanku ini jadi sedikit lebih baik. Terlihat juga uang bulan ini
masih, bias digunakan untuk DP freme baru mungkin, atau sekedar nonton aja
kalau emang harganya semahal gunung mas.
“
Lus, besok pulang kuliah ada acara nggak?
“
besok, ehmm kayak e nggak ddeh Ay, ada apa?
“
anterin aku ke optic yuk”, pintanya sedikit memohon.
“ mau beli freme baru yaa? Atau mungkin
softlens natural atau suka yang warna?“ , jawabnya dengan penuh semangat.
“
Cuma mau priksa ja, kalo lensa uda berubah ya nggak jadi beli”.jawabnya dengan
nada enteng.
“
hmm, gimana kalo di optic baru dekat Manahan , masih promo loh siapa tahu
disana bisa dapet yang lebih miring.”saran yang begitu mantap
“
boleh juga. Thanks Lus
Jam kuliah serasa
cepat berakhir. Aywa dan Lusi lansung meluncur ke sebuah optic yang telah di
bahasnya kemarin. Benar saja, optic yang masih baru ramai akan pengunjung yang
ingin mencari produk dengan style terbaru atau mungkin cuma menonton aja.
Mengambil
posisi dietalase sebelah yang kiranya masih longgar dan mencukupi untuk sekedar
menonton style freme terbaru.Para pramuniaga
juga masih terbilang muda – muda mungkin lulusan SmA atau sederajatnya.
Ramah,salah satu dari mereka mendekati keberadaan tamu yang baru saja
menimbrung. Aywa
“
bias dibantu mbak? Tanya nya begitu ramah. Senyumnya disela make up yang begitu
tebal namun terlihat manis .
“
mbak kalo mau periksa dulu bisa?
“
oh boleh mbak, sebelah sini. Mari…” ajaknya sambil menunjuk kea rah sebuah ruangan
periksa.
Ternyata
tak seperti yang ada sebelumnya. Peralatan yang begitu rumit dan banyak kini
Cuma beralih ke yang lebih canggih, seperti mikroskop yang digunakan untuk
melihat sel –sel kulit bawang merah waktu di SMP,dengan alat itu sedetik saja sudah
diketahui berapa minus yang di derita seorang pasien. Lebih akurat dari pada
memilih lensa secara manual, lebih repot dan membutuhkan waktu yang lama,
mungkin sepuluh, dua puluh, atau satu jam. Tergantung.
Tak
pernah disangka kali ini harus menerima kabar yang semakin memburuk, minus
bertambah parah.Pantes kaca lensa yang dipakai tak lagi cocok untuk Aywa.Terpaksa
harus diganti mbak. Soalnya juga percuma kan menggunakan kacamata kalau
penglihtan tak mendingan. Pramuniaga yang memeriksananya tadi juga menunjukkan
harga – harga freme yang stndar, lebih miring dari harga biasanya kaerna memang
inilah hari ke dua dari pertama kali optic ini diresmikan.Merogok kocek yang
tidak begitu dalam, seharga puasa selama sebulan tak masalah.Demi diri dan
kebutuhan yang lebih mendesak pikirnya.
Freme
separo dengan motif polos warna netral hitam steenlis menurut Aywa patut untuk
diambil.Kepulangannya membuahkan hasil. Besok jam 4 sore disuruh datang lagi
dengan membawa kwitansi pemesanan. Okelah.
@@@
Perjalan
panjang telah berakhir di sebuah ranjang empuk.Dirinya elah menyatu dengan
kasur kesayangan yang kini telah dihuni oleh adik – adiknya, Isa dan Naura.Kedatangan
yang begitu larut malam membuat dirinya lelah dan membiarkan tubuhnya
terlentang diantara adik – adiknya.Berdesak sudah jadi kebiasaan sebelum Ay
meninggalkan rumah untuk merantau.
“Nduk,
Aywa…, suara bunda memanggil keberadaan nya di kamar.
“Dalem
bun.Seraya melangkah mendekati sumber suara itu.
Bunda
berada di ruang tamu yang disana ada Pak Umar beserta putranya Nizam habibi.Pak
Umar menjelaskan panjang lebar dengan kedatangannya ke rumah Aywa.Putranya
ingin masuk ke sekolah SMK, sekolah away dulu. Jurusan elektronika, sama juga
dengan away dulu. Namun kini pak umar mendapat rintangan, secara akademis pengumuman
resmi dari pemerintah putranya lulus dan dinyatakan di terima di smk away,
namun sampai saat ini dia belum dinyatakan sebagai siswa disana, ada hal yang
menahannya. Cek kesehatan sebagai berkas terpenting belum juga kelar.
“
kenapa begitu pak?”, Tanya Aywa penasaran.
“
dari pihak dokter, putra saya dinyatakan buta warna partial nduk”, jawabnya
lirih dan hampir hilang ditelan hembusan nafasnya yang berdesir kencang.
Sontak
membuat away tersedak. Mana mungkin Nizam Habibi buta partial, padahal Pak Umar
sendiri yang aku tahu sudah bergelut dengan benda elektronik, menekuni profesi
sebagai mekanik barang elektronik komersil. Mana mungkin putranya partial?Away terdiam
cukup lama, dia berusaha menutupi keterkejutannya, dan berusaha membuat keadaan
seakan baij saja.Setelah dia benar – benar tengan, saatnya buka mulut.Dihias
senyum untuk menutup kegugupannya.
