Rabu, 29 Oktober 2014



Sarjana sastra itu,Sebagai peneliti
11;30 PM 12/10/2014


Sastra daerah?
Iya. Lalu nanti bagaimana?
Aku selalu gagap jika ditanya seperti itu. Manakala tiada pernah sekalipun merasa bangga justru terpuruk dan semakin meragu akan sebuah pilihan.

Disisi yang lain aku bingung, apa yang sekarang sedang aku lakukan. Kuliah iya. Belajar benar. Lantas apa yang aku pijak? Kemana aku akan melangkah jika kaki saja tidak tahu arah. Pertanyaan yang menyesakkan ketik atiada pernah mampu memperoleh jawaban yang memuaskan.
Kusibukkan diriku dengan kegiatan kuliah dan selebihnya acara kampus,agar aku terlupa dan tiada waktu untuk memikirkan pertanyaan yang konyol lagi. Agar aku tidak sempat berpikir bahwa aku’tiada berguna’ Bukan masalah apa-apa yang aku dapat,hanya saja pertanyaan yang bertubi sedemikian muncul untuk meminta pertanggungan jawab dariku. Pusing.

Setelah aku benar-benar sakit akhirnya aku berhenti dan tersadar. Bahwa inilah teguran Tuhan tentang kasih sayang. Aku tidak mempedulikan ragaku,jiwaku terus memaksa sementara raga sudah kelelahan. Aku full untuk seminggu kuliah-pulang-tidur siang selalu begitu. Bahkan teman-teman masih saja memarahiku yang harusnya aku istirahat full tidak perlu kuliah tapi kau membandel.  Dan seminggu setelah jatuhnya aku,aku mengurung diri. Ah tidak,hanya kupuaskan istirahat di dalam kamar,kunikmati setiap detik untuk acara yang belum pernah aku lakukan. Berbaring tanpa beban.
Sabtu-minggu nyaris full didalam kos. Hanya keluar untuk beli sarapan,makan siang,atau malam. Berbaring lama,kuraih buku-buku yang tertata dimeja. Ku baca dengan cermat,ku temukan jawaban-jawaban yang lama telah kupertanyakan.



Mengapa stilistika termasuk didalam disiplin linguistic? Dan pula yang dibahas karya-karya itu saja?




*memang kajian stilistika bisa masuk dalam katagori sastra maupun linguistic, namun lebih condong ke linguistic. Dan baru sekarang saya setuju akan hal itu. Sebab stilistika itu adalah ilmu yang mengkaji karya sastra dari sudut gramatika/tata bahasa yang baik dan benar. Sehingga menurut saya lebih kepada menghakimi sebuah karya sastra,menganggap salah gaya penulisan(disamarkan menjadi keunikan/ke khasan ks) dengan berbagai argument empiris dari para pakar. Menurut teori ini lah,yang itu lah. Ya kalau sudah begini kan jadi ilmiah itu, bayangkan saja sebuah karya sastra akan tercipta dan memilki licentia poetika yang artinya kebebasan pengarang mengekspresikan ciptanya,jadi ya suka-suka pengarang dong. Hahaha

Dan masalah mengapa yang dibahas hanya karya sastra dan pengarang itu-itu saja, jawabannya karena mungkin hanya beliau dan karyanya yang ada. Apa?! Memang sangat mengejutkan. Dan mulai diperdebatkan masalahnya memang beliau adalah pujangga terakhir namun tidakkah ada pengarang,sastrawan selanjutnya apakah tiada karya sastra yang mumpuni setidaknya pembaharuan lah. Ku tanyakan pada dosen pengampu..
Jawabnya kurang lebih tidak memuaskan. 

‘ya justru itu yang baiknya dicari. Belum bisa merekom siapa yang karya sastranya khas tapi ya silahkan makanaya banyak-banyak baca!’
Sangat bertolak belakang pada sebuah stetament bahwasanya setiap pengarang memiliki ke khas-an masing-masing. Apaan itu,huh.

Dan pikiranku saat itu kemungkinan tidak- itu simpulanku sendiri. Sebab bayangkan saja,sekarang mencari kesediaan novel berbahasa jawa saja susahnya minta ampun,apalagi jika harus mencari ke-khas-an keontetikan pengarang dalam karya sastranya,ya kalau sastra Indonesia atau melayu saya yakin semakin berkembang itu makin varian sebab banyak penulis,banyak karya sastra yang dihasilkan. Sementara kebalikan dari nasib karya sastra jawa yang semakin terlindas dan terjepit zaman.

Menurutku bukan masalah abjad jawa yang hanya terdiri dari 20 suku kata(hanacaraka) bukan kemiskinan bahasa yang dimiliki bahasa jawa, tapi kemiskinan ide dan pikir para pengarang jawa. Pasalanya kalaupun jawa miskin kata,pastilah orang jawa tiada yang sekarang bebrbicara jawa,tapi apa faktanya masih saja bahasa local kan, nggak kalah dengan bahasa Indonesia atau inggris sekalipun. Hanya pengarang bahasa jawa mana? 

