Selasa, 03 Desember 2013

muncul lagi

Dulu kau dating membawa secerch hrapan
Jalani hidup engan pertemanan yang tiada bosan
Kau tulus, iklas. Batinku !
Namun ternyata dugaanku sirna
Terbutakan oleh suasana

Dirimu menampakkan keaslian
Dan kutemukan dlam wujud yang nyata
Kau bukan malaikat tanpa sayap
Juga bukan manusia titisan kaum hawa

Aku terperangah tak berdaya
Ketika kau dekap aku dalam pelukmu
Larut dihanyutkan waktu
Kau pagut sayap-sayapku
Lalu dengan seenaknya pergi menjauh dariku
Tinggalkan aku yang layu

Tuhan berlaku adil pada mahluknya
Aku berusaha menahan luka yang menganga
Mencipta angan-angan menghibur hati yang berduka
Butuh waktu sangat lama
Hingga akhirnya luka itu mongering dengan sendirinya
Aku mampu dengan lebih baik  jalani hidup dengan ranah berbeda

Tiba-tiba….
Kau hadir lagi
Dengan wujud yang sama
Andaikan kau bersolek lebih baik, netraku tak luput dari cerna
Malah kau tiada berbeda
Huh,! Menyedihkan!

Lihatlah dirimu yang berlumur dosa itu!
Apakah kau tidak merasa malu dengan Tuhanmu???




analisis sistem stuktural cekak

Sinopsis cekak  “Pancen Dudu Jodho”
Karya : Arfa Dhani Nugraha
(Makajalah Penyebar Semangat no.49-3 Desember 2011)
Pada umumnya cekak ini menceritakan dua oran insan, yaitu Nurul dan Dhani yang sejak kecil bersahabat,memiliki perasaan saling mencintai tapi tak pernah dinyatakan. Suatu ketika Nurul pergi pindah rumah tanpa pamit kepada Dhani. Hingga suatu hari Nurul datang kembali dan bertemu dengan sahabat lamanya,Dhani.
Pada suatu hari, Dhani bertemu dengan Nurul, yang tengah turun dari masjid setelah selesai menunaikan jamaah salat magrib. Pertemuan yang tidak disangka-sangka setelah lima tahun berpisah , karena ayah Nurul yang dialih tugaskan di daerah Papua dan memboyong semua anggota keluarga kesana. Rasa kecewa yang amsih dibendung dalam hati Dhani, seketika luntur menjadi rindhu yang tak terperi. Tutur sapa yang berlanjut obrolan seraya berjalan pulang.
Waktu sudah menunjukan hamper tengah malam, tetapi Dhani belum jug aterpejam. Dia masih menatap layar monitor di laptopnya, online dan membuka blog remaja masjid yang dulu pernah dia kerjakan dengan Nurul. Tiba-tiba saja handphone Dhani bordering, Nurul telepon mengundang Dhani agar besok pagi mau kerumahnya.
Esoknya, jam delapan pagi, Dhani sudah duduk di kursi ruang tamu rumah Nurul. Nurul memberikan sepucuk surat undangan untuknya. Seketika mata Dhani terbelalak, tak percaya melihat poto prewedding Nurul dengan seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Dhani hanya mengucapkan selamat kepada Nurul. Lalu dia keluar dari ruangan tanpa pamit. Dengan cepat,dia pulang dan mengambil air untuk berwudlu. Sementara Nurul yang tadi mengikuti langkah Dhani dari belakang, kini duduk di lincak rumah Dhani. Setelah Dhani merasa sedikit tenang, dia menemui Nurul. Dan mengatakan yang sesungguhnya bahwa,sejak SD Dhani mencintai Nurul. Tanpa disangka, ternyata Nurul juga memiliki perasaan yang sama terhadap Dhani, tapi perasaan itu tidak pernah mereka sampaikan. Hingga akhirnya Nurul menikah dengan orang lain. Sejak pertemuan itu, Nurul tidak pernah lagi berkunjung ke rumah Dhani, begitu pula Dhani yang tidak menghadiri undangan resepsi pernikahan Nurul.
Unsur intrinsik

