semoga dengan ini, tulisan akan isi pikiran kuh bisa diwadah i, dan suatu saat q bisa nulis suatu yang bermanfaat bagi orang lain
Minggu, 29 Desember 2013
Selasa, 03 Desember 2013
muncul lagi
Dulu kau dating membawa
secerch hrapan
Jalani hidup engan
pertemanan yang tiada bosan
Kau tulus, iklas. Batinku
!
Namun ternyata
dugaanku sirna
Terbutakan oleh
suasana
Dirimu menampakkan keaslian
Dan kutemukan dlam
wujud yang nyata
Kau bukan malaikat
tanpa sayap
Juga bukan manusia
titisan kaum hawa
Aku terperangah tak
berdaya
Ketika kau dekap aku
dalam pelukmu
Larut dihanyutkan
waktu
Kau pagut
sayap-sayapku
Lalu dengan seenaknya
pergi menjauh dariku
Tinggalkan aku yang
layu
Tuhan berlaku adil
pada mahluknya
Aku berusaha menahan
luka yang menganga
Mencipta angan-angan
menghibur hati yang berduka
Butuh waktu sangat
lama
Hingga akhirnya luka
itu mongering dengan sendirinya
Aku mampu dengan lebih
baik jalani hidup dengan ranah berbeda
Tiba-tiba….
Kau hadir lagi
Dengan wujud yang
sama
Andaikan kau bersolek
lebih baik, netraku tak luput dari cerna
Malah kau tiada
berbeda
Huh,! Menyedihkan!
Lihatlah dirimu yang
berlumur dosa itu!
Apakah kau tidak
merasa malu dengan Tuhanmu???
analisis sistem stuktural cekak
Sinopsis cekak “Pancen Dudu Jodho”
Karya : Arfa Dhani Nugraha
(Makajalah
Penyebar Semangat no.49-3 Desember 2011)
Pada umumnya cekak ini menceritakan dua oran insan,
yaitu Nurul dan Dhani yang sejak kecil bersahabat,memiliki perasaan saling
mencintai tapi tak pernah dinyatakan. Suatu ketika Nurul pergi pindah rumah
tanpa pamit kepada Dhani. Hingga suatu hari Nurul datang kembali dan bertemu
dengan sahabat lamanya,Dhani.
Pada suatu hari, Dhani bertemu dengan Nurul, yang
tengah turun dari masjid setelah selesai menunaikan jamaah salat magrib.
Pertemuan yang tidak disangka-sangka setelah lima tahun berpisah , karena ayah
Nurul yang dialih tugaskan di daerah Papua dan memboyong semua anggota keluarga
kesana. Rasa kecewa yang amsih dibendung dalam hati Dhani, seketika luntur
menjadi rindhu yang tak terperi. Tutur sapa yang berlanjut obrolan seraya
berjalan pulang.
Waktu sudah menunjukan hamper tengah malam, tetapi
Dhani belum jug aterpejam. Dia masih menatap layar monitor di laptopnya, online
dan membuka blog remaja masjid yang dulu pernah dia kerjakan dengan Nurul.
Tiba-tiba saja handphone Dhani bordering, Nurul telepon mengundang Dhani agar
besok pagi mau kerumahnya.
Esoknya, jam delapan pagi, Dhani sudah duduk di
kursi ruang tamu rumah Nurul. Nurul memberikan sepucuk surat undangan untuknya.
Seketika mata Dhani terbelalak, tak percaya melihat poto prewedding Nurul
dengan seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Dhani hanya mengucapkan selamat
kepada Nurul. Lalu dia keluar dari ruangan tanpa pamit. Dengan cepat,dia pulang
dan mengambil air untuk berwudlu. Sementara Nurul yang tadi mengikuti langkah
Dhani dari belakang, kini duduk di lincak
rumah Dhani. Setelah Dhani merasa sedikit tenang, dia menemui Nurul. Dan
mengatakan yang sesungguhnya bahwa,sejak SD Dhani mencintai Nurul. Tanpa
disangka, ternyata Nurul juga memiliki perasaan yang sama terhadap Dhani, tapi
perasaan itu tidak pernah mereka sampaikan. Hingga akhirnya Nurul menikah
dengan orang lain. Sejak pertemuan itu, Nurul tidak pernah lagi berkunjung ke
rumah Dhani, begitu pula Dhani yang tidak menghadiri undangan resepsi
pernikahan Nurul.