Sarjana,alumni,mahasiswa sastra daerah mana?


Maaf saja,bukan untuk menyangkal dan membela diri namun memang kenyataan bahwa anak sastra tidak semua mampu mencipta karya sastra.
Pernah saya membaca sebuah artikel,pendapat,yang kemudian disajikan dalam buku mini tulisannya bagus tapi menyakitkan. Sebuah fenomena yang benar adanya,sebenarnya. Tapi karena penyajian yang diperkuat dengan riset pakai presentasi % lagi,membuat saya berpikir setuju tanpa pemikiran yang lain. Tentang perbedaan sarjana sastra dan sarjana kedokteran. Mengapa kedokteran menjulang sementara sastra terdengar tiada mengesankan sama sekali. Begini

Suatu ketika pas wisuda,orang ini ‘penulis’ mewawancarai wisudawan sastra,berapa persen yang mampu tembus media. Disisi lain bertanya berapa persen wisudawan kedokteran yang mampu mengobati pasien sampai sembuh? Hasil yang sangat membahagiakan sekaligus menusuk. Sastra hanya nol koma sekia persen, sementara kedokteran 90 lebih sekian persen. Apa bedanya?apa itu benar?

Perbedaan ada pada mata kuliah yang teori senantiasa dipraktekkan dan dikembangkan,sehingga setiap wisudawan kedokteran yang dinyatakan lulus pastilah lulus semuanya dalam teori dan praktek. Sementara wisudawan sastra hanya dicekoki teori hampir seatus persen dan prakteknya hanya beberapa yang paing pokok dan kelihatan adalah tugas akhir yaitu skripsi. Kenapa begitu? Ya memang S1 yang notabene banyak teori daripada praktek. Namun bukannya kedokteran itu juga S1? Hahaha lihat disiplin ilmunya dulu. Dan cermati baik-baik.

Mahasiswa sastra itu . . . 

Tidak dituntut sebagai pengarang,pencipta,pakar tapi justru mengarah pada analisis,kajian,penelitian. Ya mencetak wisudawan sastra sebagai peneliti. Kalau saja orang bertanya kepada wisudawan sastra tentang apa saja yang telah ia teliti pastilah terjawab dengan hasil prosentase % sama dengan wisudawan kedokteran:-P. 

Sebagai peneliti. Ya. Sungguh disayangkan mengapa baru sekarang baru disemester lima ini baru paham setelah sekian banyak yang bilang sepenggal tentang kajian,analis,dan penelitian. Tapi ya alhamdulilah sedikit terbuka jalan lurus yang cerah. 

Lingusitik = menghakimi objek kajian dengan perumusan yang benar sesuai gramatika bahasa,sehingga kritikan mengarah pada keilmiahan. Harus banyak referensi dan sumber. Bacaan!
Filologi = mengupas objek kajian secara menyeluruh. Bagaimana sebuah naskah yang nantinya dapat berguna bagi khalayak ilmu pengetahuan. Harus cermat,teliti,dan sabuuar.
Sastra = tidak bisa menyalahkan atau membenarkan ks, menghukumi bak atau buruk, hanya menilai. Penilaian yang seluas semesta. Mungkin dari sudut pandang,menurut teori,, hadeh. Harus berani tunjukan narasumber dan teori yang kaut setiap kali berargument.
Heheh ini masih argument,pandangan,simpulan saya semata. Mungkin dan sangat berharap aka nada yang mampu mengubah,membenarkan persepsi saya ini.

Berpikir lain.. 



Sudah dijelaskan tadi kalau mahasiswa sastra dicetak sebagai peneliti. Mengapa tidak lantas ada yang berpikir lain.
Misalnya ketika pada sibuk mencari objek untuk dikaji,maka berpikir bagaimana jika membuat objek saja. Ketika yang lain pada sibuk cari referensi, mengapa tidak berpikir untuk buat argument sendiri saja dengan sedikit referensi (apa syarat membuat referensi?apa harus ilmuan?) katanya mahasiswa adalah agen of change. Atau ketika yang lain bingung meneliti karya sastra,mengapa tidak mencoba membuat karya sastra saja. Kan keren itu, mahasiswa sedikit berpikiran melenceng,tapi toh tidak keluar dari box yang tersedia.

Sudah-sudah lain kali disambung,sudah lewat tengah mala mini. Besok filsafat jam pertama loh! Kuliah pagi..

12;35 AM. Tapi malah nggak ngantuk sama sekali nih :3. Untuk pertama kali setelah jatuh kembali tidur malem-malem. Istirahat rilla,jaga kesehatan.
Oh iya jadi ingat,pelajaran anak kelas 3 sd. Kemarin waktu mengajar untuk persiapan uts. Ipa bab bertumbuhan manusia ada tiga factor yaitu makan,istirahat,olahraga. Pertanyaan opsi pilihan ganda.
Apakah istirahat yang paling baik?
a.    Menonton televisi
b.    Bermain
c.    Tidur
d.    Sepak bola
Dan jawaban yang benar menurut logika, dan jawaban Bima anak sd itu adalah tidur. :-D