1. Tema
Tema merupakan persoalan pokok yang dibawakan pengarang dalam sebuah cerita atau novel. Sehingga darinya dapat ditarik sebuah alur pandangan dan cita-cita pengarang dalam karya sastranya. Tema novel sangat lazim menjadi permasalahan utama dan seringkali persoalan yang muncul berkaitan dengannya. Dalam Cekak ini, mengangkat tema yaitu Patah Hati.
2. Alur/plot
Alur merupakan urutan kejadian dalam sebuah cerita yang disampaikan pada novel. Berbagai kejadian itu terhubung dengan adanya sebab akibat, peristiwa atau permasalahan yang memunculkan masalah baru. Peristiwa itu digambarkan melalui tingkah laku, perbuatan, atau perilaku tokoh-tokoh dalam cerita. Novel ini memiliki Alur maju.
3. Sudut Pandang/ point of view
Sudut pandang sangat menentukan karakteristik dari novel, umumnya sudut pandang terkait erat dengan para tokoh yang dihadirkan. Kadang kala untuk menilai sebuah sudut pandang sebuah cerita bisa dinilai dari beberapa tulisan awal. Karena dari situlah cerita akan dibangun dan kemudian dikembangkan. Novel ini bersudut pandang Aku,orang pertama tokoh utama. Pengarang sebagai orang tokoh utama.
4. Latar / setting
Latar disebut juga setting adalah tempat ditampilkammya peristiwa itu terjadi.
Macam-macam Latar
a)      Latar Tempat
Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Penggambaran latar tempat ini hendaklah tidak bertentangan dengan realita tempat yang bersangkutan, hingga pembaca (terutama yang mengenal tempat tersebut) menjadi tidak yakin dengan apa yang kita sampaikan.
a)      Latar Waktu
Latar Waktu menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu terjadi. Dalam sebuah cerita sejarah, hal ini penting diperhatikan. Sebab waktu yang tidak konsisten akan menyebabkan rancunya sejarah itu sendiri. Latar waktu juga meliputi lamanya proses penceritaan
b)      Latar Suasana
Latar suasana merupakan lukisan status tokoh di dalam sebuah cerita yang ada di suatu kondisi tertentu, seperti keramaian, kesibukan dan sebagainya.
Latar dalam cekak ini sebagai berikut :
No
TEMPAT
WAKTU
SUASANA
1
Depan Masjid
selesai jamaah salat magrib 
Kecewa, perbincangan hangat


Perjalanan pulang dari masjid
perbincangan hangat


Malam jam 23.05 ketika Dhani online
Gembira, PD(percaya diri)
2
Rumah Nurul

Jam 8 pagi
mendebarkan
3
Rumah Dhani

Setelah wudlu,lalu Dhani menemui Nurul
Patah hati, sedih , kecewa

5. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sifat para tokoh itu. Penokohan dapat digambarkan melalui dialog antartokoh, tanggapan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau pikiran-pikiran tokoh. Melalui penokohan, dapat diketahui bahwa karakter tokoh adalah seorang yang baik, jahat, atau bertanggung jawab.
Tokoh dan penokohan dalam Cekak ini adalah :
a)      Nurul Afridasari          : tegas, ramah.
b)      Mas Dhani                   : pemaaf, suka menolong,pasrah.
6. Amanat
Amanat atau tujuan pengarang yang disampaikan kepada pembaca melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan oleh pengarang baik secara langsung maupun tidak langsung. Artinya amanat yang disampaikan langsung apabila amanat tersebut tersurat dalam karya sastra. Sedangkan amanat yang disampaikan secara tidak langsung, apabila amanat tersebut tersirat dalam karya sastra.
Amanat yang terkandung dalam novel ini antara lain :
1.      Pasrah dan iklas menyerahkan semua urusan jodoh kepada Tuhan.
2.      Menjadi orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain.
3.      Tidak menyimpan perasaan dendam.
4.      Ringan tangan(suka menolong) nlebih-lebih kepda orang yang membutuhkan
5.      Ikut senang, walaupun sebenarnya hati tidak berkenan(menahan sedih).
6.      Menjalin silaturohmi dengan komunikasi yang baik agar tidak ada penyesalan.

Minggu, 01 Desember 2013

tentang kamu

Ya Robb…
Mungkin ini perasaanku saja, Ge_er
Yang melampaui batas sadar.