“
memang benar pak , cek kesehatan memang begitu penting dalam pertimbangan
elektronika, karena berhubungan dengan kabel dan komponen yang begitu kecil rumit
dan berbagai warna. Namun, apakah sudah dicek benar form kesehatan itu?
Pak
Umar terlihat mengangguk pelan, wajahnya terlihat begitu memelas.Seakan belum
percaya akan putanya,” sudah nduk”.
“
nduk, coba kamu yang nganter nak Nizam ke dokter yang berbeda siapa tau lebih
akurat hasilnya. Kamu juga bias tanyakan pada bagian panitia penerimaan siswa
baru, toh mungkin mereka juga guru – guru mu,” pinta bunda.
Hanya
butuh 5 menit untuk mencapai lokasi sekolah smk ay, sekolah yang jadi favorit
Nizam juga anak kota karena memang hanya itulah satu – satunya smk negeri yang
ada jurusan elektro di kota. Tak ayal jika lebih banyak anak yang di tolak
daripada diterima.Seperti orang penting yang sok tau, super hero mungkin ya,
perfek benget.Melangkah dengan positif tinking menuju ke bagian panitia
penerimaan siswa baru.Benar saja, semua adalah guru –guru ay.Dengan sedikit
penjelasan yang telah diutarakan ay kepada panitia, ay menerima selembar form
kesehatan.Menyuruh Nizam untuk cek kesehatan di dokter yang berbeda siapa tahu
lebih akurat lagi.Baiklah.Meluncur ke dokter yang lebih terjamin fikirnya.
Antrean
begitu panjang, menbuat hati semakin berdebar kencang.Tepat Nizam masuk ruang
pemeriksaan. Ay memandang dengan cemas di balik jendela tempat dokter menanyai
warna dan gambar. Tes mata yang begitu lama, membuat ay semakin cemas. Terlihat
begitu susah Nizam menjawab pertanyaan dokter, lebih tepatnya membaca huruf
atau angka yang ada di dalam gambar abstrak, titik – titik yang terdiri dari
berbagai macam warna.
Nizam
keluar dari pintu, form itu ditarik ay yang sudah tidak sabaran. Ay terbelalak
tanpa sepatah katapun. Ay masuk ruangan.
“
permisi bu, mendatangi dokter yang baru saja memeriksa Nizam
“
iya, ada yang bias saya bantu? Senyum itu begitu ramah , tak mungkin perempuan
ini bohong batin ay membujuk.
“
apakah benar data yang ada di form ini?, menunjukan form nizam.
“
iya mbak. Buta partial , itu tidak vatal kok mbak. Hanya saja penderita tidak
dapat membedakan warna jika sudah dicampur menjadi satu.Namun kalau masih
terpisah atau minimal ada jarak itu masih bias kok.
“
trus apa solusinya dok? Akankah bias dibantu kacamata? Wajah ay mulai
berkeringat, dan serius menyimak penjelasan dokter kepadanya.
Senyum
itu sepertinya bermaksud menenagkan ay, namun dirinya merasa tersindir.“ mbak
buta partial ini bukan disebabkan karena kesalahan, namun karena dari gen
turunan. Hal ini tidak dapat disembuhkan, dan tak bias menggunakan alat bantu
apapun.
Seketika
mendung menggulung pemikiran away yang begitu cerah, seakan dia berteriak
karena ketidak adilan menaungi jiwanya yang kedua kalinya.Wajahnya pucat pasi,
hanya dapat bergeming tak jelas.Saat melangkah keluar dari pintu, hanya satu
kata yang keluar dari uneg – uneg aya yang sejatinya masih meragukan kebenaran
form itu.
“
zam, apa bener kamu susah membedakan warna tadi?
Senyum
yang begitu lugu terukir dari bibir Nizam yang begitu tipis. Tak memerlukan
jawaban dari kata – kata yang terucap lisan Nizam, lewat bahas nin verbal itu Ay
sudah paham akan semua yang terjadi. Melangkah meninggalkan dirinya berpijak,
urungkan niat untuk kembali ke SMK demi mengumpulakan form yang ternyata tak
lain isinya sama dari yang semula.
Ketika dia membuka tas untuk mengambil kunci, pandangannya menemukan
tabung warna biru yang begitu terlihat menarik. Kacamata itu menunggu Ay
memakainya, semenjak kehadirannya seminggu yang lalu belum pernah dia pakai
sama sekali, hanya sekali saat mencoba di optic.Aywa membuka dan memakainya
dengan senang hati.Subhanalloh Mahasuci Allah yang telah menciptakan keindahan
untuk dinikmati dirinya begitu juga Nizam.Pastilah ada suatu hal yang direncanakan
Allah untuknya.
_end
Data
Nama
: Syafi Rilla Sari
NIM
: c0112054
Status
: Mahasiswa angkatan 2012 Jurusan Sastra Daerah UNS
Alamat
: jl. Surya RT 2 / Rw 23 panggung rejo – Jebres – Surkarta
(
belakang kampus)
No
hp : 085735720698
Jenis
karya : cerpen
Untuk
syarat seleksi workshop menulis untuk remaja oleh Balai Soedjatmoko &
Buletin Sastra Pawon.
Pertanggal
27 maret 2013