Jumat, 24 Mei 2013

kebebasan


KOBONG






Gemericik  butiran hujan masih sesekali mengucur melewati pipa- pipa yang dipasang memang secara vertical , di didesain melekat dengan talang sebagai penghubung celah agar air hujan yang tertampung menggenang diatas balkon dan plapon bisa mengalir lancar tanpa ada perembesan di atap atau dinding bangunan. begitu halnya dengan pohon yang tertiup bayu, seakan anjing yang kecemplung kolam dan kemudian mengibaskan bulu – bulu halusnya ke udara. kembali kuyung sekitar yang ada.
Hujan memang sudah reda sejak lima menit yang lalu, namun jika kau berdiri dibawah pohon yang rindang kau tak akan temukan nama reda. pastilah kau beranggapan bahwa langit masih gerimis walau cahaya sinar sudah benderang. berdiri dibawah pohon saat hujan memiliki dua pendapat ,satu untuk yang pertama dan dua yang selanjutnya.
Pertama kau akan merasa teduh, sebab daun pohon beringin yang begitu lebat sedikit  banyak menghalangi air jatuh tepat di bawahnya. air akan jatuh dari daun yang paling atas, kemudian menggelinding ke bawah dan semakin kebawah bagian terluar dari daun yang paling rendah. melihat pohon beringin saat diguyur hujan , seperti melihat persamaan pada fungsi payung, mungkin dahulu kala mencipta teknologi sederhana yang muthakir bernama payung “ umbrella” nama tenarnya , ini terinspirasi dari keadaan pohon beringin yang berdiri tegap saat hujan tanpa badai. abaikan kata – kata lalu ini hanya intermizo saja.
pendapat berikutnya adalah pendapat yang kedua. tentang kerugian sebab jika kau melakukan itu ( berdiri di bawah pohon saat hujan ), dan kemudian hujan itu reda maka kamu tak akan segera menyadarinya.kau akan tetap merasakan adanya tetesan sisa hujan yang masih tertampung diatas daun pepohonan. belum berhasil menjatuhkan dirinya, merangkak untuk berpindah tempat saja pun tak mampu. dia akan senantiasa perkasa jika didampingi oleh hembusan sang bayu, dibelai dan dimanja kemudian terjatuh. membasahi apa yang ada di bawahnya. menyakitkan. pakaiaan yang dikenakan adalah korban terparah, namun dia tidak terlalu dipentingkan, sebab kalaupun dia slulup   pastilah dapat garing  kembali seperti semula dengan bentuan panas matahari atau lampu teplok juga bisa asal jangan di dekatkan pada lilin, kompor, atau obor karna pasti kain yang telah mengering akan kobong dan  berganti warna dengan sendirinya dengan proses alami dan warna yang sudah pasti. hitam abu.     
Takayal laiknya seorang manusia yang  hidup dikurung seperti ukila memang jadi kesayangan pantas saja jadi anak emas, tapi ada saat tersendiri untuk berpisah. keadaan anak emas ini yang membuat lingkungan gemerlap dibias sinar. dia akan tetap melangkah memang, tapi masalah arah mata angin dia yang paling kalah. baginya hidup hanya dalam sangkar piaraan, indah memang. bersih, indah, sehat dan terjamin semua akan fasilitas, tanpa kata kekurangan sedikitpun. walhasil mereka dapat berkicau dengan merdunya, mengalahkan kesunyian , memecah kehampaan. alah , mungkin hanya dipandang begitu saja. toh memang tidak wah lha wong pancen karemenan kok ! . lain cerita jika dia diabiarkan terbang bercanda dengan kawan dan awan. keliling dunia dan temukan pembaharuan. awalnya dia akan bilang hoy, dunia tidak selebar daun kelor  merasa iba dnegan keadaan sahabat karibnya.kampret . nama sapaan yang di mandatkan untuk menyebut kata menyamarkan nama kodok ijo. dia masih terdiam, di dalam belahan tempurung kelapa. meamng dia bernasib enak, dan mujur, tapi dia tak akan pernah bisa melompat melebihi kodok bangkak. sejenis kodok liar, dia temanku juga. beda lagi dengan laler ijo yang tahunya hanya di lingkungan yang kotor melulu, kandang ternak, sungai, tempat pembuangan akhir sampah jika terlihat satu dua memasuki warung hik semua mata akan memandang, seketika dia menjadi pusat perhatian,kehadiran yang begitu dinantikan, anggapannya. malu – malu dia menyatu dengan keadaan dan suasana. ketika dia akan mengambil secuil roti, lantas orang yang duduk di depan roti yang sama berteriak “ zek nggilani !  “ beranjak dan pergi meninggalkan laler ijo dan roti. dengan itu laler ijo sadar bahwa bukan hanya orang yang ada di depan roti itu yang menghina dengan meludah keluar sambil jalan, orang di sekeliling es the dan gorengan pun ikut mengumpat. berpindah dan penjual warung harus cari pelanggan baru. bukan karena tubuh yang indah warna ijo terang bagai nyala led, tubuh yang montok, sayap yang lembut atau suara cirri khas darinya yang dapat jadi alasan tentang kesombongannya.  
Ukila, kampret, dan laler ijo berkeumpul dan mengadakan reuni peraknya. bertukar pikiran dan pendapat tentang kehidupan. saling melek namun tak ada rasa iri. mereka melangkah bahu membahu mencari tempat baru.berpindah ukila berburu di atas alam perkandangan ternak sapi, kampret merasakan jajanan warung hik gratis, sementara laler ijo mlencok di dalam sangkar berukir khas jepara. cerita seperti tukar nasib.
Sehari, dua hari dan tidak akan berlanjut ke yang berikutnya. suasana ayem akan sirna dengan secepatnya. kebiasaan, yang membuat kejenuhan yang akut. keluar melayang, melompat, dan terbang menyatu dan kembali bersua. menajdi satu dalam komitmen mencari kebebasan dengan hidup di hutan liar. 
mencari jati diri,tak hanya sehari dua hari. bagaimana caranya aku juga tidak tahu. jalani saja yang ada, mungkin kau akan temukan yang tidak mereka temukan. kejenuhan berangsur hilang, menyatu dengan kebiasaan, asal jangan benarkan kebiasaan, tapi lakukan kebiasaan yang benar. contoh sederhana adalah menyikat gigi sebelum tidur.hehehe…
*Eia Isasasmi Ta  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar