BEKISAR MERAH
Ahmad Tohari
Cetakan kelima- agustus
2005
312hlm;18cm. kode buku
= 808.83 TOH b C1_perpus fssr uns
4/13/2014
Secara umum novel ini
menceritakan realita kehidupan yang ada di tengah masayrakat perkampungan yang
masih tradisional. Mereka para penduduk yang bermata pencaharian sebagai
penyadap nderes,ndewan. Seperti novel
sebelumnya yang mengangkat nama sebuah desa bernama paruk, kini membicarakan
sebuah desa Karangsoga beserta carut marut kehidupan di dalamnya.
Lasi adalah seorang
istri penyadap,yaitu Darsa. Hidupnya yang sederhana,menjadi lebih menderita
sebab sudah tiga tahun mengarungi bahtera rumah tangga belum juga dijatuhkan
momongan padanya. Setiap hari Darsa naik turun memanjat pohon kelapa yang
kemudian mengambil nira dalam pongkor
yang telah di gantungkannya di bawah manggar yang disadap niranya. Kemudian dibawa
pulang dan diolah oleh Lasi menjadi gula merah,dijualnya ke pengepul Pak Tir
lalu oleh pegawainya seminggu sekali dikirim ke Jakarta.
Suatu hari selepas
hujan,Darsa melakukan aktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Ketika berada di
atas pohon pikirannya terpecah gambaran kehidupan yang serba kekurangan. Lasi
sebenarnya adalah istri yang setia tidak pernah mengeluh apapun kepada Darsa,
tapi Darsa tetap nelangsa memikirkan hidup Lasi dan dirinya,hingga melayang dan
tubuhnya terjatuh dari pohon kelapa. Penyadap lain segera memberikan
pertolongan dengan cara aneh yang dipercaya warga sebagai cara pengobatan
pertama pada penyadap yaitu mengencingi sekujur tubuh korban, kemudian memanggil
para penduduk dan Lasi. Ada kodok lompat katanya,tidak
boleh diucap kecuali itu.
Darsa digotong
pulang,sekarat dan hampir mati. Walau kebanyakan penyadap yang jatuh
mati,ternyata Darsa tetap hidup tapi hingga 6 bulan tidak bisa melakukan apapun
kecuali berbaring di tempat tidur dan ngompol,bahkan juga lemah pucuk. Lasi
tetap setia, sampai akhirnya dia menerima pendapat dari orang-orang bahwa pengobatan manjur dari Bunek. Ternyata
setelah beberapa kali terapi Darsa sembuh. Tetapi ternyata biaya yang
ditanggung lebih dari mahalnya operasi secara medis yaitu Bunek memaksa Darsa
untuk mencoba kesehatannya pada Sipah. Darsa menolak, tapi tidak dapat mengelak
setelah dia harus menikahi Sipah anak Bunek semata wayang yang kakinya
cacat,karena dia berhasil hamil. Pertanda Darsa benar-benar sembuh dari
sakitnya.
Dia sangat paham
keadaan buruk akan menimpanya dan kehidupannya dengan Lasi. Tapi Darsa tidak
ada pilihan lain. Lasi yang mengetahui kenyataan tersebut tidak dapat menahan
kecewa dan sakit hatinya, dia memutuskan untuk minggat dari Karangsoga. Menumpang di truk pengangkut gula kelapa
ke Jakarta bersama dua karyawan Pak Tir. Diam-diam Lasi menghilang. Tapi ketika
berada di tengah perjalanan,Pardi (sopir truk) berhenti dengan alasan member
rokok yang kemudian kesempatan itu iya gunakan untuk menitip pesan Lasi ikut
mereka pergi.
Perjalanan semakin
jauh, truk singgah di sebuah warung langganan,Lasi pun turut makan,ganti
pakaian dan istirahat. Sementara mukri ngapel
pacarnya yang ditampung di warung itu. Bu koneng pemilik toko, dia
menampung istri-istri sopir atau juga pacar-pacar sopir. Pardi menyuruh Lasi
bersama Bu Koneng, sementara dia yang sibuk menyelesaikan tugasnya mengantar
gula kelapa, janjinya akan kembali setelah semua kelar. Namun tidak lama kemudian,
Bu Koneng membujuk Lasi agar dia mau tinggal bersama nya dan wanita-wanita lain
disana. Lasi akhirnya tidak ikut pulang walau dipaksa Pardi. Dikampung Darsa
menikahi Sipah, hati lasi yang remuk tak ingin kembali ke Karangsoga.
Lasi sebenarnya bukan
orang desa biasa. Matanya sipit,kulit putih,rambut yang hitam panjang dan
berkilau,persis orang sina, membuat siapaun orang tertarik padanya. Seperti
bekisar unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa sering
menjadi hiasa rumah orang-orang kaya. Ada darah Jepang mengalir dalam tubuhnya.
