Rabu, 22 Mei 2013

resensi novel : Tirai Menurun

-->
Seorang Jawa dalam Lakon Wayang
Judul              : Tirai Menurun
Penulis          : Nh. Dini ( Nurhayati Sri Hardini)
Penerbit        : PT. Gramedia , Jakarta
Cetakan         : Februari 2010
Tebal              : 462 halaman + cover
ISBN               :978 – 979 – 22- 5504 – 1

Hidup dalam keserhanaan tergambar pekat dalam sosok Dasih. namanya Kidasih. setiap subuh dia harus memasak air. dandang dan ceret besar di warung harus penuh,kemudian menyapu lantai yang masih berupa lemah tanpa semen. meskipun kelihatan remeh, itulah aktifitas yang harus dilakoni bocah kecil untuk membantu Mak nya. sudah lama Mak memiliki warung. itulah sumber pengais rezeki satu – satunya yang dimanfaatkan untuk menopang segala kebutuhan Mak dan Dasih. maklum dari kecil Dasih tak pernah melihat sosok laki – laki dalam rumahnya,dia hanya hidup bersama Mak dan simbok. dari simpang siur yang didengar Dasih, bapaknya seorang kecu.
Mak ingin Dasih menjadi guru. namun dia tidak tahu bahwa Dasih tidak menyukai gurunya. oleh karena itu Dasih menjadi malas. pada suatu hari membolos dia menemukan tempat – tempat tontonan. disitulah dia mengetahui kehadiran Kridopangarso.
Suatu saat Dasih masuk sekolah siang. ketika lewat di jalanan kampong,dia bersama temannya melihat rumah yang dihias,Nampak kursi pengantin. malamnya ada sebuah tontonan tayuban di acara kawinan itu. Dasih sangat terpesona dengan ledeknya. dia ingin menjadi seperti ledek itu. keinginan yang besar menuntunnya mempelajari tari. singkat kata Dasih tergabung dalam paguyuban barnama kridopangarso. disana dia bertemu dengan orang – orang yang ahli dalam kesenian jawa. gergelut dengan gamelan, gender, ledek dan pentas panggung berupa wayang wong. disitu Dasih rajin berlatih bersama teman sebaya namanya Arum dan Sumirat. di bombing oleh Wardoyo dan Kintel.
Walau putus sekolah, disinilah karir Dasir berkembang pasat. dia bersama Kridopangarso sering diundang dan turne ke kota – kota besar. dia jarang pulang, kedekatannya dengan seluruh crew paguyupan penyebab jala – jala kasih terajut dengan sempurna. Arum kawin dengan Bromo.  Sumirat telah berumah tangga , tinggal bersama Mas Wardoyo sejak mereka kembali dari sekaten Yogya. tidak begitu lama Sumirat pun dilamar oleh Kang Kintel.
Saat menikah dengan Sumirat ynag masih perawan, Mas Wardoyo telah lebih dulu menyandang status duda. sehingga tak lama meraka hidup berama, Sumirat mendapat kabar bahwa Mas Wardoyo telah meninggal.Pak Cokro pemimpin paguyuban Kridopangarso juga telah tutup usia. tak begitu lama, Mas Tirto dalang di Krido juga sakit keras dan meninggal. apakah yang akan terjadi dengan paguyupan Krido dengan menyusutnya para crew yang pergi satu persatu ? hanya Sumirat yang tersisa. namun rasa – rasanya tancep kayon akan mendekat. nama Kridopangarso akan pula tamat.
Novel ini disusun adegan – adegan pertunjukan wayang orang, Tirai menurun menyuguhkan babak demi babak kehidupan empat tokohnya : Kedasih, Sumirat, Kintel, dan Wardoyo. pemaparan menggunakan bahasa yang campuran antara Indo dan jJawa. banyak istilah Jawa yang berserakan menyebabkan pembaca dapat memahami cerita juga memperkaya istilah Jawa. dipermudah dengan penyajian yang dilengkapi dengan catatan kaki disetiap istilah Jawa yang bertulis dengan huruf italic. 
berikut daftar sebagian istilah :
1)      siwur              : gayung yang trbuat dari tempurung kalapa, tangkainya dari bamboo atau kayu.
2)     belik               :  mata air
3)     pinjung          : cara wanita menggunakan tapih/  kain sarung untuk menutupi  badan sampai di bawah ketiak
4)     kecu                : perampok, penjahat
5)     petukon         : peningset, mahar
6)     kepancal        : ketinggalan
7)     sumeh                        : wajah cerah, suka senyum
8)    blumbang      : kolam ikan
9)     trutuk            : kereta api, semua stasiun disinggahi
10) kesripahan    : lelayu/ dukacita
11)  ngongso         : merongrong
12) tampah          : nyiru
13) nyawiji           : menyatu
14) sentono dalem : pegawai istana raja
15)  irah – irahan : kostum untuk kepala
16) ontowacono  : dialog dalam wayng
17)  mendapuk     : menyusun, merancang
18) andhap asor  : rendah hati
19) sampur          : selendang panjang untuk menari
20)                        dug der : bunyi dentuman meriam
21) meracik         : meramu
22)pesti                : garis kematian
23)kelir                : layar, dekor dalam panggung
24)geber – geber : layar , belakang  panggung yang bergambar,  berwarna
25) mbarang        : mengamen
26)waranggana : pesinden, penyanyi tembang jawa
27) bodolan         : keluar dari bangsal tempat bermusyawwarah / menghadap raja
28)                        njimpit : mengambil benda hanya dengan 3 jari
29)garapan          : pekerjaan
30)                        alum   : lunglai
31) ending            : anak perempuan dari padepokan
32)biting             : lidi yang dipotong kecil – kecil , dipakai sbg alat penggabung daun pisang, janur
33)kelat bau       : bagian kostum penari jawa, gelung di lengan penari jawa
34)mekak                        : kostum penari jawa, bagian penutup dada pada penari jawa, penari wanita pada umumnya
35) langes             : jelaga
36)panembrono : tembang puitis berisi ucapan selamat dating
37) sowan             : berkunjung kepada orang yang dihormati

1 komentar:

  1. Bagus Kak, membantu memilih buku yang ingin dibaca. Terima kasih.

    BalasHapus