Unsur intrinsik
1.
Tema
Tema merupakan persoalan pokok yang dibawakan
pengarang dalam sebuah cerita atau novel. Sehingga darinya dapat ditarik sebuah
alur pandangan dan cita-cita pengarang dalam karya sastranya. Tema novel sangat
lazim menjadi permasalahan utama dan seringkali persoalan yang muncul berkaitan
dengannya. Dalam Cekak ini, mengangkat tema yaitu Patah Hati.
2. Alur/plot
Alur merupakan urutan kejadian dalam sebuah cerita
yang disampaikan pada novel. Berbagai kejadian itu terhubung dengan adanya
sebab akibat, peristiwa atau permasalahan yang memunculkan masalah baru.
Peristiwa itu digambarkan melalui tingkah laku, perbuatan, atau perilaku
tokoh-tokoh dalam cerita. Novel ini memiliki Alur maju.
3. Sudut Pandang/ point of view
Sudut pandang sangat menentukan karakteristik dari
novel, umumnya sudut pandang terkait erat dengan para tokoh yang dihadirkan.
Kadang kala untuk menilai sebuah sudut pandang sebuah cerita bisa dinilai dari
beberapa tulisan awal. Karena dari situlah cerita akan dibangun dan kemudian
dikembangkan. Novel ini bersudut pandang Aku,orang
pertama tokoh utama. Pengarang sebagai orang tokoh utama.
4. Latar / setting
Latar
disebut juga setting adalah tempat ditampilkammya peristiwa itu terjadi.
Macam-macam
Latar
a) Latar Tempat
Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya
peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Penggambaran latar tempat ini
hendaklah tidak bertentangan dengan realita tempat yang bersangkutan, hingga
pembaca (terutama yang mengenal tempat tersebut) menjadi tidak yakin dengan apa
yang kita sampaikan.
a) Latar Waktu
Latar Waktu menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu
terjadi. Dalam sebuah cerita sejarah, hal ini penting diperhatikan. Sebab waktu
yang tidak konsisten akan menyebabkan rancunya sejarah itu sendiri. Latar waktu
juga meliputi lamanya proses penceritaan
b)
Latar Suasana
Latar suasana merupakan lukisan status tokoh di
dalam sebuah cerita yang ada di suatu kondisi tertentu, seperti keramaian,
kesibukan dan sebagainya.
Latar dalam cekak ini sebagai berikut :
|
No
|
TEMPAT
|
WAKTU
|
SUASANA
|
|
1
|
Depan Masjid
|
selesai jamaah
salat magrib
|
Kecewa, perbincangan
hangat
|
|
|
|
Perjalanan
pulang dari masjid
|
perbincangan
hangat
|
|
|
|
Malam jam
23.05 ketika Dhani online
|
Gembira,
PD(percaya diri)
|
|
2
|
Rumah Nurul
|
Jam 8 pagi
|
mendebarkan
|
|
3
|
Rumah Dhani
|
Setelah
wudlu,lalu Dhani menemui Nurul
|
Patah hati,
sedih , kecewa
|
5. Tokoh dan
Penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam
cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan
adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat
diketahui karakter atau sifat para tokoh itu. Penokohan dapat digambarkan
melalui dialog antartokoh, tanggapan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau
pikiran-pikiran tokoh. Melalui penokohan, dapat diketahui bahwa karakter tokoh
adalah seorang yang baik, jahat, atau bertanggung jawab.
Tokoh dan penokohan dalam Cekak ini adalah :
a)
Nurul Afridasari : tegas, ramah.
b)
Mas Dhani : pemaaf, suka
menolong,pasrah.
6. Amanat
Amanat atau tujuan pengarang yang disampaikan kepada
pembaca melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan oleh pengarang baik secara
langsung maupun tidak langsung. Artinya amanat yang disampaikan langsung
apabila amanat tersebut tersurat dalam karya sastra. Sedangkan amanat yang
disampaikan secara tidak langsung, apabila amanat tersebut tersirat dalam karya
sastra.
Amanat yang terkandung dalam novel ini antara lain :
1.
Pasrah dan iklas
menyerahkan semua urusan jodoh kepada Tuhan.
2.
Menjadi orang
yang suka memaafkan kesalahan orang lain.
3.
Tidak menyimpan
perasaan dendam.
4.
Ringan
tangan(suka menolong) nlebih-lebih kepda orang yang membutuhkan
5.
Ikut senang,
walaupun sebenarnya hati tidak berkenan(menahan sedih).
6.
Menjalin
silaturohmi dengan komunikasi yang baik agar tidak ada penyesalan.
Minggu, 01 Desember 2013
tentang kamu
Ya
Robb…
Mungkin
ini perasaanku saja, Ge_er
Yang melampaui batas sadar.
Aku
hanya tertegun ketika kau embankan kepercayaan padaku
Mulai
saat itu aku merasakan suatu pegakuan
Aku
ada
Subhanalloh
Dua
kubu saling pandang namun berbeda latar belakang
Laiknya
sastra dan seni rupa
Sorot
matamu, menyeretku masuk ke dalam pandanganmu
Ketika
kedua retina beradu, tak ada yang mampu berucap
Anggukan
ringan, seraya mengiyakan
Ketika
sedikit ngeyel yang datang menjelma keraguan
Kau
yakinkan aku mampu
Tak
urung percayakan kepadaku. Tetap aku!
Takut
ketika tiada lagi alasan untukku menyapa
Tidak
ada lagi kesempatan untuk bertemu denganmu
ajaklah aku taklukan Mahameru
Harapan
yang muncul dalam sebuah keyakinan .. keakraban terjalin dalam bingkai
kesibukan
Ketika pikiran sesak dipenuhi pandanganmu
begitu singkat,
hingga pikiran belum selesai dari tercekat
081113
Ketika bersandar memandangmu dari lt.3gd1.08.13
Selasa, 26 November 2013
gamelan jawa
Sejarah Gamelan Jawa dan Asal Usulnya – Salah satu kekayaan budaya Indonesia yang terkenal dalam bidang musik adalah seni gamelan. Gamelan banyak ditemui di berbagai daerah Indonesia. Musik gamelan terdapat di Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Tentu saja, varian alat musik yang digunakan berbeda. Baik nama maupun bentuk. Di Jawa, gamelan disebut dengan istilah gong. Terutama, sejak abad ke-18. Gamelan jawa berasal dari bahasa Jawa, gamel, yang artinya adalah alat musik yang dipukul dan ditabuh. Terbuat dari kayu dan gangsa, sejenis logam yang dicampur tembaga atau timah dan rejasa. Alat musik pengiring instrumen gamelan terdiri dari kendang, bonang, panerus, gender, gambang, suling, siter, clempung, slenthem, demung, saron, kenong, kethuk, japan, kempyang, kempul, peking, dan gong.
Asal Mula Gamelan Jawa
Awalnya, alat musik instrumen gamelan dibuat berdasarkan relief yang ada dalam Candi Borobudur pada abad ke-8. Dalam relief di candi tersebut, terdapat beberapa alat musik yang terdiri dari kendang, suling bambu, kecapi, dawai yang digesek dan dipetik, serta lonceng.
Sejak itu, alat musik tersebut dijadikan sebagai alat musik dalam alunan musik gamelan jawa. Alat musik yang terdapat di relief Candi Borobudur tersebut digunakan untuk memainkan gamelan. Pada masa pengaruh budaya Hindu-Budha berkembang di Kerajaan Majapahit, gamelan diperkenalkan pada masyarakat Jawa di Kerajaan Majapahit.
Konon, menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan itu sendiri diciptakan oleh Sang Hyang Guru Era Saka, sebagai dewa yang dulu menguasai seluruh tanah Jawa. Sang dewa inilah yang menciptakan alat musik gong, yang digunakan untuk memanggil para dewa.
Alunan musik gamelan jawa di daerah Jawa sendiri disebut karawitan. Karawitan adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan alunan musik gamelan yang halus. Seni karawitan yang menggunakan instrumen gamelan terdapat pada seni tari dan seni suara khas Jawa, yaitu sebagai berikut.
1. Seni suara terdiri dari sinden, bawa, gerong, sendon, dan celuk.
2. Seni pedalangan terdiri dari wayang kulit, wayang golek, wayang gedog, wayang klithik, wayang beber, wayang suluh, dan wayang wahyu.
3. Seni tari terdiri dari tari srimpi, bedayan, golek, wireng, dan tari pethilan.
Seni gamelan Jawa tidak hanya dimainkan untuk mengiringi seni suara, seni tari, dan atraksi wayang. Saat diadakan acara resmi kerajaan di keraton, digunakan alunan musik gamelan sebagai pengiring. Terutama, jika ada anggota keraton yang melangsungkan pernikahan tradisi Jawa. Masyarakat Jawa pun menggunakan alunan musik gamelan ketika mengadakan resepsi pernikahan.
pelengkap :
http://indodaya.blogspot.com/2013/02/sejarah-gamelan-jawa-dan-asal-usulnya.html
http://indodaya.blogspot.com/2013/02/sejarah-gamelan-jawa-dan-asal-usulnya.html
http://goblokku.wordpress.com/2011/09/14/gamelan-jawa-tengah-dan-yogyakarta/
Kajian novel panglipur wuyng
Sinopsis Novel
Berjudul “Wurung Dadi Ir”
Karya: Lien
Skd
“Wiwiting tresno jalaran soko kulino”sebuah
pepatah jawa yang telah tenar dikalangan khalayak muda. Pepatah ini kurang
lebih memiliki arti bahwa sebuah cinta dan kasih saying mampu tercipta ketika
adanya suatu kebersamaan yang terjadi secara terus-menerus. Hal ini juga
dialami oleh kusno dan Wulan yang menjadi tokoh focus dalam novel panglipur
wuyung ini.
Pertemanan yang dijalani oleh dua insan ini telah
terjalin sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga SMA. kini
mereka baru saja merampungkan ujian akhir sekolah dan menunggu pengumuman
kelulusan. Ditengah kebingungan yang menyeruak di dalam pikiran Kusno tentang
masa depan yang akan dia jalani, dia disibukkan dengan acara perpisahan dan
kusno sebagai panitianya. Sebelum berangkat ke acara perpisahan itu, Wulan
mampir kerumah Kusno untuk memberikan titipan dri ibunya untuk Kusno tapi dia
tidak berhasil menemui Kusno sebab dia telah mempersiapankan acara perpisahan
sejak pagi tadi. Tidak berapa lama setelah wulan dating, acara perpisahan
dimulai. Serangkaian acara berjalan lancer, di dalam acara inti nama kusno
dipanggil. Dia tampil diatas panggung guna mendapat penghargaan sebagai lulusan
dengan nilai terbaik di sekolahnya. Sementara itu, Wulan justru dinyatakan
tidak lulus. Wulan pun menerima dengan lapang dada sebab masih 3 hari
melaksanakan ujian akhir ia sudah jatuh sakit.
Dalam meraih masa depannya Kusno memiliki
keinginan untuk kuliah di ITB, tanpa pamit Wulan dia berniat berangkat ke
Bandung. Ketika akan melangkah keluar rumah ternyata Wulan datamg konflik pun
terjadi. Wulan marah-marah, namun setelahsemua tenang Kusno memberikan cincin (warisan
dari neneknya) yang baru saja diberi oleh ibunya guna bekal bepergian. Katanya cincin
turun-temurun itu boleh diberikan kepada oran yang dia sayang. setelah kusno
menyematkan cincin itu kepda wulan, dengan berat hati akhirnya wulan
mengiklaskan Kusno pergi ke Bndung bersama Saptana.
Ketika sampai di Bandung ternyata begitu ramai
pendaftar. Setelah beberapa hari, ujian SNMPTN berlangsung. Menunggu pengumuman
dua minggu kedepan, merupakan waktu cukup lama. Setelah mengikuti Saptana
daftar ke beberpa universitas disana, akhirnya Kusno memutuskan untuk pulang ke
kampungnya.
Ketika kusno pulang ke rumah, Wulan yang sedari
kecil sudh terbiasa berkunjung ke rumah kusno kini dating lagi. Dia kembali
merengek kepada Kusno, bahkan kali ini dia ingin ikut Kusno ke Bandung. Dengan
sikap Wuln yang seperti itu,dan saking sungkannya ibu Kusno juga meminta agar
Kusno mau mengikutsertakan Wulan dalam perginya. Dengan pertimbangan yang
matang, setelah Wulan pulang Kusno pamit untuk segera berangkat saat itu juga. Walaupun
sebenrnya dia mampir ke rumah Rijan guna meminta bantuan dana. Rijan puny aide cemerlang
yakni menjual buku-buku dan lukisan Kusno.
Setelah sampai di Bandung, Di pengumuman peneriman
mahasiswa baru nama Kusno tiada terpajang. Dari ketiga universitas yang telah
ia daftari,UNDIP, ITB,dan GAMA (sekarang UGM) Kusno tidak diterima. Kusno
sempat menangis meratapi nasib malangnya ini. Tetapi akhirnya dia sadar, andai
saja dia diterima menjadi mahasiswa pastilah akan kesulitan memenuhi biaya
registrasi dan SPP tiap semesternya,apalagi dnegan keluarga Kusno yang
tergolong tidak mampu serta anak yatim. Dengan itu, Kusno tidak puang lagi ke kampong
halamannya namun dia hanya memberi kabar pada ibunya lewat surat yang
mengabarkan Kusno akan merantau dulu.
Sementara Wulan yang telah ditinggal pergi oleh
Kusno, hanya bias mengenang dengan cincin yang telah melingkar di jari
manisnya. walaupun ada yang dating melamarnya, Wulan menolak dan tetap menanti
Kusno hingga kembali. katanya : “ aku
kasep tresna karo Mas Kusno. Aku ora bias nuruti pandjalukmu. Ija sanadjan
saiki ora genah nengndi papan parane. Mung bae aku duwe kajakinan jen deweke
bakal timbul”.
Unsur intrinsik
1.
Tema
Tema merupakan persoalan pokok yang dibawakan
pengarang dalam sebuah cerita atau novel. Sehingga darinya dapat ditarik sebuah
alur pandangan dan cita-cita pengarang dalam karya sastranya. Tema novel sangat
lazim menjadi permasalahan utama dan seringkali persoalan yang muncul berkaitan
dengannya. Dalam Novel ini, mengangkat tema panglipur wuyung, yaitu cerita yang mempunyai sifat menghibur hati
yang sedang dirundung lara. Dalam menggambarkan peristiwa-peristiwa kehidupan
pelakunya penulis menggunakan bahasa yang menyentuh perasaan pembaca, sehingga
lebih terbuka kepada siapa saja untuk mengungkapkan isi ceritanya
2. Alur/plot
Alur merupakan urutan kejadian dalam sebuah cerita
yang disampaikan pada novel. Berbagai kejadian itu terhubung dengan adanya
sebab akibat, peristiwa atau permasalahan yang memunculkan masalah baru.
Peristiwa itu digambarkan melalui tingkah laku, perbuatan, atau perilaku
tokoh-tokoh dalam cerita. Novel ini memiliki Alur maju.
3. Gaya
Bahasa
Gaya bahasa yang dibawakan oleh para pengarang
novel berbeda satu dengan lainnya. Penyebabnya bisa beragam, semisal kesukaan
dari pembuat novel, target pembaca, seting latar, tokoh-tokoh yang dimainkan
dan lain sebagainya.
4. Sudut Pandang/ point of view
Sudut pandang sangat menentukan karakteristik dari
novel, umumnya sudut pandang terkait erat dengan para tokoh yang dihadirkan.
Kadang kala untuk menilai sebuah sudut pandang sebuah cerita bisa dinilai dari
beberapa tulisan awal. Karena dari situlah cerita akan dibangun dan kemudian
dikembangkan. Novel ini bersudut pandang pengarang
sebagai orang ketiga sebagai peninjau, yaitu seolah – olah ia seperti
melihat dan mendengar keadaan yang sebenarnya.
5. Latar / setting
Latar
disebut juga setting adalah tempat ditampilkammya peristiwa itu terjadi.
Macam-macam
Latar
a)
Latar Tempat
Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya
peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Penggambaran latar tempat ini
hendaklah tidak bertentangan dengan realita tempat yang bersangkutan, hingga
pembaca (terutama yang mengenal tempat tersebut) menjadi tidak yakin dengan apa
yang kita sampaikan.
b)
Latar Waktu
Latar Waktu menggambarkan kapan sebuah peristiwa
itu terjadi. Dalam sebuah cerita sejarah, hal ini penting diperhatikan. Sebab
waktu yang tidak konsisten akan menyebabkan rancunya sejarah itu sendiri. Latar
waktu juga meliputi lamanya proses penceritaan
1)
Latar dalam
novel ini sebagai berikut :
2)
Dapur rumah
Wulan – saat wulan dating dari sekolah :
3)
Di ruang
tengah/ruang makan :
4)
Acara perpisahan
sekolah :
5)
Di kampus ITB :
6. Tokoh dan
Penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam
cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan
adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat
diketahui karakter atau sifat para tokoh itu. Penokohan dapat digambarkan
melalui dialog antartokoh, tanggapan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau
pikiran-pikiran tokoh. Melalui penokohan, dapat diketahui bahwa karakter tokoh
adalah seorang yang baik, jahat, atau bertanggung jawab.
1)
Tokoh dan
penokohan dalam novel ini adalah :
2)
Wulan
3)
Kusno Aditya
4)
Bu Soma
5)
Bapaknya Wulan
6)
Ibu Kusno
7)
Herma
8)
Saptana
9)
Rijan
10)
Tridjata
11)
Asti
7. Amanat
Amanat atau tujuan pengarang yang disampaikan
kepada pembaca melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan oleh pengarang baik
secara langsung maupun tidak langsung. Artinya amanat yang disampaikan langsung
apabila amanat tersebut tersurat dalam karya sastra. Sedangkan amanat yang
disampaikan secara tidak langsung, apabila amanat tersebut tersirat dalam karya
sastra.
Amanat yang terkandung dalam novel ini antara lain
:
Kamis, 11 Juli 2013
makalah wayang kampung sebelah
WAYANG KAMPUNG SEBELAH
Tugas Mata Kuliah Telaah Pranata
Masyarakat Jawa
Oleh :
Syafi
Rilla Sari C0112054
Prodi
Sastra Daerah untuk Sastra Jawa
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013
LATAR
KARYA
16
Juli 2000 lalu, sekelompok seniman Solo melahirkan genre wayang baru yang
dinamakan Wayang Kampung Sebelah. Boneka wayangnya terbuat dari kulit berbentuk
manusia yang distilasi. Tokoh-tokohnya, seperti halnya masyarakat kampung yang
plural, terdiri dari penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, pak RT, pak
lurah, hingga pejabat besar kota.
Penciptaan
pertunjukan Wayang Kampung Sebelah ini berangkat dari keinginan membuat format
pertunjukan wayang yang dapat menjadi wahana untuk mengangkat kisah realitas
kehidupan masyarakat sekarang secara lebih lugas dan bebas tanpa harus terikat
oleh norma-norma estetik yang rumit seperti halnya wayang klasik. Dengan
menggunakan medium bahasa percakapan sehari-hari, baik bahasa Jawa maupun
bahasa Indonesia, maka pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah ditangkap oleh
penonton. Isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat masa kini, baik yang
menyangkut persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, merupakan
sumber inspirasi penyusunan cerita yang disajikan. Wayang Kampung Sebelah pun
dapat melayani pesanan lakon dengan catatan sejauh tidak bertentangan dengan
asas kebenaran dan keadilan.
FORMAT PERTUNJUKAN
Mengangkat
persoalan-persoalan yang serius tidak harus dengan pengungkapan yang serius
merupakan karakter pertunjukan Wayang Kampung Sebelah. Muatan sinisme, satire,
hingga kritikan tajam yang begitu dominan dalam pertunjukan ini dikemas secara
segar penuh humor, baik melalui
format alur, penokohan, dialog maupun syair lagu iringan.
Pertunjukan
Wayang Kampung Sebelah tidak menggunakan iringan gamelan, melainkan menggunakan
iringan musik. Lagu-lagu iringannya lebih banyak menyajikan lagu-lagu karya
cipta musisi Wayang Kampung Sebelah sendiri untuk memperkuat karakter
pertunjukan. Berdasarkan instrumentasi dan aransemennya, bentuk musik iringan
Wayang Kampung Sebelah termasuk kategori musik alternatif. Guna lebih
memperkuat aspek entertainment-nya dapat dihadirkan bintang tamu artis penyanyi
/ pelawak yang populer. Dalam pertunjukan Wayang Kampung Sebelah, kisah di
depan layar bukanlah semata-mata milik dalang. Pemusik maupun penonton berhak
nyeletuk menimpali dialog maupun ungkapan-ungkapan dalang. Dalam setiap adegan
sangat dimungkinkan berlangsungnya diskusi antara tokoh wayang, dalang, pemain
musik, maupun penonton. Bahkan untuk kepentingan tertentu dapat dihadirkan nara
sumber untuk melakukan diskusi membahas suatu persoalan sesuai tema yang
disajikan.
DURASI PERTUNJUKAN
Pertunjukan
Wayang Kampung Sebelah berdurasi sekitar 2 – 3 jam. Untuk kepentingan / kondisi
tertentu, dapat juga menyajikan pertunjukan dalam durasi kurang dari 60 menit.
AWAK
1. Jlitheng Suparman :
Dalang / Penulis Naskah
2. Yayat Suheryatna :
Jimbe / Penata Iringan
3. Max Baihaqi : Gitar
/ Ass. Penata Iringan
4. Agung Riyadi : Flut
5. Nadias : Bas
6. Gendhot : Sexofon
7. Gusur : Drum
8. Kukuh : Kendang
9. Joko Ngadimin :
Vokal
10. Dwi Jaya Syaifil
Munir : Vokal
11. Cahwati : Vokal
12. Sarno B : Penata
Teknis.
TOKOH – TOKOH
pak karyo
istri pak Karyo
SINOPSIS
Ada
seorang anak perempuan yang bernama Paramita Rasudi tengah mengadu kepada
bapaknya,Pak Karyo. Dia tidak mau lagi sekolah sebab sudah beberapa bulan tidak
membayar uang SPP, dan ketika membarikan alasan tersebut bapaknya justru memaki
dan naik pitam.
Kemudian
datanglah seorang pemuda yang bernama Kampret. dia ingin menjadi penengah namun
justru membuat Pak Karyo semakin marah hingga berkelahi dan Pak Karyo
mengacungkan celurit nya. namun setelah suasana hampir mereda, Kampret
memberikan saran untuk meminjam uang kepada Mbah Sidik Wacono, beliau adalah
orang yang dermawan untuk membantu orang yang membutuhkan biaya untuk sekolah.
Akhirnya
Pak Karyo pun setuju dan mereka berdua berkunjung ke rumah Mbah Sidik Wacono.
namun setelah berbincang-bincang ternyata Mbah Sidik Wacono enggan memberikan
piutang. Mbah Sidik Wacono memberikan solusi untuk pergi ke kantor kelurahan
dan meminta bantuan kepada pak lurah.
Lalu
Pak Karyo, Kampret dan Mbah Sidik Wacono mendatangi kantor kelurahan.
sesampainya di kantor kelurahan ternyata pak lurah sedang keluar. Pak satpam
mengatakan bahwa pak lurah sedang rapat di daerah Tawangmangu. Pak Karyo pun
pulang dengan penuh kekecewaan.
Esok
harinya, Pak Karyo mengerahkan seluruh warga untuk menghancurkan seluruh
bangunan kantor kelurahan tersebut sebagai wujud demo kepada pak lurah yang
dianggapnya tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Warga pun yang telah
diprofokatori Pak Karyo mengahncurkan seluruh bangunan beserta perabot yang ada
di dalamnya hingga tiada sisa lagi. Namun di tengah-tengah suasana yang ramai
itu, istri Pak Karyo berteriak
mendatangi suaminya, dia mengatakan bahwa untuk mendapat keringanan biaya
sekolah, atau bahkan anaknya dapat sekolah secara gratis asalkan dapat
memberikan surat keterangan tidak mampu yang di tandatangani oleh pak lurah
kepada pihak sekolah.
TANGGAPAN
Pertunjukan
wayang kampong sebelah ini merupakan pertunjukan yang dapat dibilang masih muda
sebab dibentuk pada tahun 16 Juli 2000 lalu , Namun dengan adanya wayang
kampong sebelah ini, menjadikan pertunjukan wayang menjadi lebih menarik karena pertunjukan
wayang kampong sebelah ini mampu menyuguhkan inovasi-inovasi baru terhadap
pertunjukan wayang yang telah dikenal masyarakat pada umumnya.
Menurut
bentuk fisik dari wayang kampong sebelah ini hampir menyerupai gambaran
manusia, berbeda dengan bentuk wayang purwa yang hanya berupa ukiran dan
gambaran manusia secara abstrak.
Dari
segi cerita yang dibawakan jauh berbeda dengan cerita wayang purwa yang telah
pakem yakni Mahabharata dan Ramayana. Wayang kampong sebelah mengadopsi
cerita-cerita yang bertema kan masalah-masalah dalam kehidupan
sehari-hari,sehingga penonton dapat memahami alur cerita dengan mudah. Pertunjukan
wayang ini juga menggunakan bahasa sehari-hari sehingga juga lebih mudah
dicerna para penonton. Durasi yang diperlukan untuk sekali pertunjukan relatif
singkat, hanya sekitar 2-3 jam sehingga membuat penonton tidak bosan.
Wayang
kampong sebelah dapat dijadikan media pengenalan dan pembelajaran tentang
pewayangan untuk anak muda,namun tidak cocok jika digunakan panutan dan
tontonan anak dibawah umur,seperti anak SD,SMP, sebab bahasa yang digunakan
kasar (sesuai dengan keadaan bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang
berpendidikan rendah), anak dibawah umur boleh saja menonton asal didampingi
oleh orang tuanya.
Pertunjukan
wayang kampong sebelah yang telah saya lihat, memberikan amanat atau pesan
secara tersirat bahwa seseorang harus mempu mengelola emosinya, Dikhususkan
bagi orang tua dan dewasa, tidak boleh mengambil keputusan secara tergesa-gesa.
DAFTAR PUSTAKA
http://wayangkampung.blogspot.com/
Langganan:
Komentar (Atom)