Ketika kecil dia dipanggil bukan Lasiyah –nama aslinya,melainkan
Lasipang,emaknya yang diperkosa orang jepang. Menurut cerita ibdia dipanggil
bukan Lasiyah –nama aslinya,melainkan Lasipang,emaknya yang diperkosa orang
jepang. Menurut cerita emaknya, emak lasiyah pernah diperkosa oleh orang Jepang
lalu dia menghilang tanpa kabar. Setelah 3 tahun berselang orang Jepang itu
kembali, meminta maaf dan Lasi malah disuruh menerima lamarannya, lalu tidak
lama kemudian emak Lasi mengandung dan melahirkan.
Bu Koneng yang juga
dikenal mucikari senang menerima keberadaan Lasi awalnya dia ditempatkan di
dapur mengurus piring dan perkakas sisa masakan, tapi pada akhirnya dia
dikenalkan dengan para pelanggan yang kaya. Lewat potret Lasi yang cantik
mengenakan kimono merah,menjelma setara geisha. Pak han, Handarbeni tertarik
memperistri Lasi,walau belum mempunyai surat janda dari Darsa tapi tidak jadi
masalah bagi Han. Pak Han sudah menyiapkan rumah mewah,beserta isinya dan para
pembantu di rumah itu, lasi boleh menempati kapanpun dia mau. Akhirnya Lasi
pindah dari warung Bu Koneng juga.
Kanjat anak Pak Tir
yang tengah mengenyam pendidikan insinyur di kota,pulang. Mengetahui Lasi
minggat dia bergegas mencari. Hingga bertemu namun Lasi tetap saja tidak mau
pulang. bujukan Kanjat tidak mempan,menelan kekecewaan Kanjat pulang sendirian.
Sebelum undur diri,Kanjat meminta poto Lasi,diberikan selembar poto berpakaian
kimono merah lalu ditukar dengan poto Kanjat yang kemudian disimpannya
baik-baik.
Suatu hari,mendengar
kabar dari Pardi bahwa Eyang Mus meninggal hati Lasi tergugah, menaiki sedan
mewah bersama sopir pribadi Pak Han menuju Karangsoga. Mendapati Eyang Mus yang
ternyata masih sehat menghuni gubuk reyot haru menyeruak. Lasi yang kaya raya
memberikan uang untuk memperbaiki gubuk Eyang Mus agar tidak bocor, tetapi
Eyang Mus menyuruh Lasi memberikan uangnya kepad akanjat yang akan melakukan
percobaan ilmiah membuat tunggu dalam ukuran besar digunakan untuk mengolah nira
secara serentak sehingga meminimalisir kebutuhan kayu sebagai bahan bakar juga
mempermudah penyadap menjual nira bukan langsung hasil olahannya. Kanjat
dipanggilnya, ternyata tersimpan rasa yang sejak lama terpendam tentang
ketertarikan. Poto Lasi masih disimpan, begitu juga sebaliknya. Kanjat ingin
mempersunting Lasi, tapi lasi menolak akan selisih usia yang sangat jauh. Lalu
Kanjat memberikan berita bahwa sudah masuk proyek listrik ke Karangsoga tetapi
pohon-pohon kelapa yang menghalangi kabel listrik akan segera ditebang besok
pagi.
Lasi melihat sepuluh
dari duabelas jumlah pohon kelapa Darsa ditebang. Darsa yang tengah jonggok di
dekatnya tidak dapat bertindak apapun sama seperti Kanjat,Lasi,dan penduduk
lain yang pohon kelapanya ditebang. Miris melihat mata pencaharian utama yang
telah hilang,bagaiman menencanakan hidup dengan hanya punya 2 pohon
kelapa,padahal harga gula merah tidak stabil. selesai penebangan Lasi dan
Kanjat berkunjung ke rumah Darsa melihat Sipah menangis membopong bayinya,Lasi
duduk disamping madunya. Dan turut menangis dan memberikan uang yang diterka
dapat emmenuhi hidup mereka selam setahun jika digunakan untuk menyewa pohon
kelapa. Kemudian Lasi pergi. Ditengah perjalanan Kanjat meminta ijin mengambil
jalan menyimpang berpisah dengan Lasi dengan mata nanar,dan kecewa yang tidak
bisa terungkap bahwa cita-cita yang tetap hidup dalam jiwanya memperistri Lasi.
_ end
Semiotika
Ada kodok lompat :
jatuh dari pohon kelapa
Madunya : istri kedua
Lemah pucuk : tidak
bisa memiliki anak
Bekisar merah : poto
lasi mengenakan kimono merah