Aku hanya tertegun ketika kau embankan kepercayaan padaku
Mulai saat itu aku merasakan suatu pegakuan
Aku ada

Subhanalloh
Dua kubu saling pandang namun berbeda latar belakang
Laiknya sastra dan seni rupa
Sorot matamu, menyeretku masuk ke dalam pandanganmu
Ketika kedua retina beradu, tak ada yang mampu berucap
Anggukan ringan, seraya mengiyakan
Ketika sedikit ngeyel yang datang menjelma keraguan
Kau yakinkan aku mampu
Tak urung percayakan kepadaku. Tetap aku!

Takut ketika tiada lagi alasan untukku menyapa
Tidak ada lagi kesempatan untuk bertemu denganmu
ajaklah aku taklukan Mahameru

Harapan yang muncul dalam sebuah keyakinan .. keakraban terjalin dalam bingkai kesibukan

Ketika pikiran sesak dipenuhi pandanganmu begitu singkat,
hingga pikiran belum selesai dari tercekat
081113
Ketika bersandar memandangmu dari lt.3gd1.08.13

Selasa, 26 November 2013

gamelan jawa


Sejarah Gamelan Jawa dan Asal Usulnya – Salah satu kekayaan budaya Indonesia yang terkenal dalam bidang musik adalah seni gamelan. Gamelan banyak ditemui di berbagai daerah Indonesia. Musik gamelan terdapat di Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Tentu saja, varian alat musik yang digunakan berbeda. Baik nama maupun bentuk. Di Jawa, gamelan disebut dengan istilah gong. Terutama, sejak abad ke-18. Gamelan jawa berasal dari bahasa Jawa, gamel, yang artinya adalah alat musik yang dipukul dan ditabuh. Terbuat dari kayu dan gangsa, sejenis logam yang dicampur tembaga atau timah dan rejasa. Alat musik pengiring instrumen gamelan terdiri dari kendang, bonang, panerus, gender, gambang, suling, siter, clempung, slenthem, demung, saron, kenong, kethuk, japan, kempyang, kempul, peking, dan gong.

Asal Mula Gamelan Jawa

Awalnya, alat musik instrumen gamelan dibuat berdasarkan relief yang ada dalam Candi Borobudur pada abad ke-8. Dalam relief di candi tersebut, terdapat beberapa alat musik yang terdiri dari kendang, suling bambu, kecapi, dawai yang digesek dan dipetik, serta lonceng.

Sejak itu, alat musik tersebut dijadikan sebagai alat musik dalam alunan musik gamelan jawa. Alat musik yang terdapat di relief Candi Borobudur tersebut digunakan untuk memainkan gamelan. Pada masa pengaruh budaya Hindu-Budha berkembang di Kerajaan Majapahit, gamelan diperkenalkan pada masyarakat Jawa di Kerajaan Majapahit.


Konon, menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan itu sendiri diciptakan oleh Sang Hyang Guru Era Saka, sebagai dewa yang dulu menguasai seluruh tanah Jawa. Sang dewa inilah yang menciptakan alat musik gong, yang digunakan untuk memanggil para dewa.
Alunan musik gamelan jawa di daerah Jawa sendiri disebut karawitan. Karawitan adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan alunan musik gamelan yang halus. Seni karawitan yang menggunakan instrumen gamelan terdapat pada seni tari dan seni suara khas Jawa, yaitu sebagai berikut.

1. Seni suara terdiri dari sinden, bawa, gerong, sendon, dan celuk.
2. Seni pedalangan terdiri dari wayang kulit, wayang golek, wayang gedog, wayang klithik, wayang beber, wayang suluh, dan wayang wahyu.
3. Seni tari terdiri dari tari srimpi, bedayan, golek, wireng, dan tari pethilan.

Seni gamelan Jawa tidak hanya dimainkan untuk mengiringi seni suara, seni tari, dan atraksi wayang. Saat diadakan acara resmi kerajaan di keraton, digunakan alunan musik gamelan sebagai pengiring. Terutama, jika ada anggota keraton yang melangsungkan pernikahan tradisi Jawa. Masyarakat Jawa pun menggunakan alunan musik gamelan ketika mengadakan resepsi pernikahan.

pelengkap :
http://indodaya.blogspot.com/2013/02/sejarah-gamelan-jawa-dan-asal-usulnya.html
http://indodaya.blogspot.com/2013/02/sejarah-gamelan-jawa-dan-asal-usulnya.html
http://goblokku.wordpress.com/2011/09/14/gamelan-jawa-tengah-dan-yogyakarta/



Kajian novel panglipur wuyng

Sinopsis Novel Berjudul “Wurung Dadi Ir”
Karya: Lien Skd

“Wiwiting tresno jalaran soko kulino”sebuah pepatah jawa yang telah tenar dikalangan khalayak muda. Pepatah ini kurang lebih memiliki arti bahwa sebuah cinta dan kasih saying mampu tercipta ketika adanya suatu kebersamaan yang terjadi secara terus-menerus. Hal ini juga dialami oleh kusno dan Wulan yang menjadi tokoh focus dalam novel panglipur wuyung ini.
Pertemanan yang dijalani oleh dua insan ini telah terjalin sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga SMA. kini mereka baru saja merampungkan ujian akhir sekolah dan menunggu pengumuman kelulusan. Ditengah kebingungan yang menyeruak di dalam pikiran Kusno tentang masa depan yang akan dia jalani, dia disibukkan dengan acara perpisahan dan kusno sebagai panitianya. Sebelum berangkat ke acara perpisahan itu, Wulan mampir kerumah Kusno untuk memberikan titipan dri ibunya untuk Kusno tapi dia tidak berhasil menemui Kusno sebab dia telah mempersiapankan acara perpisahan sejak pagi tadi. Tidak berapa lama setelah wulan dating, acara perpisahan dimulai. Serangkaian acara berjalan lancer, di dalam acara inti nama kusno dipanggil. Dia tampil diatas panggung guna mendapat penghargaan sebagai lulusan dengan nilai terbaik di sekolahnya. Sementara itu, Wulan justru dinyatakan tidak lulus. Wulan pun menerima dengan lapang dada sebab masih 3 hari melaksanakan ujian akhir ia sudah jatuh sakit.
Dalam meraih masa depannya Kusno memiliki keinginan untuk kuliah di ITB, tanpa pamit Wulan dia berniat berangkat ke Bandung. Ketika akan melangkah keluar rumah ternyata Wulan datamg konflik pun terjadi. Wulan marah-marah, namun setelahsemua tenang Kusno memberikan cincin (warisan dari neneknya) yang baru saja diberi oleh ibunya guna bekal bepergian. Katanya cincin turun-temurun itu boleh diberikan kepada oran yang dia sayang. setelah kusno menyematkan cincin itu kepda wulan, dengan berat hati akhirnya wulan mengiklaskan Kusno pergi ke Bndung bersama Saptana.
Ketika sampai di Bandung ternyata begitu ramai pendaftar. Setelah beberapa hari, ujian SNMPTN berlangsung. Menunggu pengumuman dua minggu kedepan, merupakan waktu cukup lama. Setelah mengikuti Saptana daftar ke beberpa universitas disana, akhirnya Kusno memutuskan untuk pulang ke kampungnya.

Ketika kusno pulang ke rumah, Wulan yang sedari kecil sudh terbiasa berkunjung ke rumah kusno kini dating lagi. Dia kembali merengek kepada Kusno, bahkan kali ini dia ingin ikut Kusno ke Bandung. Dengan sikap Wuln yang seperti itu,dan saking sungkannya ibu Kusno juga meminta agar Kusno mau mengikutsertakan Wulan dalam perginya. Dengan pertimbangan yang matang, setelah Wulan pulang Kusno pamit untuk segera berangkat saat itu juga. Walaupun sebenrnya dia mampir ke rumah Rijan guna meminta bantuan dana. Rijan puny aide cemerlang yakni menjual buku-buku dan lukisan Kusno.
Setelah sampai di Bandung, Di pengumuman peneriman mahasiswa baru nama Kusno tiada terpajang. Dari ketiga universitas yang telah ia daftari,UNDIP, ITB,dan GAMA (sekarang UGM) Kusno tidak diterima. Kusno sempat menangis meratapi nasib malangnya ini. Tetapi akhirnya dia sadar, andai saja dia diterima menjadi mahasiswa pastilah akan kesulitan memenuhi biaya registrasi dan SPP tiap semesternya,apalagi dnegan keluarga Kusno yang tergolong tidak mampu serta anak yatim. Dengan itu, Kusno tidak puang lagi ke kampong halamannya namun dia hanya memberi kabar pada ibunya lewat surat yang mengabarkan Kusno akan merantau dulu.
Sementara Wulan yang telah ditinggal pergi oleh Kusno, hanya bias mengenang dengan cincin yang telah melingkar di jari manisnya. walaupun ada yang dating melamarnya, Wulan menolak dan tetap menanti Kusno hingga kembali. katanya : “ aku kasep tresna karo Mas Kusno. Aku ora bias nuruti pandjalukmu. Ija sanadjan saiki ora genah nengndi papan parane. Mung bae aku duwe kajakinan jen deweke bakal timbul”.
Unsur intrinsik

