Sarjana
sastra itu,Sebagai peneliti
11;30 PM 12/10/2014
Sastra daerah?
Iya. Lalu nanti bagaimana?
Aku selalu gagap jika ditanya seperti itu. Manakala tiada pernah
sekalipun merasa bangga justru terpuruk dan semakin meragu akan sebuah pilihan.
Disisi yang lain aku bingung, apa yang sekarang sedang aku lakukan.
Kuliah iya. Belajar benar. Lantas apa yang aku pijak? Kemana aku akan melangkah
jika kaki saja tidak tahu arah. Pertanyaan yang menyesakkan ketik atiada pernah
mampu memperoleh jawaban yang memuaskan.
Kusibukkan diriku dengan kegiatan kuliah dan selebihnya acara
kampus,agar aku terlupa dan tiada waktu untuk memikirkan pertanyaan yang konyol
lagi. Agar aku tidak sempat berpikir bahwa aku’tiada berguna’ Bukan masalah
apa-apa yang aku dapat,hanya saja pertanyaan yang bertubi sedemikian muncul
untuk meminta pertanggungan jawab dariku. Pusing.
Setelah aku benar-benar sakit akhirnya aku berhenti dan tersadar. Bahwa
inilah teguran Tuhan tentang kasih sayang. Aku tidak mempedulikan ragaku,jiwaku
terus memaksa sementara raga sudah kelelahan. Aku full untuk seminggu
kuliah-pulang-tidur siang selalu begitu. Bahkan teman-teman masih saja
memarahiku yang harusnya aku istirahat full tidak perlu kuliah tapi kau
membandel. Dan seminggu setelah jatuhnya
aku,aku mengurung diri. Ah tidak,hanya kupuaskan istirahat di dalam
kamar,kunikmati setiap detik untuk acara yang belum pernah aku lakukan.
Berbaring tanpa beban.
Sabtu-minggu nyaris full didalam kos. Hanya keluar untuk beli
sarapan,makan siang,atau malam. Berbaring lama,kuraih buku-buku yang tertata
dimeja. Ku baca dengan cermat,ku temukan jawaban-jawaban yang lama telah
kupertanyakan.
Mengapa
stilistika termasuk didalam disiplin linguistic? Dan pula yang dibahas
karya-karya itu saja?
*memang kajian stilistika bisa masuk dalam katagori sastra maupun
linguistic, namun lebih condong ke linguistic. Dan baru sekarang saya setuju
akan hal itu. Sebab stilistika itu adalah ilmu yang mengkaji karya sastra dari
sudut gramatika/tata bahasa yang baik dan benar. Sehingga menurut saya lebih
kepada menghakimi sebuah karya sastra,menganggap salah gaya
penulisan(disamarkan menjadi keunikan/ke khasan ks) dengan berbagai argument
empiris dari para pakar. Menurut teori ini lah,yang itu lah. Ya kalau sudah
begini kan jadi ilmiah itu, bayangkan saja sebuah karya sastra akan tercipta
dan memilki licentia poetika yang artinya kebebasan pengarang mengekspresikan
ciptanya,jadi ya suka-suka pengarang dong. Hahaha
Dan masalah mengapa yang dibahas hanya karya sastra dan pengarang
itu-itu saja, jawabannya karena mungkin hanya beliau dan karyanya yang ada.
Apa?! Memang sangat mengejutkan. Dan mulai diperdebatkan masalahnya memang
beliau adalah pujangga terakhir namun tidakkah ada pengarang,sastrawan
selanjutnya apakah tiada karya sastra yang mumpuni setidaknya pembaharuan lah.
Ku tanyakan pada dosen pengampu..
Jawabnya kurang lebih tidak memuaskan.
‘ya justru itu yang baiknya dicari. Belum bisa merekom siapa yang karya
sastranya khas tapi ya silahkan makanaya banyak-banyak baca!’
Sangat bertolak belakang pada sebuah stetament bahwasanya setiap
pengarang memiliki ke khas-an masing-masing. Apaan itu,huh.
Dan pikiranku saat itu– kemungkinan tidak- itu simpulanku
sendiri. Sebab bayangkan saja,sekarang mencari kesediaan novel berbahasa jawa
saja susahnya minta ampun,apalagi jika harus mencari ke-khas-an keontetikan
pengarang dalam karya sastranya,ya kalau sastra Indonesia atau melayu saya
yakin semakin berkembang itu makin varian sebab banyak penulis,banyak karya
sastra yang dihasilkan. Sementara kebalikan dari nasib karya sastra jawa yang
semakin terlindas dan terjepit zaman.
Menurutku bukan masalah abjad jawa yang hanya terdiri dari 20 suku
kata(hanacaraka) bukan kemiskinan bahasa yang dimiliki bahasa jawa, tapi
kemiskinan ide dan pikir para pengarang jawa. Pasalanya kalaupun jawa miskin
kata,pastilah orang jawa tiada yang sekarang bebrbicara jawa,tapi apa faktanya
masih saja bahasa local kan, nggak kalah dengan bahasa Indonesia atau inggris
sekalipun. Hanya pengarang bahasa jawa mana?
Sarjana,alumni,mahasiswa sastra
daerah mana?
Maaf saja,bukan untuk menyangkal dan membela diri namun memang kenyataan
bahwa anak sastra tidak semua mampu mencipta karya sastra.
Pernah saya membaca sebuah artikel,pendapat,yang kemudian disajikan
dalam buku mini tulisannya bagus tapi menyakitkan. Sebuah fenomena yang benar
adanya,sebenarnya. Tapi karena penyajian yang diperkuat dengan riset pakai
presentasi % lagi,membuat saya berpikir setuju tanpa pemikiran yang lain.
Tentang perbedaan sarjana sastra dan sarjana kedokteran. Mengapa kedokteran
menjulang sementara sastra terdengar tiada mengesankan sama sekali. Begini…
Suatu ketika pas wisuda,orang ini ‘penulis’ mewawancarai wisudawan
sastra,berapa persen yang mampu tembus media. Disisi lain bertanya berapa
persen wisudawan kedokteran yang mampu mengobati pasien sampai sembuh? Hasil
yang sangat membahagiakan sekaligus menusuk. Sastra hanya nol koma sekia
persen, sementara kedokteran 90 lebih sekian persen. Apa bedanya?apa itu benar?
Perbedaan ada pada mata kuliah yang teori senantiasa dipraktekkan dan
dikembangkan,sehingga setiap wisudawan kedokteran yang dinyatakan lulus
pastilah lulus semuanya dalam teori dan praktek. Sementara wisudawan sastra
hanya dicekoki teori hampir seatus persen dan prakteknya hanya beberapa yang
paing pokok dan kelihatan adalah tugas akhir yaitu skripsi. Kenapa begitu? Ya
memang S1 yang notabene banyak teori daripada praktek. Namun bukannya
kedokteran itu juga S1? Hahaha lihat disiplin ilmunya dulu. Dan cermati
baik-baik.
Mahasiswa sastra itu . . .
Tidak dituntut sebagai pengarang,pencipta,pakar tapi justru mengarah
pada analisis,kajian,penelitian. Ya mencetak wisudawan sastra sebagai peneliti.
Kalau saja orang bertanya kepada wisudawan sastra tentang apa saja yang telah
ia teliti pastilah terjawab dengan hasil prosentase % sama dengan wisudawan
kedokteran:-P.
Sebagai peneliti. Ya. Sungguh disayangkan mengapa baru sekarang baru
disemester lima ini baru paham setelah sekian banyak yang bilang sepenggal
tentang kajian,analis,dan penelitian. Tapi ya alhamdulilah sedikit terbuka
jalan lurus yang cerah.
Lingusitik = menghakimi objek kajian dengan perumusan yang benar sesuai
gramatika bahasa,sehingga kritikan mengarah pada keilmiahan. Harus banyak
referensi dan sumber. Bacaan!
Filologi = mengupas objek kajian secara menyeluruh. Bagaimana sebuah
naskah yang nantinya dapat berguna bagi khalayak ilmu pengetahuan. Harus
cermat,teliti,dan sabuuar.
Sastra = tidak bisa menyalahkan atau membenarkan ks, menghukumi bak atau
buruk, hanya menilai. Penilaian yang seluas semesta. Mungkin dari sudut
pandang,menurut teori,, hadeh. Harus berani tunjukan narasumber dan teori yang
kaut setiap kali berargument.
Heheh ini masih argument,pandangan,simpulan saya semata. Mungkin dan
sangat berharap aka nada yang mampu mengubah,membenarkan persepsi saya ini.
Berpikir lain..
Sudah dijelaskan tadi kalau mahasiswa sastra dicetak sebagai peneliti.
Mengapa tidak lantas ada yang berpikir lain.
Misalnya ketika pada sibuk mencari objek untuk dikaji,maka berpikir
bagaimana jika membuat objek saja. Ketika yang lain pada sibuk cari referensi,
mengapa tidak berpikir untuk buat argument sendiri saja dengan sedikit
referensi (apa syarat membuat referensi?apa harus ilmuan?) katanya mahasiswa
adalah agen of change. Atau ketika yang lain bingung meneliti karya
sastra,mengapa tidak mencoba membuat karya sastra saja. Kan keren itu,
mahasiswa sedikit berpikiran melenceng,tapi toh tidak keluar dari box yang
tersedia.
Sudah-sudah lain kali disambung,sudah lewat tengah mala mini. Besok
filsafat jam pertama loh! Kuliah pagi..
12;35 AM. Tapi malah nggak ngantuk sama sekali nih :3. Untuk pertama
kali setelah jatuh kembali tidur malem-malem. Istirahat rilla,jaga kesehatan.
Oh iya jadi ingat,pelajaran anak kelas 3 sd. Kemarin waktu mengajar
untuk persiapan uts. Ipa bab bertumbuhan manusia ada tiga factor yaitu
makan,istirahat,olahraga. Pertanyaan opsi pilihan ganda.
Apakah istirahat yang paling baik?
a. Menonton
televisi
b. Bermain
c. Tidur
d. Sepak
bola
Dan jawaban yang benar menurut logika, dan jawaban Bima anak sd itu
adalah tidur. :-D