1. Tema
Tema merupakan persoalan pokok yang dibawakan pengarang dalam sebuah cerita atau novel. Sehingga darinya dapat ditarik sebuah alur pandangan dan cita-cita pengarang dalam karya sastranya. Tema novel sangat lazim menjadi permasalahan utama dan seringkali persoalan yang muncul berkaitan dengannya. Dalam Novel ini, mengangkat tema panglipur wuyung, yaitu cerita yang mempunyai sifat menghibur hati yang sedang dirundung lara. Dalam menggambarkan peristiwa-peristiwa kehidupan pelakunya penulis menggunakan bahasa yang menyentuh perasaan pembaca, sehingga lebih terbuka kepada siapa saja untuk mengungkapkan isi ceritanya

2. Alur/plot
Alur merupakan urutan kejadian dalam sebuah cerita yang disampaikan pada novel. Berbagai kejadian itu terhubung dengan adanya sebab akibat, peristiwa atau permasalahan yang memunculkan masalah baru. Peristiwa itu digambarkan melalui tingkah laku, perbuatan, atau perilaku tokoh-tokoh dalam cerita. Novel ini memiliki Alur maju.

3. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang dibawakan oleh para pengarang novel berbeda satu dengan lainnya. Penyebabnya bisa beragam, semisal kesukaan dari pembuat novel, target pembaca, seting latar, tokoh-tokoh yang dimainkan dan lain sebagainya.


4. Sudut Pandang/ point of view
Sudut pandang sangat menentukan karakteristik dari novel, umumnya sudut pandang terkait erat dengan para tokoh yang dihadirkan. Kadang kala untuk menilai sebuah sudut pandang sebuah cerita bisa dinilai dari beberapa tulisan awal. Karena dari situlah cerita akan dibangun dan kemudian dikembangkan. Novel ini bersudut pandang pengarang sebagai orang ketiga sebagai peninjau, yaitu seolah – olah ia seperti melihat dan mendengar keadaan yang sebenarnya.
5. Latar / setting
Latar disebut juga setting adalah tempat ditampilkammya peristiwa itu terjadi.
Macam-macam Latar
a)   Latar Tempat
Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Penggambaran latar tempat ini hendaklah tidak bertentangan dengan realita tempat yang bersangkutan, hingga pembaca (terutama yang mengenal tempat tersebut) menjadi tidak yakin dengan apa yang kita sampaikan.
b)   Latar Waktu
Latar Waktu menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu terjadi. Dalam sebuah cerita sejarah, hal ini penting diperhatikan. Sebab waktu yang tidak konsisten akan menyebabkan rancunya sejarah itu sendiri. Latar waktu juga meliputi lamanya proses penceritaan
1)    Latar dalam novel ini sebagai berikut                      :
2)    Dapur rumah Wulan – saat wulan dating dari sekolah         :       
3)    Di ruang tengah/ruang makan                                 :
4)    Acara perpisahan sekolah                                       :
5)    Di kampus ITB                                                                  :
6. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sifat para tokoh itu. Penokohan dapat digambarkan melalui dialog antartokoh, tanggapan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau pikiran-pikiran tokoh. Melalui penokohan, dapat diketahui bahwa karakter tokoh adalah seorang yang baik, jahat, atau bertanggung jawab.
1)        Tokoh dan penokohan dalam novel ini adalah :
2)        Wulan
3)        Kusno Aditya
4)        Bu Soma
5)        Bapaknya Wulan
6)        Ibu Kusno
7)        Herma
8)        Saptana
9)        Rijan
10)     Tridjata
11)     Asti
7. Amanat
Amanat atau tujuan pengarang yang disampaikan kepada pembaca melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan oleh pengarang baik secara langsung maupun tidak langsung. Artinya amanat yang disampaikan langsung apabila amanat tersebut tersurat dalam karya sastra. Sedangkan amanat yang disampaikan secara tidak langsung, apabila amanat tersebut tersirat dalam karya sastra.
Amanat yang terkandung dalam novel ini antara lain :



Kamis, 11 Juli 2013

makalah wayang kampung sebelah


WAYANG KAMPUNG SEBELAH
Tugas Mata Kuliah Telaah Pranata Masyarakat Jawa



Oleh :

Syafi Rilla Sari            C0112054
Prodi Sastra Daerah untuk Sastra Jawa



FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013

LATAR KARYA
16 Juli 2000 lalu, sekelompok seniman Solo melahirkan genre wayang baru yang dinamakan Wayang Kampung Sebelah. Boneka wayangnya terbuat dari kulit berbentuk manusia yang distilasi. Tokoh-tokohnya, seperti halnya masyarakat kampung yang plural, terdiri dari penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, pak RT, pak lurah, hingga pejabat besar kota.
Penciptaan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah ini berangkat dari keinginan membuat format pertunjukan wayang yang dapat menjadi wahana untuk mengangkat kisah realitas kehidupan masyarakat sekarang secara lebih lugas dan bebas tanpa harus terikat oleh norma-norma estetik yang rumit seperti halnya wayang klasik. Dengan menggunakan medium bahasa percakapan sehari-hari, baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia, maka pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah ditangkap oleh penonton. Isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat masa kini, baik yang menyangkut persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, merupakan sumber inspirasi penyusunan cerita yang disajikan. Wayang Kampung Sebelah pun dapat melayani pesanan lakon dengan catatan sejauh tidak bertentangan dengan asas kebenaran dan keadilan.

FORMAT PERTUNJUKAN
Mengangkat persoalan-persoalan yang serius tidak harus dengan pengungkapan yang serius merupakan karakter pertunjukan Wayang Kampung Sebelah. Muatan sinisme, satire, hingga kritikan tajam yang begitu dominan dalam pertunjukan ini dikemas secara segar penuh humor, baik melalui format alur, penokohan, dialog maupun syair lagu iringan.
Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah tidak menggunakan iringan gamelan, melainkan menggunakan iringan musik. Lagu-lagu iringannya lebih banyak menyajikan lagu-lagu karya cipta musisi Wayang Kampung Sebelah sendiri untuk memperkuat karakter pertunjukan. Berdasarkan instrumentasi dan aransemennya, bentuk musik iringan Wayang Kampung Sebelah termasuk kategori musik alternatif. Guna lebih memperkuat aspek entertainment-nya dapat dihadirkan bintang tamu artis penyanyi / pelawak yang populer. Dalam pertunjukan Wayang Kampung Sebelah, kisah di depan layar bukanlah semata-mata milik dalang. Pemusik maupun penonton berhak nyeletuk menimpali dialog maupun ungkapan-ungkapan dalang. Dalam setiap adegan sangat dimungkinkan berlangsungnya diskusi antara tokoh wayang, dalang, pemain musik, maupun penonton. Bahkan untuk kepentingan tertentu dapat dihadirkan nara sumber untuk melakukan diskusi membahas suatu persoalan sesuai tema yang disajikan.
DURASI PERTUNJUKAN
Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah berdurasi sekitar 2 – 3 jam. Untuk kepentingan / kondisi tertentu, dapat juga menyajikan pertunjukan dalam durasi kurang dari 60 menit.
AWAK
1. Jlitheng Suparman : Dalang / Penulis Naskah
2. Yayat Suheryatna : Jimbe / Penata Iringan
3. Max Baihaqi : Gitar / Ass. Penata Iringan
4. Agung Riyadi : Flut
5. Nadias : Bas
6. Gendhot : Sexofon
7. Gusur : Drum
8. Kukuh : Kendang
9. Joko Ngadimin : Vokal
10. Dwi Jaya Syaifil Munir : Vokal
11. Cahwati : Vokal
12. Sarno B : Penata Teknis.


TOKOH – TOKOH
pak karyo istri pak Karyo



SINOPSIS
Ada seorang anak perempuan yang bernama Paramita Rasudi tengah mengadu kepada bapaknya,Pak Karyo. Dia tidak mau lagi sekolah sebab sudah beberapa bulan tidak membayar uang SPP, dan ketika membarikan alasan tersebut bapaknya justru memaki dan naik pitam.
Kemudian datanglah seorang pemuda yang bernama Kampret. dia ingin menjadi penengah namun justru membuat Pak Karyo semakin marah hingga berkelahi dan Pak Karyo mengacungkan celurit nya. namun setelah suasana hampir mereda, Kampret memberikan saran untuk meminjam uang kepada Mbah Sidik Wacono, beliau adalah orang yang dermawan untuk membantu orang yang membutuhkan biaya untuk sekolah.
Akhirnya Pak Karyo pun setuju dan mereka berdua berkunjung ke rumah Mbah Sidik Wacono. namun setelah berbincang-bincang ternyata Mbah Sidik Wacono enggan memberikan piutang. Mbah Sidik Wacono memberikan solusi untuk pergi ke kantor kelurahan dan meminta bantuan kepada pak lurah.
Lalu Pak Karyo, Kampret dan Mbah Sidik Wacono mendatangi kantor kelurahan. sesampainya di kantor kelurahan ternyata pak lurah sedang keluar. Pak satpam mengatakan bahwa pak lurah sedang rapat di daerah Tawangmangu. Pak Karyo pun pulang dengan penuh kekecewaan.
Esok harinya, Pak Karyo mengerahkan seluruh warga untuk menghancurkan seluruh bangunan kantor kelurahan tersebut sebagai wujud demo kepada pak lurah yang dianggapnya tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Warga pun yang telah diprofokatori Pak Karyo mengahncurkan seluruh bangunan beserta perabot yang ada di dalamnya hingga tiada sisa lagi. Namun di tengah-tengah suasana yang ramai itu, istri  Pak Karyo berteriak mendatangi suaminya, dia mengatakan bahwa untuk mendapat keringanan biaya sekolah, atau bahkan anaknya dapat sekolah secara gratis asalkan dapat memberikan surat keterangan tidak mampu yang di tandatangani oleh pak lurah kepada pihak sekolah.  



TANGGAPAN
Pertunjukan wayang kampong sebelah ini merupakan pertunjukan yang dapat dibilang masih muda sebab dibentuk pada tahun 16 Juli 2000 lalu , Namun dengan adanya wayang kampong sebelah ini, menjadikan pertunjukan wayang  menjadi lebih menarik karena pertunjukan wayang kampong sebelah ini mampu menyuguhkan inovasi-inovasi baru terhadap pertunjukan wayang yang telah dikenal masyarakat pada umumnya.
Menurut bentuk fisik dari wayang kampong sebelah ini hampir menyerupai gambaran manusia, berbeda dengan bentuk wayang purwa yang hanya berupa ukiran dan gambaran  manusia secara abstrak.
Dari segi cerita yang dibawakan jauh berbeda dengan cerita wayang purwa yang telah pakem yakni Mahabharata dan Ramayana. Wayang kampong sebelah mengadopsi cerita-cerita yang bertema kan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari,sehingga penonton dapat memahami alur cerita dengan mudah. Pertunjukan wayang ini juga menggunakan bahasa sehari-hari sehingga juga lebih mudah dicerna para penonton. Durasi yang diperlukan untuk sekali pertunjukan relatif singkat, hanya sekitar 2-3 jam sehingga membuat penonton tidak bosan.
Wayang kampong sebelah dapat dijadikan media pengenalan dan pembelajaran tentang pewayangan untuk anak muda,namun tidak cocok jika digunakan panutan dan tontonan anak dibawah umur,seperti anak SD,SMP, sebab bahasa yang digunakan kasar (sesuai dengan keadaan bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang berpendidikan rendah), anak dibawah umur boleh saja menonton asal didampingi oleh orang tuanya.
Pertunjukan wayang kampong sebelah yang telah saya lihat, memberikan amanat atau pesan secara tersirat bahwa seseorang harus mempu mengelola emosinya, Dikhususkan bagi orang tua dan dewasa, tidak boleh mengambil keputusan secara tergesa-gesa.

DAFTAR PUSTAKA
http://wayangkampung.blogspot.com/